Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cermin| Telaga Kasih Ibu

12 September 2017   17:28 Diperbarui: 13 September 2017   03:37 1665 14 1
Cermin| Telaga Kasih Ibu
sumber gambar : Suara dan Sentuhan-Abi Umi/ www,abiumi.com

Senja belum bergulir. Matahari masih memancarkan sinarnya meski tidak terlalu terik.  Aku terpekur di ambang jendela. Suara tawa anakku, Erika, terdengar ceria dari ruang tengah.

Kupandangi kalender yang terpampang di dinding. Astaga, ini sudah tanggal dua belas September. Bukankah besok hari ulang tahun Ibu?

Bergegas aku menuju meja kerjaku. Meraih sebuah pena dan secarik kertas. Kalimat apa yang akan kutulis untuk pengantar kado Ibu besok? Tanganku belum juga bergerak. Belum kudapatkan satu ide pun. Aku tercenung, lama, hingga suara tangisan Erika mengalihkan konsentrasiku.

Aku berdiri menghampiri buah hatiku yang tengah merengek-rengek di dalam gendongan Bik Sumi.

"Mau bobok, Nyah. Agak rewel,"  Bik Sumi mengadu. Aku segera mengambil alih, menggendong Erika dan meninabobokkan bayi mungilku itu. Sebait lagu yang dulu sering dilantunkan Ibu saat aku masih kecil, kuperdengarkan lagi di telinga Erika.

Kupandangi wajah Erika yang cantik. Wajah yang masih polos tanpa dosa. Lamunanku semakin tertuju pada Ibu. Mungkin seperti inilah dulu Ibu menyayangiku, seperti aku menyayangi Erika, tak bisa diukur dengan apa pun.

Anganku mengembara mundur ke beberapa tahun silam, saat usiaku masih remaja, saat aku belum merasakan bagaimana suka dukanya menjadi seorang Ibu.

Betapa durhakanya aku kala itu. Acap kali aku melukai perasaan Ibuku, perempuan yang telah melahirkan dan membesarkanku. Begitu sering aku membuat air matanya tumpah.

Semua gara-gara kehadiran Dani, laki-laki tampan yang membuat hatiku luluh dan rela menentang nasehat Ibuku sendiri.

"Feni, tolong dengarkan Ibu, Nduk. Jangan berhubungan lagi dengan Dani. Dia sudah berkeluarga. Jangan menjadi perusak rumah tangga orang lain," tegur Ibu saat mengetahui hubungan terlarangku dengan Dani.

"Dani sudah tidak ada kecocokan lagi dengan istrinya, Bu," sahutku ringan tanpa beban.

"Tapi, Nduk...."

"Ah, sudahlah. Ibu tidak usah mencampuri urusanku lagi."

"Astagfirullah, Feni! Aku ini Ibumu. Aku berhak mengarahkanmu jika jalan yang kau tempuh itu salah," Ibu mulai menangis. Duh, betapa jahatnya aku saat itu. Aku sama sekali tidak peduli pada perasaan Ibu. Kutinggalkan ia dalam balut kesedihan.

Dani, ia telah membutakan mata hatiku. Laki-laki tampan itu mengobral begitu banyak janji. Janji untuk segera menceraikan istrinya, janji untuk segera menikahiku, dan janji-janji manis lainnya.

Tapi janji tinggallah janji. Dani ternyata tak lebih dari seorang laki-laki pengecut. Dia pergi meninggalkan aku begitu saja setelah---merenggut semua dariku. Dia lebih memilih kembali kepada keluarganya.

Barulah terbuka mataku, setelah semua telah terjadi. Betapa bodoh dan durhakanya aku.

Dalam kehancuran hati, orang yang pertama kali kudatangi adalah Ibu. Aku menangis di pangkuannya. Memohon ampun atas kekhilafanku. Menumpahkan segala rasa bersalahku. Dan Ibu, bagai telaga bening yang teduh membasuh segala duka nestapaku tanpa mengindahkan bahwa aku pernah dan begitu sering membuatnya menangis dan kecewa.

Berkat doanya yang tulus aku bangkit dari keterpurukan. Dan berkat doanya pula kini aku telah menikah, dipersunting oleh laki-laki baik dan bertanggungjawab.

Erika menggeliat. Aku mengelus punggungnya perlahan. Bocah terkasihku itu akhirnya pulas dengan tenang di dalam pelukanku.

Sembari menggendong Erika, aku duduk kembali di depan meja kerjaku . Telah kupastikan apa yang hendak aku tulis untuk pengantar kado ulang tahun Ibu besok. Sebuah kalimat yang kuyakini Ibu pasti akan memahaminya.

"Ibu,  Selamat  Ulang  Tahun. Engkaulah  telaga  kasih  yang  tak  pernah  kering."


***

Malang, 12 September 2017

Lilik Fatimah Azzahra