Lingkungan

Taman Nasional Aketajawe Lolobata (Bagian 1)

14 September 2011   05:39 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:58 2160 0 0

Sekilas Taman Nasional Aketajawe Lolobata

[caption id="attachment_129940" align="alignleft" width="300" caption="Air terjun dalam kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata"][/caption] Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Nasional adalah sebuah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Sebuah taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona lain sesuai dengan keperluan. Semua yang berada di dalam kawasan taman nasional (flora, fauna, dan lingkungannya), dilindungi keberadaannya.

Saat ini, di Maluku Utara ada Taman Nasional Aketajawe Lolobata, yang terletak di Pulau Halmahera. Taman nasional ini ditunjuk berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 397/Menhut-II/2004 pada tanggal 18 Oktober 2004, atas dukungan dan rekomendasi dari pemerintah daerah setempat yaitu Bupati Halmahera Timur, Bupati Halmahera Tengah, Walikota Tidore Kepulauan, dan Gubernur Maluku Utara.

Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang ditunjuk, seluas 167.300 hektar, yang merupakan perubahan fungsi hutan. Sebelumnya kawasan ini berupa hutan lindung (91 persen), hutan produksi terbatas (5 persen), dan hutan produksi tetap (4 persen).

Sebuah taman nasional dikelola oleh unit pengelola teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, berbentuk Balai Taman Nasional (Balai TN), dalam hal ini Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sejak 2007, secara definitif Balai TN Aketajawe Lolobata terbentuk dan sekarang berkantor di Sofifi.

Balai TN Aketajawe Lolobata mempunyai tugas pokok yaitu melakukan penyelenggaraan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dan pengelolaan kawasan taman nasional berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.

Fungsi Balai TN Aketajawe Lolobata adalah: Penataan zonasi dan pengelolaan kawasan; Perlindungan dan pengamanan kawasan; Mempromosikan dan meningkatkan kesadartahuan mengenai konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem taman nasional; Kerjasama pengembangan dan kemiteraan; Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan; Pengembangan serta pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata.

Saat ini, terdapat tiga Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN), yaitu wilayah I di Weda (Halmahera Tengah), wilayah II di Maba (Halmahera Timur), dan wilayah III di Subaim (Halmahera Timur).

Lokasi dan kondisi fisik

Pulau Halmahera merupakan pulau terbesar di Propinsi Maluku Utara dengan luas 18.173 kilometer persegi. Secara geografis, Pulau Halmahera terletak pada koordinat 127024'00” - 128054'50" Bujur Timur dan 2013'20" Lintang Utara - 0054'50" Lintang Selatan. Taman Nasional Aketajawe Lolobata seluruhnya berada di daratan Pulau Halmahera yang mencakup sembilan persen dari total daratan Pulau Halmahera.

Kawasan TN Aketajawe Lolobata terbagi menjadi dua blok kawasan, yaitu blok Aketajawe (77.100 hektar) dan blok Lolobata (90.200 hektar). Blok Aketajawe berada di persimpangan empat semenanjung besar Pulau Halmahera, yang secara administratif berada di wilayah Kota Tidore Kepulauan (Kecamatan Oba Utara, Oba Tengah, dan Oba), Kabupaten Halmahera Tengah (Kecamatan Weda), dan Kabupaten Halmahera Timur (Kecamatan Wasile Selatan).

Sedangkan kawasan blok Lolobata berada di tengah semenanjung timur laut Pulau Halmahera, yang secara keseluruhan berada di wilayah Kabupaten Halmahera Timur, meliputi Kecamatan Wasile, Wasile Tengah, Wasile Timur, Wasile Utara, Maba Utara, dan Maba Tengah.

Ditinjau dari daerah aliran sungai (DAS), di dalam blok Aketajawe menjadi wilayah dan sumber mata air dari beberapa sungai, yaitu Aketobaru, Akeoba, Akepasigau, Akefumalolahi, Akelamo, Akefidi, Akekobe, Aketapaya, dan Akeparwima. Sedangkan di blok Lolobata, beberapa DAS yang bersumber dari kawasan ini, yaitu Akelamo, Akegagaili, Aketutuling, Akedodaga, Akegau, Akeluwau, Akebawas, Akeonat, Akelili, dan Akemabulan.

Secara geografis, Taman Nasional Aketajawe Lolobata memiliki karakteristik sebagai berikut:

Keanekaragaman Hayati dalam kawasan Taman Nsional Aketjawe Lolobata

Keanekaragaman hayati adalah kekayaan hidup di bumi, berupa tumbuhan, hewan, mikro-organisme, genetikayang dikandungnya, dan ekosistem yang dibangunnya menjadi lingkungan hidup. Taman Nasional Aketajawe Lolobata merupakan kawasan yang mewakili dan melindungi keanekaragaman hayati secara khusus di Halmahera.

Keragaman Ekosistem

Di dalam kawasan TN Aketajawe Lolobata, terdapat beberapa ekosistem, seperti:

Rawa darat

Rawa darat umumya berbentuk rawa sagu. Eksosistem ini sangat penting untuk jenis-jenis burung air, termasuk jenis khas Pulau Halmahera, yaitu mandar gendang (Habroptila wallacii).

