Wisata Artikel Utama

Cara Turis Mengembalikan Martabat Pangan Lokal di Mata dan Meja Warga Lokal

12 Oktober 2017   13:20 Diperbarui: 12 Oktober 2017   21:05 1341 5 3
Cara Turis Mengembalikan Martabat Pangan Lokal di Mata dan Meja Warga Lokal
Pangan lokal yang disajikan pada tamu (Dokumentasi Pribadi)

Empat jam perjalanan menembus jalan berbatu menuju Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, tepatnya ke Desa Oh Aem 2. Di sana masyarakat telah menanti kedatangan kami di Kantor Desa dalam kegiatan Tour de Kebun ke-2. Mereka menyambut dengan ramah. Tanpa berlama-lama lagi mereka lalu mengeluarkan hidangan yang yang disiapkan bagi kami.

Hari itu kami disambut juga dengan panganan lokal yang menjadi andalan mereka setiap kali kedatangan tamu, seperti arbila, singkong, pisang rebus, pisang tanah rebus, dan tak lupa dengan pelengkapnya yaitu sambal khas Timor, sambal Lu'at, madu, dan juga teh yang terbuat dari salah satu jenis pohon yang di mana masyarakat menyebutnya "kis kase". Beberapa saya kenali dan beberapa tidak. Dengan antusias mereka menjelaskan pangan lokal yang belum kami ketahui.

pisang dan singkong rebus di dampingi madu dan sambal tradisional NTT, sambal lu'at.
pisang dan singkong rebus di dampingi madu dan sambal tradisional NTT, sambal lu'at.

Ternyata pangan lokal yang mereka hidangkan dengan bangga hari itu tidak sebangga dahulu. Dulu mereka merasa malu jika harus menyajikan pangan lokal seperti singkong atau pisang rebus, atau arbila yang dikenal beracun jika salah mengelola dan lainnya. Mereka terikat pada pandangan bahwa makanan mewah seperti kue cake atau roti merupakan makanan yang "sopan" untuk menyambut tamu. 

Hal ini membuat akhirnya pengeluaran semakin besar dibutuhkan. Padahal mereka punya pangan lokal di halaman rumah dan kebun mereka yang bisa didapat dengan cuma-cuma. Tapi dengan pengertian pendamping desa dan juga dukungan pemerintah serta gereja untuk membuat aturan agar menyajikan pangan lokal setiap kali kedatangan tamu atau pada saat rapat dan acara-acara penting lainnya membuat mereka dengan bangga menaruh jejeran piring berisi pangan lokal ke meja-meja para tamu.

Bukan hanya itu saja. Saya kemudian tertarik untuk berbincang-bincang dengan beberapa orang ibu di sana. Saya penasaran apa dampaknya budi daya pangan lokal bagi kehidupan mereka. Banyak dari mereka yang setuju bahwa dengan kembali membudidayakan pangan lokal mereka dapat berhemat untuk pengeluaran teh, kopi, atau cemilan anak-anak. Selain itu jika ada kelebihan produksi mereka bisa membawanya ke pasar untuk dijual sehingga uangnya bisa di tabung untuk kebutuhan anak sekolah.

Ibu-Ibu sedang membuat Kopi dari halaman sendiri dan Teh yang terbuat dari kulit kayu yang mereka sebut Kiskase (Dokumen pribadi)
Ibu-Ibu sedang membuat Kopi dari halaman sendiri dan Teh yang terbuat dari kulit kayu yang mereka sebut Kiskase (Dokumen pribadi)

Salah seorang teman saya pernah bereaksi bahwa sorgum adalah pakan ternak. Saya tidak setuju dengan pernyataannya. Pemikiran masyarakat yang demikian yang membuat masyarakat di desa menjadi sungkan menghidangkan pangan lokal yang mereka miliki, karena mungkin dianggap tidak sopan.

Masyarakat di kota dan juga di desa, harus bersama-sama menyadari bahwa pangan lokal penting untuk terciptanya kedaulatan pangan yang berkesinambungan. Masyarakat bisa memilih untuk menanam apa yang mereka rasa dapat mencukupkan kebutuhan makan mereka dan juga dapat mendukung mereka secara ekonomi. Pangan lokal dapat membuka kesempatan itu bagi mereka ketika martabatnya kembali terangkat di meja dan mata masyarakat desa dan kota.

Para tamu yang berkunjung ke desa, mintalah masyarakat menyajikan pangan lokal dan nikmati dengan rasa syukur karena dengan demikian mereka tidak harus mengeluarkan biaya untuk membuat lagi kue atau makanan yang mereka anggap modern dan masyarakat desa harus bangga dengan pangan lokal yang mereka tanam, karena tidak semudah itu bisa di dapati di kota.

Mari dukung pangan lokal. Mari makan pangan lokal.