Mohon tunggu...
Reza Sukma Nugraha
Reza Sukma Nugraha Mohon Tunggu...

Blogger\r\nhttp://elfarizi.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Gue Mental Pelamar Kerja, So What!

18 September 2010   03:46 Diperbarui: 26 Juni 2015   13:09 92 0 0 Mohon Tunggu...


Muda poya-poya, tua kaya raya, mati masuk surga. Siapa yang gak mau hidup dengan alur seperti jargon kuno tersebut? Jargon yang mengobarkan semangat hidup dengan gelimang harta dan kesenangan di dunia lantas dengan manisnya, pas mati masuk surga pula. Yang demikian, mungkin yang disebut orang dengan sukses dunia dan akhirat.

Sukses biasa dianggap orang sebagai sebuah keberhasilan. Sukses di dunia, artinya berhasil meraih segala keperluan dan kebutuhan duniawi yang kasat mata dapat diukur dengan harta melimpah, karier yang sukses, atau pangkat yang tinggi. Mendapatkan kesuksesan, secara teori, konon tak mudah juga tak sulit. Modalnya kreativitas dan kesungguhan untuk berusaha dan sukses. Betulkah?

Sebagai calon wisudawan—yang berarti secara administrasi, saya sudah menyelesaikan sakaratul mautnya para mahasiswa: sidang skripsi—saya lumayan deg-degan. Pastiorang sudah maklum, apa yang saya deg-degani (yang membuat saya deg-degan, itu kalimat pasnya). Tentu adalah PEKERJAAN! Ya, saya lumayan deg-degan, apa pekerjaan kelak yang bisa menjadi lahan penghasilan saya. Apakah sesuai dengan keilmuan, apakah cukup layak jadi profesi, apakah bisa mewujudkan cita-cita saya untuk kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, apakah dari penghasilannya selama setahun bisa kebeli rumah, dan seabreg pertanyaan yang bagi sebagian orang mungkin itu so innocent!

Mengenai hal ini, ada satu kondisi yang membuat saya memutar balik otak dengan “kegelisahan” saya itu, apakah itu “kegelisahan” yang dapat dibenarkan atau terlalu berlebihan, atau bahkan “kegelisahan” itu tidak perlu sama sekali. Kondisi ini juga membuat saya harus menaubati kegelisahan tersebut karena banyak orang di dekat saya menganggap kegelisahan semacam itu dosa besar bagi seorang sarjana, lulusan universitas, dan dosa yang sangat besar bagi seorang pemuda!

Siapa yang bilang demikian?

Tentu kawan-kawan tercinta, kawan-kawan dekat yang biasa berinteraksi dengan saya dalam satu organisasi, satu komunitas. Kebanyakan mereka menganggap “kuliah bukan untuk cari kerja” atau “wisuda bukan diniatkan untuk mencari kerja.” Pendapat lain yang sering saya terima misalnya, “Alah, jangan mau ngelamar kerja coz gak enak disuruh-suruh.” Atau yang ini, “Mending menciptakan lapangan kerja, dari pada mengharapkan belas kasihan orang.” Terus juga ada yang bilang begini, “Ah, maneh mah mental pelamar kerja, ngalamar kaditu kadieu. Kuliah teh lain jang gawe, sia teh! (Ah, kamu mah mental pelamar kerja, ngelamar kesana kesini. Kuliah itu bukan untuk bekerja!”

Ckckckck, ternyata kawan saya orang-orang kreatif. Idealismenya tinggi. Jiwa mudanya berkobar. Memang di antara mereka sudah memiliki “aktivitas” masing-masing, ada yang editor freelance, blogger, penulis buku dan artikel di media, wartawan lepas, wirausaha—dari yang sukses sampai yang belum kelihatan sukses, pekerja event organizer, penganggur “cerdas”, bahkan ada yang kerja tapi saya gak tau kerjanya apaan, pokoknya dia bilang dia gak bergantung sama perusahaan manapun.

Ya, terimakasih kawan-kawan atas ilmunya. Ilmu itu rupanya bukan sekedar klise ilmu yang hinggap di jiwa-jiwa anak muda yang idealis. Sebagian kawan sudah menunjukkan bahwa idealisme mereka tak membuat mereka gelisah dengan masa depan. Dalam kalimat lain, mereka santai dengan sikap yang mereka pilih, santai, dan nampak tak ada tuntutan apa-apa. Sedangkan mereka menganggap saya berjiwa pragmatis.

Hal itu membuat saya rada-rada “jaim” kalau bicara urusan “masa depan” setelah lulus nanti dengan mereka. Karena merasa diri “rendah” apabila tak seidealis mereka, saya selalu jawab dengan jawaban diplomatis, “Ya, selagi ada kesempatan mengabdikan ilmu untuk masyarakat.”

Namun, setelah saya kembali ke dalam kehidupan “asli” saya di kampung halaman, ternyata keadaan memaksa lain. Kedeg-deganan (alias kegelisahan) kembali muncul. Apa yang dapat saya perbuat menghadapi pertanyaan keluarga, pertanyaan masyarakat (tetangga). Apa perlu “idealisme” seperti ketika berkumpul dengan kawan-kawan ditegakkan kembali. Jujur, saya belum sanggup dan tak bisa menyembunyikan kegelisahan saya itu.

Lantas, beberapa hari ke depan, saya banyak merenung dan memikirkan sikap apa yang harus saya ambil. Keluarga saya bilang, kalau saya biasa berorganisasi, saya tidak akan kaku dalam memulai suatu pekerjaan. Ya, memang ada benarnya. Tapi, masalahnya bukan pada itu saja. Organisasi membentuk saya bersikap mandiri, tak bergantung pada siapa pun (dalam hal penghidupan ekonomi). Dengan kata lain, membentuk idealisme seorang muda yang gak melulu memikirkan makan apa nanti, kerja apa nanti.

Namun, ternyata saya pikir saya tak perlu “jaim” dengan sikap yang saya pilih, kalau saya harus “gelisah” dengan masa depan saya. Saya harus mencari kerja sesuai dengan kemampuan saya, sesuai kenyamanan saya, dan sesuai dengan segala kondisi yang memaksa saya berpikir demikian. Ini idealisme saya. Yakni, idealnya, saat ini saya harus “bekerja pada orang lain” karena kondisi dan lingkungan yang saya pikir menghendaki demikian. Kondisi dan lingkungan yang setiap individu akan mengalaminya secara berbeda-beda.

Beberapa alasan yang jadi pertimbangan saya untuk mengambil sikap dan “idealisme” versi saya sendiri itu. Pertama, saya punya cita-cita melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi dan perlu tabungan ekstra. Kedua, orang tua saya menghendaki saya berpenghasilan untuk mendukung cita-cita tersebut. Dan, upaya untuk itu adalah melamar pekerjaan pada instansi atau perusahaan tertentu. Ketiga, saya 100 % memercayai ukuran kesuksesan tergantung pada kreativitas dan saya mendambakan berwirausaha dan menyediakan lahan pekerjaan untuk orang lain. Namun kondisi materi dan psikologis saya belumlah mendukung sikap demikian.

Jadi, kawan-kawan tercinta, saya memang mental pelamar kerja, so what!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x