Kebun/lahan budidaya

Walaupun di dalam kawasan taman nasional dilarang adanya kebun atau lahan budidaya, namun di beberapa tempat terdapat bekas lahan budidaya masyarakat yang berada di dalam kawasan. Keberadaan lahan budidaya ini turut mengundang jenis-jenis burung perkampungan, seperti jenis-jenis bondol (Lonchura spp.), isap-madu (Nectarinia spp.), sikatan kebun (Rhypidura leucophris), tekukur biasa (Streptopelia chinensis), dan sebagainya, masuk ke dalam kawasan taman nasional.

Sungai dan daerah sempadan sungai

Sungai merupakan ekosistem yang khas. Sungai juga merupakan sumber air yang banyak digunakan baik oleh manusia atau satwa liar. Keberadaan sungai merupakan perpaduan ekosistem daratan (terestrial) untuk tumbuhan dan satwa di sekitarnya, serta ekosistem lahan basah (aquatik) darat untuk tumbuhan serta satwa di dalamnya (ikan, udang, kerang, dan sebagainya). Jenis kadal air (Hidrosaurus sp.) yang ada di dalam kawasan taman nasional sangat tergantung dengan keberadaan sungai di dalam kawasan ini.

Padang rumput/alang-alang/paku-pakuan

Padang rumput atau alang-alang, walaupun dalam proporsi yang kecil namun di beberapa tempat terdapat di dalam kawasan. Umumnya merupakan daerah bekas lahan budidaya atau penebangan. Kadangkala juga lokasi ini dipenuhi oleh jenis paku-pakuan.

Hutan

Berdasarkan ketinggian, hutan di dalam taman nasional dapat dibagi menjadi:

Hutan dataran rendah (0-750 mdpl)

Hutan dataran rendah merupakan daerah yang paling umum di kawasan TN Aketajawe Lolobata. Lokasi ini merupakan lokasi terkaya akan keragaman hayati. Hasil survei Burung Indonesia di kawasan ini, 98 persen burung dijumpai di pada hutan dataran rendah ini.

Hutan dataran tinggi (750 – ke atas mdpl)

Hutan dataran tinggi di TN Aketajawe Lolobata umumnya ditandai dengan kehadiran jenis-jenis kantung semar (Nepenthes spp.) dan lumut yang mulai banyak menyelimuti batang-batang pohon, terutama pada ketinggian 800 meter ke atas dari permukaan laut. Jumlah jenis burung juga masih banyak walau tidak seberagam di hutan dataran rendah.

Berdasarkan tingkat suksesi, hutan di dalam kawasan TN Aketajawe Lolobata dapat dibagi menjadi:

Hutan primer

Hutan primer meliputi 85,94 persen dari total kawasan, yang merupakan kawasan hutan yang relatif masih belum terganggu perusakan atau perubahan habitat. Hutan primer merupakan tempat tinggal utama bagi beragam satwa liar dan tumbuhan di dalam kawasan taman nasional.

Hutan skunder

Hutan sekunder meliputi 2,66 persen dari total kawasan. Hutan ini umumnya merupakan hutan bekas tebangan atau bekas jalanlogging di dalam kawasan taman nasional. Dalam hutan sekunder biasa di dominasi oleh jenis-jenis pohon, seperti Anthocephalus chinensis, Duabanga moluccana, atau Piper aduncum. Hutan sekunder juga dapat menjadi tempat mencari makan bagi beberapa jenis mamalia seperti rusa (Cervus timorensis) babi hutan (Sus schrofa).

Keragaman Jenis

Burung

[caption id="attachment_129950" align="alignleft" width="300" caption="Kakatua Putih (Cacatua Alba), salah satu jenis satwa liar yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata"][/caption] Hasil survei keanekaragaman hayati di TN Aketajawe Lolobata (2008-2009) oleh Burung Indonesia, menunjukkan setidaknya terdapat 104 jenis (39 suku) burung di dalam kawasan taman nasional. Blok Aketajawe berhasil dijumpai lebih banyak jenis (82 jenis) dibandingkan blok Lolobata (77 jenis). Sebanyak 25 jenis burung khas (endemik) Maluku Utara berhasil di jumpai di dalam kawasan, termasuk empat jenis endemik Pulau Halmahera, yaitu mandar gendang (Habroptila wallacii), cekakak murung (Todiramphus fenubris), kepudang-sungu halmahera (Coracina parvula), dan kepudang halmahera (Oriolus phaeocromus).

Di dalam kawasan taman nasional juga dapat dijumpai jenis-jenis burung lain yang cukup menarik, seperti bidadari halmahera (Semioptera wallacii), kakatua putih (Cacatua alba), kasturi ternate (Lorius garrulus), paok halmahera (Pitta maxima), julang irian (Aceros plicatus), gosong kelam (Megapodius freycinet), beragam pergam (Ducula spp.) serta walik (Ptilinopus spp.), dan sebagainya. Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan burung-burung paling terancam dan langka secara global menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), yaitu mandar gendang, kakatua putih, kasturi ternate, cekakak murung, dan cikukua hitam (Philemon fuscicapillus).

