Atletik Pilihan

Uniknya Mandiri Jogja Marathon, Lari Sambil Belajar

10 Mei 2019   11:58 Diperbarui: 10 Mei 2019   13:36 34 0 0

Lari merupakan sebuah kegiatan yang diminati oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Kegiatan olahraga yang memiliki berbagai manfaat ini memiliki daya tarik sendiri dan sangat digemari masyarakat Indonesia. Berbagai kompetisi lari pun diadakan di berbagai penjuru Indonesia bahkan dunia.

Mandiri Jogja Marathon, salah satu ajang kompetisi lari yang pada tahun 2019 ini akan kembali digelar untuk ketiga kalinya. Kompetisi ini merupakan kompetisi berskala internasional yang akan diikuti sekitar 7.500 pelari dari sembilan negara yang akan terbagi dalam kategori Full Marathon, Half Marathon, 10K, dan 5K.

Berbeda dengan kompetisi lari yang ada, Mandiri Jogja Marathon memiliki keunikan tersendiri. Bagaimana tidak, peserta kompetisi ini akan disuguhkan keindahan 13 desa dan 3 destinasi wisata utama seperti Candi Prambanan, Candi Plaosan dan Monumen Taruna, dimana setiap destinasi tersebut memiliki keunikan masing-masing. Selain unik, ketiga destinasi wisata utama ini juga memiliki nilai sejarah yang harus dijaga, dirawat dan dilestarikan.

Candi Prambanan

Candi Prambanan atau yang juga dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi Hindu yang mulai dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan ini merupakan tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi Sewu yang letaknya tak jauh dari Prambanan. 

Pembangunan Candi Prambanan merupakan simbol kembali berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa, setelah sebelumnya wangsa Syailendra cenderung mendukung Buddha aliran Mahayana.

Candi yang dibangun pada abad ke-9 Masehi ini memiliki letak yang sangat unik, dimana letak wilayah administrasinya berada di Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi Desa Tlogo, Prambanan, Klaten.

Selain menjadi candi Hindu terbesar di Indonesia, Candi Prambanan juga termasuk ke dalam Situs Warisan Dunia UNESCO dan menjadi salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan Candi Prambanan yang berbentuk tinggi dan ramping sangat identik dengan arsitektur Hindu pada umumnya. 

Candi Prambanan memiliki candi utama dengan ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil yang bernama Candi Siwa. Hal ini menjadikan Candi Prambanan terlihat megah dan menawan.

Keindahan Candi Prambanan yang begitu unik tidak hanya dapat dilihat ketika pagi hingga sore hari saja. Para wisatawan yang berkunjung pun dapat melihat keindahan Candi ini ketika malam dengan suguhan yang berbeda. Sorotan lampu yang berasal dari panggung terbuka Trimurti mengenai dinding candi membuat pemandangan Candi Prambanan ketika malam sangat indah dan menawan.

Selain menjadi sumber penerang Candi Prambanan ketika malam, kompleks panggung dan gedung pertunjukan Trimurti rutin menggelar pertunjukan Sendratari Ramayana. Pertunjukan sendratari ini mengisahkan bagaimana Shinta, istri Rama, diculik oleh Rahwana sang Penguasa Alengka. 

Dalam pencariannya Rama dibantu oleh Panglima bangsa wanara (kera) yang bernama Hanuman. Sendratari Ramayana akan dipentaskan di panggung terbuka ketika musim kemarau dan pementasan akan dipindahkan di panggung tertutup ketika musim penghujan. Tari Jawa Wayang orang yang merupakan tradisi adiluhung keraton Jawa inilah yang menjadi daya tarik wisata budaya dan purbakala utama di Indonesia. 

Terlebih lagi para penonton akan dimanjakan dengan latar belakang panggung Trimurti yang berlatar pemandangan megah tiga candi utama yang disinari cahaya lampu. Sendratari Ramayana ini pada mulanya hanya dipertunjukkan di keraton saja dan mulai dipertunjukan di Prambanan pada saat bulan purnama sejak tahun 1960-an.

Selain keindahan candi dan pertunjukannya, Candi Prambanan juga mulai membangkitkan kembali nilai keagamaannya dengan kembali menjadi pusat ibadah agama Hindu di Jawa semenjak meningkatnya penganut Hindu yang berasal dari Jawa dan juga pendatang dari Bali yang bermukim di Yogyakarta,  Klaten dan sekitarnya. 

Setiap tahunnya warga Hindu yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta berkumpul di Candi Prambanan untuk menggelar berbagai upacara pada hari suci Galungan, Tawur Kesanga dan Nyepi.

Candi Plaosan

Candi Plaosan, kompleks candi yang berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten Jawa Tengah merupakan monumen cinta yang mampu merekatkan perbedaan. Bukti nyata bahwa kekuatan cinta mampu menyatukan sekat perbedaan dan perbedaan bukanlah alasan untuk melenyapkan cinta.

Candi Plaosan, candi nan cantik ini dibangun oleh Rakai Pikatan sebagai perwujudan cintanya bagi sang istri Pramodyawardani. Sejatinya, Rakai Pikatan merupakan pemeluk Hindu yang berasal dari Dinasti Syailendra sedangkan istrinya, Pramodyawardani adalah pemeluk Buddha. 

Namun karena cintanya kepada sang istri, Pramodyawardani, Rakai Pikatan pun membuatkan tempat pemujaan berupa Candi Buddha yang memiliki sedikit sentuhan arsitektur Hindu.

Candi Plaosan yang dibangun pada pertengahan abad ke-9 Masehi ini memiliki 2 bagian, yakni Candi Plaosan Lord an Candi Paosan Kidul, dimana kedua candi tersebut memiliki teras segi empat yang dikelilingi dinding tempat semedi berbentuk gardu di bagian barat dan stupa di sisi lainnya. Berkat kesamaan ini, Candi Plaosan kerap disebut sebagai Candi Kembar

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2