Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight headline

Cerpen | Pawang Hujan

10 Agustus 2017   16:49 Diperbarui: 11 Agustus 2017   01:00 893 18 14
Cerpen | Pawang Hujan
www.twitter.com

Mendung kelabu menggelayut suram. Beberapa orang cemas menatap langit. Tak terkecuali lelaki itu. Ia sibuk mempersiapkan semuanya. Berkejaran dengan waktu.

Seikat sapu lidi ia letakkan di tengah halaman depan rumah dalam posisi berdiri. Pada ujung-ujungnya disematkan beberapa buah cabai kecil dan cabai besar, tiga siung  bawang putih dan bawang merah. Tak lupa sedikit irisan terasi yang diambil dari botekan  tempat bumbu milik istrinya di dapur.

Sejenak lelaki sepuh itu berdiri mematung. Mulutnya komat-kamit. 

"Mbah! Sudah gerimis!" suara Sugiman, cucu laki-lakinya, mengganggu konsentrasinya. Lelaki tua itu menghentikan kegiatannya sejenak.

"Masuk ke dalam rumah sana!" ia menghardik Sugiman. Bocah lanang yang baru saja disunat itu lari ke dalam pelukan simbah putrinya yang berdiri termangu di ambang pintu.

"Akungmu kalau sedang sibuk mawang, jangan diganggu," simbah putri menegur. Sugiman semakin mengkeret.

"Memang hujan takut sama Akung, ya, Uti?" Sugiman memanggil simbah putrinya dengan sebutan 'Uti'.               

"Bukan takut. Tapi hujan menyingkir akibat hawa panas yang dikeluarkan oleh ilmu Akungmu."

"Benarkah? Jadi bukan gara-gara sapu lidi dan bumbu sambel itu?" Sugiman menyipitkan kedua matanya.

"Itu hanya sesajen."

Sugiman menatap simbah putrinya lekat-lekat.

"Bukankah hujan turun itu atas kehendak Tuhan, Uti? Begitu kata Pak Guru agama di sekolah."

"Sudah. Le. Istirahat di kamarmu sana!" Simbah putri tidak menanggapi kata-kata Sugiman. Perempuan tua itu mulai ikut cemas. Gerimis turun kian rapat.

Dan benarlah. Suaminya, Mbah Satemin, yang  tengah duduk bersila berhadapan dengan sapu lidi berseru memanggil-manggil namanya.

"Nem! Cepat bantu aku!"

Perempuan tua itu bergegas menemui suaminya yang tampak mulai kewalahan menyingkirkan hujan yang mulai menari-nari.

"Tambahkan cabai kecilnya, Nem! Juga terasinya!" suara suaminya terdengar  panik. Painem, nama perempuan itu, kembali masuk ke dalam rumah, menuju dapur dan mengambil ubarampe  sesuai dengan perintah suaminya.

Kini ujung sapu lidi nyaris tak ada yang kosong.

Hujan pun mulai mereda. Langit kembali cerah.

Kedua suami istri itu bernapas lega. Mereka masuk ke dalam rumah beriringan.

Keringat dingin membasahi kening Mbah Satemin, laki-laki pawang hujan itu. Kalau sampai hujan turun dengan deras, habislah ia.

Bulan-bulan musim pengantin begini, ia memang terlihat sangat sibuk. Banyak warga yang kebetulan punya gawe minta pertolongan padanya. Dan biasanya, ia selalu sukses menjalankan pekerjaannya itu.

Ilmu pawang diperoleh dari Eyang buyutnya. Ilmu itu turun temurun. Dari sekian banyak kerabat seusianya, waktu itu, dialah yang terpilih mewarisi. Dan di kampung  di mana ia tinggal, hanya dirinya-lah satu-satunya orang yang dianggap sakti. Yang bisa menyingkirkan hujan agar tidak turun di tempat orang yang sedang punya hajat.

Sejak berpuluh tahun Mbah Satemin mengais rezeki dari kepandaiannya itu.

Tapi akhir-akhir ini lelaki yang usianya mulai uzur itu merasakan ilmu yang dikuasainya agak meluntur. Ia tidak tahu apa sebabnya. Beberapa kali ia nyaris gagal menyingkirkan hujan.

Seperti Minggu kemarin. Ia harus menerima komplain dari salah satu pemilik hajat yang jauh-jauh hari sudah menyewa jasanya. Hujan ternyata masih juga turun deras meski ia sudah berjuang mati-matian menyingkirkannya. Bahkan Painem istrinya sampai harus merelakan pakaian dalam miliknya yang sudah terpakai, dilemparkan ke atas genting sebagai alternatif lain menolak hujan. Hujan tetap tidak mau berhenti. Malah semakin deras disertai petir menggelegar.

Tentu saja orang yang punya gawe melabraknya habis-habisan.

Sejak saat itu orang-orang kampung mulai meragukan kemampuannya. Meski masih ada satu dua orang yang tetap percaya akan kemampuannya.

"Semoga kejadian seperti Minggu lalu tidak terulang lagi, Nem. Sudah bagus penyewa jasa itu tidak meminta uangnya kembali. Tapi aku merasa harga diriku sebagai pawang hujan mulai jatuh."

"Simbah yang sabar, ya. Bisa jadi mantra yang simbah baca ada yang terselip," istrinya berusaha menenangkan.

"Terselip bagaimana, Nem? Lebih dari setengah abad aku menekuni pekerjaanku ini. Bukankah selama ini semua berjalan baik-baik saja?"

"Zaman sudah berubah, Mbah. Sepertinya yang mbaureksamendung mulai bosan dengan ritual yang itu-itu juga."

"Maksudmu kita harus mengganti ubarampe sesajen? Tidak, Nem. Itu sudah pakem."

Pembicaraan terhenti. Sebab di luar hujan mendadak turun lagi dengan deras. Kedua suami istri itu kembali pontang-panting.

Sementara Sugiman lahap menikmati makan siangnya di pojok kamar. Sejak pulang sekolah perutnya belum terisi apa-apa. Dan ketika kedua simbahnya tadi asyik bercengkrama, bocah itu diam-diam melucuti cabe, bawang merah dan terasi yang disemat di ujung sapu lidi. Dengan sigap ia membuat sambel lalap penyet tempe.

Minggu lalu ia juga melakukan hal yang sama.

Tapi bukan karena sapu lidi yang kehilangan ubarampenya lantas hujan turun mengguyur. Sekali lagi, bukan karena itu.

***

Malang, 10 Agustus 2017

Lilik Fatimah Azzahra