Mohon tunggu...
eli kristanti
eli kristanti Mohon Tunggu... Guru Bahasa Inggris

suka fotografi dan nulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Lawan Sikap Negatif Demi Indonesia Damai

4 September 2020   09:38 Diperbarui: 4 September 2020   09:47 36 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lawan Sikap Negatif Demi Indonesia Damai
Sumber: betterlyf.com

Jika pernah berkunjung ke peternakan sapi, mungkin sekilas bisa melihat kondisi peternakan dan sapi-sapi yang dipelihara para peternak. Para peternak yang tahu soal pentingnya  kebersihan dan kesehatan ternak, akan memelihara peternakannya dengan baik. Jika ada sapi sakit, mereka akan memisahkan itu dengan yang sehat. Dengan demikian sapi sehat akan terpelihara dengan baik, dan yang sakit diberi obat dan makan yang baik sehingga sembuh. Karena jika ternaknya sehat dan baik, nilai jualnya akan tinggi dan dicari oleh pasar, terlebih menjelang Idul Adha.

Sebaliknya, peternak  yang tidak acuh tak acuh terhadap teknaknya  akan membiarkan peternakannya apa adanya. Jika ada ternak yang sakit mungkin saja mereka peduli, mungkin saja tidak. Kadang ada beberapa peternak yang segera menjual sapinya saat  terlihat sakit. Bagi mereka yang terpenting ternak itu laku dijual, entah dengan harga tinggi atau harga rendah. Pada akhirnya peternakannya mungkin akan tutup dan bangkrut.

Jika memakai analogi tanpa bermaksud merendahkan, kondisi bangsa kita seperti itu. Ada yang sakit dan banyak yang sehat. Bagi yang sakit akan masuk rumah sakit atau di rumah dan minum obat dengan rajin sehingga sembuh. Sebaliknya orang yang sehat akan beraktifitas seperti biasanya dan bekerja untuk meraih cita-cita.

Soal narasi juga begitu. Dalam media dan apapun --terlebih di media sosial yang kita akrabi bersama saat ini - yang kita baca dan tulis, ada narasi yang positif maupun negative.Ada narasi yang melumpuhkan tapi ada yang membangun. Narasi-narasi itu tiap hari kita nikmati sebagian besar tanpa punya kekawatiran apapun.

Namun tahukah anda bahwa orang yang narasi negative itu akan berkawan saja dengan yang negative? Dan narasi positif akan berkawan saja dengan narasi positif?  Dalam komunikasi itu disebut dengan eco chamber.  Keduanya bekerja berdasarkan algoritma (bahasa mesin tertentu) yang mendekatkan sesuatu berdasarkan kesukaan atau minat kita. Yang suka bakwan akan dekan dengan penyuka bakwan, sedangkan yang suka burger akan dekat dengan penyuka burger.

Saat Pilpres dan Pilkada Jakarta lalu, fenomena ini terjadi dan terasa di media sosial karena prinsip kerja media sosial berdasar algoritma itu. Mereka yang memproduksi ujaran kebencian 'akan dekat' dengan orang yang sejenis, dan sebaliknya. Masing-masing mereka mengamplifikasikan (menggaungkan)  narasi mereka sehingga memberikan keteguhan bahwa hal itu benar (meski mungkin salah). Sehingga masing-masing kubu bersikeras untuk tetap memegang prinsipnya sehingga pertentangan mungkin akan terjadi.

Orang yang melihat pemerintah bertindak salah akan bertemu dan mengamplifikasikan ketidak sukaan itu. Termasuk juga orang yang bersikap takviri maupun jihad akan saling meneguhkan untuk melawan Pancasila dan aparat negara yang sah.

Kondisi inilah yang terjadi pada bangsa kita. Prespektif negative terhadap pemerintah, ketidaksukaan pada orang yang berbeda keyakinan dan perbedaan akan terus melingkupi bangsa ini. Ibarat sapi dengan status sakit atau jalanan yang berzona merah berbaur dengan sapi sehat dan zona hijau.

Jika tidak segera berbenah, seperti ilustrasi dia atas- bangsa kita yang semula toleran dan damai akan  selalu bertikai, kerdil dan akhirnya hancur.

VIDEO PILIHAN