Lail Maghfirah
Lail Maghfirah

Assalamualaikum. Salam kenal, nama saya Lailatul Maghfirah. Teman-teman bisa panggil saya, Lail. Namanya lail tapi lahirnya pagi, hehe. Asli orang banjar. Sekarang saya adalah salah satu mahasiswi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, jurusan Tafsir Qur’an semester 3. Bagi saya menulis adalah hal indah. Ia seperti rasa jatuh cinta atau seperti hujan. Ia candu namun bermanfaat. Menulis pun juga sebagai pengingat, ia seperti bumerang yang akan berbalik mengingatkanmu atau mengenaimu. Menulislah, kawan!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ternyata di Hati

14 September 2018   22:25 Diperbarui: 14 September 2018   22:40 268 1 0

Ternyata, di Hati

Lailatul Maghfirah

Aku terdiam dan termenung.  Sekarang, aku berada di taman belakang rumah tahfidz milik bundaku. Bukan rumah tahfidz yang mewah, hanya sederhana, yang berada di pelosok Bandung. Yang kusuka adalah taman ini, semua bagian dari taman ini, ayunan, bunga-bunga yang tersenyum, rerumpatan yang menghijau, bau udara dingin ini, bahkan adik-adik kecil yang berusaha menghapalkan ayat-ayatNya di taman ini, menggemaskan menurutku.  

Rumah ini dan terutama taman ini banyak menyimpan kenangan masa kecilku, dimana aku yang polos, tidak mengerti apa-apa, aku yang sok tau, pemberani, bahkan nakal.

Besok adalah salah satu hari bahagiaku, aku tersenyum bahkan tertawa, tapi nyatanya ada sedikit resah dari hatiku, tapi aku belum menemukannya.  Ya, besok adalah hari ini dimana seorang lelaki pemberani melantunkan sumpah kepada ayahku, sumpah ini yang akan menyatukan aku dan kamu, menjadi kita, bahkan keluarganya dan keluargaku. 

Siapa yang tidak bahagia, dia adalah laki-laki sholeh, hafidz, bahkan memiliki paras yang terlihat hampir sempurna dimataku bahkan dimata orang lain. Aku bahagia tapi ada sedikit resah yang harus diselesaikan. Aku pun termenung. Cukup lama. Lamunanku buyar ketika si kembar mencubit pipiku.

"Hei, Rei, Riz, awas ya, teteh bales nanti" kataku sambil mengejar si kembar.

"Kabur Riz, ayuuu" ujar Rei kepada Riz.

"Teteh mah, melamun mulu, besok kan nikah, ciyee" goda Riz padaku, ia masih berlari sambil menggandeng tangan Rei

" Ngelamunin mas Afif yaa" goda Rei sambil menjulurkan lidahnya.

Aku yang dari tadi mengejar mereka, berhenti, terlihat semburat merah di pipiku. Mereka menghampiriku lagi.

"Teteh, maaf ya, jangan marah yaa" ujar Riz.

"Teteh tuh dari tadi dipanggil bunda, kita juga udah dari tadi manggil teteh, teteh baik-baik saja?" lanjut Rei.

 "Yuu masuk ke rumah, teh Aya-ku, teteh sayangku" ujar Riz sambil memegang tanganku.

"De Rei, De Riz, teh Aya pengen disini dulu, pengen murojaah dulu, malu sama Allah kalo teteh mau nikah tapi hapalannya belum lancar, bilang ke bunda ya, sayang-sayangku, nanti teh Aya masuk sebelum shalat dzuhur, oke?" jawabku sambil melihat kedua mata adik-adiku.

"Iya teteh-kuu, sayangnya kita, tapi janji ya, sebelum dzuhur" jawab mereka hampir bersamaan dengan tingkah lucunya. Mereka berlari lagi menuju rumah, terdengar samar-samar mereka berbicara dengan bunda.

Namaku adalah Shofiyyatul Khanza Azzahra, keluargaku biasa memanggilku Aya, si kembar memanggilku Teh Aya-ku, atau kadang ada yang memanggilku Neng Aya. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, aku punya si kembar pengantin, Muhammad Reihan Ash-Shiddiq dan Rizhani Farhana Al-Humaira, Rei dan Riz aku memanggil mereka. Ayah dan bunda, mereka adalah penggiat Al-Qur'an, salah satu dari orang-orang yang ingin membumikan Al-Qur'an, menjaga Al-Qur'an, aku sangat beruntung memiliki mereka Ayah, Bunda, Rei dan Riz.

Aku melamun kembali, ditanganku ada mushaf yang seharusnya aku baca sedari tadi untuk murojaah hafalanku. Alhamdulillah, keluargaku adalah penghapal Al-qur'an, bahkan si kembar sudah punya hafalan 15 juz, insyaAllah mutqin, padahal umur mereka masih  10 tahun. Aku dan si kembar beda 12 tahun. Lamunanku terbang ke masa kecilku 10 tahun yang lalu, saat itu aku berumur 12 tahun, dimana bunda yang sibuk dengan rumah tahfidznya, dan ayah sibuk dengan kliniknya, kadang sesekali keluar kota untuk dakwah. 

Bunda lulusan Unpad jurusan keperawatan, dan Ayah lulusan Unpad jurusan pendidikan dokter, mereka bertemu di organisasi, satu tujuan, dan satu pemahaman. Tapi, karena kesibukan mereka, saat itu aku merasa tidak dipedulikan. Tepat, kelulusan sekolah dasar, kedua orangtuaku tidak bisa menghadiri acara kenaikan kelas, mereka sibuk, yang mewakili adalah nenekku. Aku marah, padahal aku mendapatkan peringkat 1 saat itu.

Saat itu, saat pulang dari acara itu, tepat pukul 5 sore, kulihat diriku saat itu masih dengan muka yang masam. Bunda datang bada maghrib, ia langsung menghapiri kamarku. Saat itu, mataku masih terlihat sembab dan bengkak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3