Dari 104 jenis tersebut, 23 jenis merupakan jenis-jenis yang dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia, seperti elang tiram (Pandion haliaetus), elang bondol (Haliastur indus), junai mas (Caloenas nicobarica), nuri bayan (Eclectus roratus), raja-udang biru-langit (Alcedo azurea), bidadari halmahera, gagak cendrawasih (Lycocorax pyrrhopterus), dan sebagainya, berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 7 tahun 1999.

Mamalia

Diperkirakan setidaknya terdapat 33 jenis mamalia di dalam kawasan TN Aketajawe Lolobata. Mamalia ini meliputi jenis-jenis kuskus (seperti kuskus maluku [Phalanger ornatus]), bajing terbang (Petaurus breviceps papuanus), beragam kelelawar (ordo: Chiroptera), musang (Viviridae), babi hutan, rusa, serta beberap jenis tikus (Muridae).

Dari 33 jenis ini, enam jenis di antaranya endemik Maluku Utara (satu jenis di antaranya kuskus: Phalanger sp. merupakan jenis endemik Halmahera). Terdapat juga dua jenis endemik untuk kawasan Maluku dan Maluku Utara.

Reptilia

Diperkirakan setidaknya terdapat 53 jenis reptilia di dalam kawasan TN Aketajawe Lolobata. Beberapa di antaranya adalah kadal air (Hidrosaurus amboinensis), biawak atau soa-soa (Varanus indicus), kadal daun (Emoia sorex), kadal raksasa (Tiliqua gigas), ular python batik (Python reticulatus), ular hitam (Stegonotus batjanensis), dan diperkirakan juga masih terdapat buaya muara (Crocodilus porosus).

Dari 53 jenis tersebut, delapan jenis merupakan endemik Maluku Utara, termasuk satu jenis endemik Pulau Halmahera, yaitu jenis ular Tropidonophis punctiventris.

Amfibia

Diperkirakan terdapat 17 jenis amfibia di dalam kawasan TN Aketajawe Lolobata. Beberapa jenis di antaranya adalah jenis katak pohon hijau yang cukup umum Litoria infrafrenata, katak sungai biasa Rana papua atau katak sungai yang biasa dikonsumsi masyarakat Limnonectes grunniens. Selain itu terdapat juga katak-katak kerdil (Microhylidae) seperti jenis Oreophryne frontifasciata.

Dari 17 jenis tersebut, lima jenis endemik Maluku Utara, yang empat di antaranya endemik Pulau Halmahera, yaitu Callulops dubia, Cophixalus montanus, Hylophorbus boettgeri, dan Hyla rueppelli.

Tumbuhan

Belum ada identifikasi secara khusus dan menyeluruh, jenis-jenis tumbuhan atau vegetasi di dalam kawasan TN Aketajawe Lolobata. Namun beberapa jenis yang umum adalah damar (Agathis sp.), cemara gunung (Casuarina sumatrana), bintangur (Calophyllum inophyllum), kayu bugis (Koordersiodendron pinnatum), benuang (Octomeles sumatrana), nyatoh (Palaquium obtusifolium), serta beberapa jenis kenari (Canarium spp.).

Terdapat juga beragam jenis anggrek yang terdapat di dalam kawasan, serta jenis-jenis kantung semar (Nepenthes sp.) di daerah dataran tinggi kawasan.

Keragaman Genetika

Selain kekayaan ekosistem dan jenis, kawasan TN Aketajawe Lolobata juga menyimpan banyak keragaman genetis berupa sub-jenis endemik Pulau Halmahera. Untuk keragaman sub-jenis burung yang telah ditelaah oleh Burung Indonesia, dari 104 jenis burung yang dijumpai di kawasan taman nasional, 37 di antaranya merupakan jenis-jenis yang memiliki sub-jenis endemik untuk Maluku Utara. Bahkan lima jenis di antaranya merupakan sub-jenis endemik Pulau Halmahera, yaitu nuri-raja ambon(Alisterus amboinensis hypophonius), cekakak-pita biasa(Tanysiptera galatea browningi), kehicap tengkuk-putih(Monarcha pileatus pileatus), bidadari halmahera(Semioptera wallaciihalmaherae), dan kacamata halmahera (Zosterops atriceps fuscifrons).

Informasi lebih lanjut hubungi:

Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata: Komp. Perkantoran Pemda Provinsi Maluku Utara, Sofifi, Maluku Utara

Burung Indonesia: Jl. Dadali No. 32 Bogor 16161, Jawa Barat; Telp. 0251-8357222; Website: www.burung.org

Burung Indonesia Program Halmahera:

Jl. Seruni No.2, Kel. Kampung Pisang, Ternate 97722, Maluku Utara; Telp. 0921-3128878;                                          Email: burung.halmahera@burung.org