Mohon tunggu...
Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Mohon Tunggu... Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Perempuan Berambut Perdu

13 Maret 2017   18:28 Diperbarui: 13 Maret 2017   18:37 803 14 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perempuan Berambut Perdu
id.allexpress.com

Ceritakan saja pada malam. Tentang seorang perempuan berambut perdu. Rambut yang tidak lurus juga tidak keriting, yang pada ujungnya berkelopak-kelopak, berwarna-warni. Yang pada saat memandangnya, bibirmu akan tersenyum, matamu berbinar, lalu kau ingin memetik bunga-bunga perdu itu, mencium wangi aromanya, tapi sebisa mungkin kau tahan keinginanmu karena kau tak ingin berebut dengan kupu-kupu.

Ceritakan saja. Tak usah ragu. Perempuan berambut perdu tidak akan keberatan. Malah ia merasa senang, sebab masih ada yang peduli dan sudi memperhatikannya. Meski kau--- maaf, hanya seonggok sampah yang membusuk dan telah dirubung pasukan lalat berkepala helm tentara. 

Ceritakan saja.

Ia, perempuan berambut perdu adalah mahluk yang kesepian. Ia butuh teman, yang bukan sekadar teman. Dan kini pilihannya telah jatuh padamu. 

Untuk membuka percakapan, coba kau tanyakan mengapa ia bisa memiliki rambut seunik itu. Apakah Ayah atau Ibunya juga berambut demikian? Pasti perempuan itu akan tertawa. Menatapmu sejenak lalu berputar-putar menggantung jawaban. Begitulah cara yang selalu ia lakukan untuk menutupi ketidaktahuan mengenai jati dirinya.

Ia memang tidak mengerti darimana dirinya berasal. Dan mengapa memiliki rambut yang aneh seperti itu.

Jangan menyerah. Kau bisa tanyakan sesuatu yang lain, misalnya saja, berapa jumlah helai-helai rambut perdunya. Ia pasti akan bersemangat, gegas menarik tanganmu kemudian mengajakmu duduk berhimpit di beranda. Ia tak akan ragu memintamu untuk membantunya menghitung helai demi helai rambut di kepalanya. Lalu pada hitungan ke seribu sekian, bibirmu akan lelah, matamu mengantuk, jari-jarimu merasa kesemutan, dan---tanpa sadar kau akan tertidur, pulas di atas balai-balai hingga malam menghabiskan sisa umurnya. 

Ketika kau terbangun esok hari, kau pasti sudah lupa, berapa jumlah helai rambut perempuan yang semalam duduk berhimpit di sampingmu.

"Jadi berapa rambut yang telah kau hitung semalam?" ia bertanya padamu.

"Maaf aku lupa mencatatnya," jawabmu malu-malu. Serta merta ia akan mengajakmu menghitung ulang. Tentu saja kau tak sampai hati untuk menolaknya. Karena pagi itu ia terlihat amat manis. Pipinya merona bak buah plum yang sedang ranum. 

Sekarang ia adalah teman baikmu. Kalian begitu dekat satu sama lain. Bahkan tanpa ia minta, kau dengan suka rela membantu menghitung helai demi helai rambut perdu di kepalanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x