Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

[Cerpen] Wayang yang Tertinggal

14 Maret 2017   17:15 Diperbarui: 14 Maret 2017   22:14 1405 19 12
[Cerpen] Wayang yang Tertinggal
www.pitoyo.com

Tembang Megatruh mengalun pilu mengiringi ruh Dewi Sumbadra melayang ke alam keabadian. Para Nayaga berurai air mata. Ki dalang meraih tubuh Antareja dari simpingan sebelah kanan. Lalu mengibaskannya di depan layar, melangkahkan tubuh perkasa itu di atas jasad Dewi Sumbadra. Seketika wayang cantik yang beberapa waktu lalu tertusuk keris Burisrawa itu pun terbangun.

Tepuk tangan dan sorak sorai membahana memenuhi gedung pertunjukan. Penonton bersuka cita. Sang dalang, Ki Songgo Langit, yang nama aslinya Slamet Riyadi, mengulum secercah senyum. 

Usai sudah pagelaran seni wayang kulit malam itu.

Wayang-wayang yang semula berjejer rapi di atas sebatang pohon pisang, telah berpindah tempat.

"Pri, jangan ada yang ketinggalan ya!" Ki dalang mengingatkan. Lelaki bernama Priyono itu mengangguk. Dengan cekatan dan hati-hati ia menaikkan peti berisi properti pewayangan ke atas truk sewaan.

Pagi telah datang. Kantuk pun menyergap. Setelah semalam suntuk ikut menikmati lakon Sumbadra Larung, beberapa kali Priyono menguap. Ia menatap batang pohon pisang yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Tugasnya tinggal itu. Menyingkirkan batang berbentuk gelondong itu ke dalam bak sampah setelah terlebih dulu ia harus memotong-motongnya menjadi beberapa serpihan kecil.

Baru saja usai menutup bak sampah, seseorang menyentuh pundaknya dari belakang.

"Kang Mas Priyo..." suara merdu, mendayu, membuatnya menoleh. Lelaki itu terkesima. 

"Kau?" 

Di belakangnya telah berdiri sesosok perempuan. Mengenakan kain panjang, berkemben, memakai sumping pada kedua telinganya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. 

"Banowati," perempuan itu tersenyum ke arahnya. Tangannya yang halus terulur.

Priyono mengucek kedua matanya. Tidak salahkan penglihatannya? Sejenak Priyono menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak ada seorang pun kecuali dirinya dan perempuan berkemben itu.

"Oh, Kang Mas. Aku tertinggal. Ki dalang Songgo Langit lupa memasukkan diriku ke dalam peti bersama yang lain."

Mendengar itu seketika bulu kuduk Priyono merinding. Lelaki itu kerap mendengar, ada beberapa wayang yang sengaja 'kabur' dari dalangnya dengan alasan ingin menikmati suasana baru. Entah siapa yang pernah mengatakan hal itu. Priyono lupa.

Dan kini ia melihat dengan mata kepala sendiri. Sosok Dewi Banowati menjelma menjadi perempuan nyata di hadapannya.

"Kembalilah ke bentuk asalmu, Dewi. Aku akan mengembalikanmu kepada Ki dalang," Priyono memberanikan diri berkata. Dewi Banowati tersenyum. Hati Priyono berdesir. Seumur-umur baru kali ini ada perempuan cantik menghadiahinya sebuah senyuman semanis itu.

"Bisa kita berbincang-bincang secara santai, Kang Mas? Kulihat sejak tadi kau tegang sekali," Banowati tertawa. Priyono bagai terhipnotis mengangguk. Lalu perlahan menyeret kakinya menuju gazebo yang terletak di ujung halaman gedung.

Perempuan itu mengikutinya dengan langkah gemulai. Aroma wangi tubuhnya merebak, tercium oleh cuping hidung Priyono. 

Banowati. Dalam cerita pewayangan digambarkan sebagai sosok perempuan yang cantik dan cerdas. Banyak pria yang jatuh cinta dan ingin mempersuntingnya. Bahkan raja Hastinapura, Duryudana, pun kepincut. Ia melakukan perbuatan nekat memboyong Dewi Banowati ke istana, secara paksa, dan berharap perempuan itu bersedia menjadi permaisurinya.

Namun, hati Banowati sudah terpikat oleh ketampanan Arjuna. Itulah sebabnya ia mengajukan syarat, bersedia dinikahi Duryudana asal pada malam pernikahan mereka, Arjunalah yang memandikan dirinya. Duh....

Tentu saja Priyono mengetahui juga kisah itu. Ia bahkan hafal di luar kepala. Dan kini ketika tiba-tiba ada sosok yang mengaku bernama Banowati berdiri di hadapannya, Priyono sempat mencubit lengannya sendiri berkali-kali.

"Kang Mas, aku mulai bosan dengan kehidupanku sebagai wayang," Banowati berkata pelan setelah keduanya duduk di atas ambin gazebo. Priyono mengangkat kedua alisnya.

"Apakah...Kang Mas Arjunamu sudah tidak menarik lagi?" pertanyaan konyol itu tanpa sadar keluar dari mulut Priyono. Dan anehnya, perempuan yang mengaku sebagai Banowati itu mengangguk. 

"Lalu apa yang kau cari di sini?" Priyono bertanya gugup.

"Menemui Kang Mas...."

Seketika Priyono terdiam.

Jadi kisah itu benar. Bukan sekadar isapan jempol. Ki dalang sering menggambarkan sosok Banowati yang tidak saja jelita, tapi juga penggoda. Buktinya kali ini ia sengaja menjelma menjadi manusia hanya untuk menemui Priyono.

"Kang Mas masih bujangan, bukan?" Banowati menggeser duduknya. Priyono hampir saja mengangguk. Tapi urung. 

"Oh, jadi Kang Mas sudah beristri?" Banowati menatapnya nakal. Priyono mengangguk ragu.

"Tak apa, Kang Mas. Dulu Kang Mas Arjuna juga sudah memiliki istri ketika menginginkanku."

"Tapi aku bukan Arjuna, Dewi. Aku hanya kuli serabutan."

"Tidak masalah. Cinta tidak memandang status Kang Mas."

Priyono terperangah. 

"Aku jatuh cinta padamu, Kang Mas..." Banowati semakin merangsek. Kini lengannya bersentuhan dengan lengan lelaki itu. Priyono semakin tak berkutik.

Tangan Banowati perlahan bergerak. Meraih jemari Priyono. Lelaki itu memejamkan mata. Darah lelakinya menggelegak. 

Banowati semakin berani. Ia mendekatkan wajahnya yang ayu. Priyono gemetar.

Tapi tiba-tiba saja wajah Sulastri, istrinya, yang tengah menunggunya di rumah, berkelebat. Priyono buru-buru menepis tangan halus itu. Lalu berdiri seraya menarik napas panjang.

"Maaf, wayang nakal. Jangan mengganggu aku. Cintaku hanya untuk istriku seorang."

Priyono pun bergegas pergi meninggalkan Banowati. Tanpa menoleh lagi.

Banowati melepas kepergian lelaki itu dengan pandang kecewa. Bibirnya mengatup rapat. Matanya yang bulat menyipit. Tubuhnya yang sintal bergetar hebat. Beberapa detik kemudian tubuh indah itu menyusut, mengerut dan kaku. 

Ia telah kembali ke bentuk semula. Sebagai wayang kulit. Gepeng. 

Wayang Banowati kini tergeletak di atas ambin gazebo. Sendiri. Menunggu Ki dalang Songgo Langit datang menjemputnya.

***

Malang, 14 Maret 2017

Lilik Fatimah Azzahra