Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Saat Lelaki Itu Harus Pulang

9 November 2018   12:15 Diperbarui: 9 November 2018   18:18 1041 32 21
Cerpen | Saat Lelaki Itu Harus Pulang
Foto: unsplash.com

Harusnya kau pulang ke rumahku, Diar. Bukan ke rumah yang lain. Bisikku dalam hati. Hanya dalam hati.

Aku merasakan ada percik api cemburu yang meletup-letup, yang tentu saja tidak boleh aku biarkan. Harus segera kupadamkan.

Tidak. Aku tidak boleh berpikiran macam-macam. Aku ingin melepas kepulangan Diar ke 'rumahnya yang lain' dengan langkah ringan tanpa beban.

Toh meski begitu aku tetap tidak bisa menyembunyikan, entah perasaan apa.

Dan orang pertama yang bisa membaca perubahan air mukaku adalah Ibu.

Juga ketika aku merajuk memeluk guling seharian di dalam kamar, Ibu tak lelah bolak-balik menengokku. Menawari aku minum, atau sekadar memastikan bahwa aku baik-baik saja.

Sampai akhirnya aku tidak mampu lagi menahan gejolak hatiku. Juga pertahanan airmataku.

"Kau ingin Ibu mengatakan sesuatu, Rin?" Ibu duduk di tepi pembaringan. Tangannya yang lembut terasa hangat menyentuh ujung kakiku. Dalam isak yang nyaris tak terdengar aku mengangguk.

"Baiklah. Jika ini menyangkut masalah Diar, Ibu hanya bisa mengingatkan, hidup adalah pilihan, Rin. Kau sudah menjatuhkan pilihanmu pada lelaki itu. Dan itu berarti kau sudah siap pula menanggung semua risikonya," Ibu berkata pelan. Aku kian erat memeluk guling.

Ibu benar. Sangat benar.

"Atau kau mulai menyesali apa yang sudah menjadi pilihanmu?" Ibu membetulkan letak selimutku yang tersingkap. Aku menggeleng.

"Tidak, Bu. Bukan begitu. Aku--aku hanya tidak mengerti, mengapa aku sangat mencintai lelaki itu," aku menjawab terbata.

"Jika sudah bicara masalah cinta, Ibu rasa tidak ada yang perlu dibahas lagi. Biarkan perasaanmu mengalir. Biarkan cinta itu hadir. Jangan sekali-sekali berupaya membunuhnya. Sebab semakin kau bunuh, ia semakin tumbuh subur. Kau paham apa yang Ibu maksudkan, bukan?" Ibu berdiri, meraih tisu di atas meja lalu menyeka pipiku yang basah.

Aku terdiam. Menatap mata perempuan yang telah melahirkanku itu.

Dan dari mata tuanya aku bisa melihat banyak hal.

Termasuk bagaimana mencintai yang sesungguhnya.

***

Sabtu dan Minggu. Adalah dua hari yang ingin kuhindari--dan kulupakan. Sebab di dua hari itu aku kehilangan suara renyah Diar. Tawanya yang ceria. Juga kalimat-kalimatnya yang tak pernah bosan membangkitkan semangatku.

Masih bisa kuingat dengan baik. Bagaimana awal mula kami bercakap-cakap via telpon.

"Kupikir aku akan mendengar suara semacam petir menggelegar. Bukan suara lembut seperti alun gerimis begini," ujarnya saat pertama kali mendengar suaraku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3