Mohon tunggu...
Elisabet Hasibuan
Elisabet Hasibuan Mohon Tunggu... Keep Inspiring

Mungkinkanlah Kemungkinan Itu Selama Kemungkinan Itu Masih Dapat Dimungkinkan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kisahku Mewujudkan Cerita Azkia

31 Desember 2020   23:47 Diperbarui: 31 Desember 2020   23:54 276 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisahku Mewujudkan Cerita Azkia
Tulisan Selamat Datang Mama (Dokpri)

Video perdananya akhirnya tayang di Youtube. Ia beritahu semua orang. Sanak saudara, para sahabat, juga pengikut Instagram. Ia menontonnya berulang kali. Pertama, ia mengagumi bakat aktingnya. Kedua, ia sibuk menertawakan adegan-adegannya. Ketiga, ia senyum-senyum sendiri melihat ekspresinya dalam video. Ah, sungguh pemandangannya yang indah. Yang mungkin tak bisa kudapat di lain kesempatan. Bagiku, membuat gadis kecil ini tertawa bagaikan sebuah vitamin. Sebuah kebahagiaan bisa berbagi apa yang kupunya di masa pandemi ini, yaitu mewujudkan “Cerita Azkia”.


Hari itu, 05 Februari 2020. Senyum semringah tidak menghilang dari wajah gadis berusia delapan tahun itu. Sesekali ia merapikan setelan karakter Mickey Mouse yang ia kenakan. Sudah tak sabar, katanya.  Gadis belia itu bernama Azkia. Sudah beberapa purnama ia tak bertemu dengan ibunya. Hampir satu semester rasanya ia tidak tidur didekap. Ibunya mengadu nasib ke Arab Saudi dengan harapan yang begitu besar. Ingin Azkia bersekolah sampai sukses sesukses-suksesnya. Sayang, setitik harapan itu sirna begitu cepat. Ibu memutuskan pulang secepatnya ke Tanah Air. Sebelum nyawa yang jadi taruhannya.

“Hore nanti ketemu mama,” kata Azkia untuk ke sekian kalinya. Membuatku tidak bisa lupa. Kalimat yang begitu sederhana, tapi penuh dengan makna. Penuh dengan kerinduan yang selama ini hanya bisa diluapkan lewat video call

Sepeninggal Azkia dan bapak ke bandara, aku hanya duduk termangu. Ayah dan anak itu menyewa mobil untuk menjemput orang paling berharga dalam hidup mereka. Semalam, aku membantu Azkia membuat sedikit sambutan. Ada pernak-pernik dan tulisan “Selamat Datang Mama”. Kami menggantungnya di salah satu kamar kosong. Ya, Azkia, Ibu, dan Bapak adalah keluarga yang menjaga kos tempatku tinggal. Sudah tujuh tahun aku tinggal di sini. Dari Azkia bayi sampai sebesar ini.

Aku sedikit berharap, dengan kembalinya Ibu, Azkia bisa lebih rajin belajar. Azkia bisa lebih ceria. Masih membekas dalam ingatanku ketika ia tiba-tiba berlari ke toilet umum di belakang sepulang sekolah. Lama. Tak ada suara apa pun selain gemercik air. Ketika keluar, matanya sembab. Ia lalu mengenakan mukena dan mencoba salat. Dari belakang aku melihat badan kecil itu bergerak perlahan. Menahan tangis yang membuncah. Aku merengkuhnya ke dalam pelukan. Kami menangis tanpa kata. Kasihan, anak sekecil itu harus terpisah ribuan kilometer dengan ibunya. Untunglah, mulai hari ini ia akan kembali bersua dengan sosok yang melahirkannya itu.

Sebulan berselang. Azkia mendapat begitu banyak kasih sayang sekembalinya Ibu. Ia dibelikan tas bermotif karakter LOL yang selama ini ia impikan. Dibawa ke mal. Diajak berkeliling ke satu dua tempat wisata. Sayang, perjalanan indah itu tiba-tiba harus terhenti.

02 Maret 2020. Media mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Berlokasi di Depok, Jawa Barat. Tempat aku, Azkia, Ibu, dan Bapak tinggal. Kasus pertama di Tanah Air itu hanya berjarak beberapa kilometer saja dari tempat kami tinggal. Bagaimana kami tidak panik. Apalagi pemerintah membatasi semua akses. Kami terpaksa mendekam saja di kos.

Penutupan segala akses itu bukan main dampaknya bagi Azkia. Kebahagiaannya harus direnggut sekali lagi. Ia tak bisa ke mana-mana. Sekolah tutup. Mal-mal tidak beroperasi. Tempat wisata apalagi. Mimpi-mimpi kecil Azkia untuk berkeliling bersama Ibu harus dipendam. Awalnya hanya untuk beberapa minggu. Tapi kini, sudah hampir satu tahun.

"Lagi main HP aja. Azkia bosan," jawabnya acapkali kutanya sedang apa. Sehari-hari ia duduk di kursi lobi. Pagi hari ia ikut sekolah daring. Siangnya ia mulai berpaku pada gawai bekas Bapak. Menonton ini dan itu sampai bosan. Sore hari pun begitu. Bagaimana tidak, jadwal mengaji yang tadinya rutin diadakan setiap sore terpaksa disetop. Saat sudah bosan dengan gadget, paling ia menggambar. Nanti, ia menyelipkannya dari bawah pintu kamarku. Kenang-kenangan katanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x