Transportasi Artikel Utama

Jakarta Macet, kalau Bukan Kite, Siapa Lagi?

11 Mei 2015   11:46 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:10 92 1 1
Jakarta Macet, kalau Bukan Kite, Siapa Lagi?
1432113751378921227

[caption id="attachment_418856" align="aligncenter" width="620" caption="Ilustrasi - kemacetan di Jakarta (kompas.com)"][/caption]

Kemacetan, sepertinya bukan kata yang asing lagi bagi kita karena kemacetan merupakan masalah yang pastiterjadi di negara berkembang, dan Kota Jakarta yang merupakan ibu kota negara Indonesia pun tak luput dari masalah tersebut. Jakarta menempati urutan teratas dalam daftar kota termacet di dunia menurut versi Castol’s Magnetic Stop-Start index.

Sebagai warga Kota Jakarta, tak mengenal apa pun profesi dan pekerjaannya serta apa pun status sosialnya tak akan luput dari kemacetan Kota Jakarta. Setiap hari harus melalui jalan yang macet demi mencapai tempat yang dituju. Lantas, apa penyebabnya? Siapa yang bertanggung jawab untuk mengatasi masalah ini?

Meningkatnya Volume Kendaraan

Meningkatnya volume kendaraan merupakan salah satu penyebab terbesar kemacetan Jakarta. Hal ini tidak sebanding dengan peningkatan ruas jalan di Jakarta. Hal ini juga disebabkan banyaknya pengguna kendaraan massal beralih ke kendaraan pribadi. Karena dianggap lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat dibandingkan mereka harus menggunakan transportasi massal. Sehingga banyak orang berbondong-bondong untuk memiliki kendaraan sendiri.

Pemerintah sudah menyediakan transportasi massal seperti bus Transjakarta, tetapi keterlambatan bus, dan buruknya fasilitas seperti halte, AC dan keamanan bus Transjakarta membuat warga kota beralih ke kendaraan pribadi.

Angkutan Umum

Angkutan umum sering kali menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat. Tidak jarang mereka menurunkan di tengah jalan atau bahkan di jalur bus Transjakarta. Para supir seakan tidak peduli dengan klakson berbunyi yang ditujukan untuk mereka. Mereka juga tidak peduli dengan kemacetan yang mereka sebabkan dengan menaikkan dan menurunkan penumpang, bahkan ‘ngetem’ di pinggir jalan yang jalurnya sempit.

Rusaknya Infrastruktur Jalan

Rusaknya infrastruktur jalan juga dinilai sebagai penyebab kemacetan Ibu Kota. Banyaknya jalan yang berlubang membuat kendaraan memperlambat laju kendaraannya sehingga menimbulkan kemacetan.

Pejalan Kaki

Pejalan kaki juga dibutuhkan kerja sama dalam displin menghentikan angkutan umum maupun tempat pemberhentian. Karena hal tersebut adalah salah satu faktor yang mempengaruhi angkutan umum berhenti sembarangan. Pemerintah sudah menyediakan fasilitas yang memadai, yaitu halte yang diperuntukkan sebagai tempat menaikkan dan menurunkan penumpang, faktor kedua yang mempengaruhi yaitu menyeberang sembarangan, sehingga dapat mengganggu bahkan memicu kecelakaan yang berdampak kemacetan yang cukup signifikan, hal ini juga sudah difasilitasi oleh pemerintah setempat, yaitu menyediakan fasilitas jembatan penyeberangan dan zebra cross.

Parkir Liar

Meningkatnya volume kendaraan juga berdampak pada ketersediaan parkir. Sempitnya jalan di Ibu Kota ditambah dengan banyaknya kendaraan yang memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Tentu saja menyebabkan kemacetan. Banyak negara maju yang menerapkan tilang atau derek langsungbagi kendaraan yang diparkir sembarangan. Di Jakarta sudah diterapkan sistem ini, tetapi masih saja banyak kendaraan yang diparkir sembarangan. Tarif pakir yang tergolong murah juga menjadi salah satu pemicu banyaknya parkir liar di sepanjang jalan.

Banyak negara yang mengambil kebijakan tarif parkir yang mahal, yang tidak lain tujuannya untuk menekan angka penggunaan kendaraan pribadi dan mendorong warganya untuk menggunakan transportasi publik yang ada.

Pelanggaran Lalu Lintas

Melanggar lalu lintas sudah bukan hal yang tabu lagi di Ibu Kota ini. Banyaknya kendaraan yang melawan arus, menerobos lampu merah, dan kendaraan yang masuk jalur bus Transjakarta. Jalur bus Transjakarta disediakan hanya untuk bus Transjakarta saja. Tetapi macetnya Jakarta, tidak membuat warga kota menggunakan transportasi bus Transjakarta, tetapi mengambil jalurnya. Ini yang menjadi penghambat operasional bus Transjakarta menjadi tidak maksimal. Sehingga makin banyak pengguna bus beralih ke kendaraan pribadi.

Kesimpulannya, untuk mengurangi kemacetan Jakarta diperlukan kesadaran dan kedisiplinan masing-masing kita sebagai warga Kota Jakarta. Pemerintah (yang juga warga Kota Jakarta) menyediakan fasilitas yang baik, menerapkan peraturan dan kebijakan, memperbaiki infrastruktur jalan. Dan kita sebagai warga kota bertugas untuk mematuhi peraturan tersebut, dan bersedia menggunakan fasilitas yang ada. Sebaik apa pun kebijakan pemerintah, sebanyak apa pun transportasi massal yang disediakan, apabila kita sebagai warga kota tidak mendukung, maka kemacetan akan semakin menjadi. Begitu pun sebaliknya, setertib apa pun pengguna jalan, apabila tidak didukung oleh pemerintah dengan perbaikan infrasruktur, penyediaan fasilitas yang lebih baik, kemacetan akan tetap menjadi identitas Jakarta. Jadi, kalau bukan kite, siapa lagi?