Mohon tunggu...
Elang Maulana
Elang Maulana Mohon Tunggu... Petani
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hanya manusia biasa yang mencoba untuk bermanfaat, bagi diri dan orang lain..

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jika Prabowo dan Puan "Kawin" pada Pilpres 2024, Siapa Untung?

5 Juni 2020   12:50 Diperbarui: 5 Juni 2020   12:48 834 16 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jika Prabowo dan Puan "Kawin" pada Pilpres 2024, Siapa Untung?
AyoSemarang.com

PESTA demokrasi lima tahunan untuk menentukan orang nomor satu dan dua di tanah air masih sekitar empat tahunan lagi, yakni pada tahun 2024 mendatang. Namun demikian aroma persaingan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres/Pilwapres) tersebut sudah tercium jauh-jauh hari.

Tidak hanya berlangsung di masing-masing internal partai politik yang sudah mulai saling intip, saling lirik bahkan saling investasi kekuatannya, baik berupa popularitas atau elektabilitas, pihak-pihak yang berada di luar arena pun sudah turut meramaikan suasana.

Siapa pihak luar dimaksud?

Siapa lagi kalau bukan lembaga-lembaga survei yang sudah mulai kasak kusuk menghitung, menganalisa dan membaca peluang sosok atau kandidat yang digadang-gadang bakal maju pada peta persaingan Pilpres/Pilwapres 2024 mendatang.

Meski, penulis rasa hasil yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga survei tersebut masih prematur dan lebih cenderung pada penggiringan opini semata. Namun begitu, tetap saja hasil yang keluar tersebut tidak bisa di nafikan. Sebab, sudah barang tentu survei itu merupakan hasil analisa, penelitian yang dibalut dengan ilmu pengetahuannya yang mumpuni.

Sejauh ini, dari beberapa hasil lembaga survei telah memunculkan sejumlah nama yang digadang-gadang menjadi kandidat kuat maju pada pesta demokrasi lima tahunan mendatang. Sebut saja beberapa diantaranya adalah Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra sekaligus Menteri Pertahanan (Menhan), Prabowo Subianto; Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan; Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil; Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; Wakil Ketua Umum Gerindra, Sandiga Uno; Ketua DPR RI, Puan Maharani dan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto.

Dari sejumlah nama kandidat di atas belum ada kejelasan siapa lawan siapa atau siapa bersanding dengan siapa karena memang seperti disebutkan di atas, Pilpres/Pilwapres masih lama dan bisa jadi mereka masih saling menjajaki dan mengintip peluang.

Tapi belakangan, muncul wacana yang berkembang bahwa hubungan Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri kian mesra. Apakah ini berarti bahwa mantan Danjend Kopasus dengan mantan Presiden RI ke-5 ini akan kembali bersanding seperti pada Pilpres 2009 lalu?

Eits, tentu saja tidak. Karena sepertinya syahwat politik Megawati Soekarno Putri sudah tidak lagi menginginkan menjadi presiden atau wakil presiden di negeri ini.

Lalu?

Beredar wacana bahwa kemesraan diantara kedua pimpinan partai tersebut di atas adalah untuk menyandingkan Prabowo Subianto dengan putrinya yang sekarang menjabat Ketua DPR RI, Puan Maharani pada Pilpres 2024 mendatang.

Berkembang kabar bahwa wacana penyandingan Prabowo dengan Puan itu adalah sebagai cara Megawati guna membayar lunas penghianatannya terhadap putra begawan ekonomi Soemitro Djoyohadikoesormo tersebut.

Sebagaimana diketahui, pada tahun 2009 lalu Megawati dan Prabowo sempat menjadi pasangan dan maju Pilpres. Namun keduanya tidak mampu mengalahkan keperkasaan lawan politiknya, SBY yang kala itu berpasangan dengan Boediono.

Tapi, kekalahan tersebut bagi Prabowo tak begitu dipersoalkan. Tak sedikit yang menganggap, bagi Prabowo pengalaman nyapres 2009 merupakan investasi politik untuk lima tahun berikutnya dengan mendapat dukungan penuh dari Megawati dan PDI Perjuangan. Bahkan, konon katanya hal tersebut telah diikrarkan melalui perjanjian batu tulis.

Yang terjadi kemudian, sama-sama kita ketahui bahwa pada Pilpres tahun 2014, Megawati dan PDIP-nya malah mengusung dan mendukung Joko Widodo (Jokowi) yang saat itu msh belum lama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sontak saja, hubungan mereka jadi renggang dan memanas.

Pada Pilpres 2014 Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa terpaksa harus berhadap-hadapan langsung dengan mantan koleganya yang telah menjatuhkan pilihan pada Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla. Hasilnya, Prabowo pun kalah.

Persaingan dan perseteruan keduanya berlanjut pada Pilpres 2019 lalu. Kembali, Prabowo yang kali ini berpasangan dengan Sandiaga Uno harus mengakui keunggulan Jokowi dan pasangannya Ma'ruf Amin yang diusung dan didukung oleh PDIP dan koalisinya.

Hubungan keduanya mulai mencair setelah beberapa waktu lalu, Prabowo diundang Megawati ke rumahnya. Bahkan disebut-sebut, mantan menantu Presiden ke-2 Soeharto ini mulai membuka pintu damai. Dan hubungan keduanya pun lebih tampak mesra.

Melihat kemesraan dari kedua tokoh nasional tersebut muncul beragam spekulasi. Dikutip dari tribunnews.com, bahwa perjanjian Batu Tulis 2009 silam antara keduanya akan terwujud di Pemilu 2024 mendatang.

Spekulasi juga menyebutkan ada niat Megawati Soekarnoputri untuk menduetkan Prabowo Subianto dengan Puan Maharani yang kini Ketua DPR RI, pada Pilres 2024 mendatang.

Lalu apa isi perjanjian batu tulis 2009 dimaksud?

Masih dikutip tribunnews.com, perjanjian Batu Tulis sesungguhnya berisikan kesepakatan Megawati akan mendukung Prabowo pada Pemilu 2014 lalu. Namun saat itu, kesepakatan tersebut tak berbuah manis.

Pertanyaannya, apakah dengan "dikawinkannya" Prabowo dengan Puan adalah bentuk penebusan penghianatan yang telah dilakukannya atau malah sebenarnya ada maksud lain?

Bagi penulis, jika motifnya sebagai bentuk penebusan penghianatan, rasanya sudah tidak relevan. Pasalnya, konstalasi politik saat ini jelas cenderung jauh berbeda. Posisi keduanya telah banyak berubah.

Penulis justru menilai, bahwa dalam posisi saat ini malah Megawati dan PDIP ingin mendompleng terhadap popularitas Prabowo. Hal ini jelas berbeda dengan tahun 2014 dan 2019 lalu, dimana Jokowi memang menjadi tokoh sentral yang sulit digoyahkan popularitas dan elektabilitasnya.

Bahkan masih dikutip dari tribunnews.com yang melansir dari Kompas.com, survei yang dilakukan Indo Barometer menunjukkan bahwa Menteri Pertahanan Prabowo Subianto adalah menteri yang paling dikenal publik.

"Saya kira wajar karena beliau adalah mantan calon presiden, dua kali," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari saat konferensi pers di Century Park Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (16/2/2020).

Dari total 1.200 responden, sebanyak 18,4 persen memilih Prabowo Subianto.

Tidak hanya sebagai menteri yang paling dikenal publik, Prabowo Subianto rupanya juga dinilai responden sebagai menteri dengan kinerja terbaik. Hal inu menurut Qodari membuat panggung politik Prabowo akan terus bertahan.

Tidak hanya itu, dalam hasil lembaga survei lainpun, nama Prabowo hampir selalu berada di jajaran rating atas. Hal ini kebalikannya dengan popularitas dan elektabilitas Puan yang masih belum bisa menyaingi Prabowo Subianto.

Adapun yang bisa menarik minat Prabowo untuk berdampingan dengan Puan, penulis rasa hanya karena kendaraan politiknya PDIP adalah masih partai paling besar di tanah air. Terbukti dengan menempati urutan pertama pada Pemilihan umum anggota legeslatif pada tahun 2019 lalu.

Jadi, jika kembali ditarik pada judul tulisan di atas, siapa yang bakal diuntungkan jika Prabowo dan Puan bersatu untuk maju Pilpres 2024 mendatang. Tentunya akan terjadi simbiosis mutualisma diantara keduanya.

Boleh jadi dalam hal popularitas dan elektabikitas personal, Puan bisa diuntungkan dengan figur Prabowo Subianto, yang dengan tiga kali pengalamannya nyapres dan pergerakannya sebagai Menhan pada waktu belakangan ini mampu mendongkarak popolularitas dirinya.

Namun jangan dilupakan pula bahwa regulasi pencalonan tidak cukup dengan popularitas individu, melainkan butuh dukungan kendaraan politik yang bisa memenuhi ambang batas atau dalam hal ini presidential threshold pencalonan kandidat lewat jalur partai minimal 20%.

Dengan kata lain jika Gerindra dan PDIP bersatu, sudah bisa dipastikan syarat ambang batas pencalonan presiden dan wakilnya sudah lebih dari cukup. Sebagaimana diketahui, hasil Pileg 2019 lalu PDIP menempati urutan pertama dengan raihan 19,33% dan Gerindra pada urutan ketiga dengan 12,57%. Jika digabungkan menjadi 31,90%.

Apakah pasangan Prabowo dengan Puan Mahahari akan benar-benar terwujud? Tentu saja menarik kita tunggu.

Salam

VIDEO PILIHAN