Mohon tunggu...
Elang Maulana
Elang Maulana Mohon Tunggu... Petani
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hanya manusia biasa yang mencoba untuk bermanfaat, bagi diri dan orang lain..

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

3 Skenario yang Bisa Terjadi Pasca Kematian George Floyd Versi SBY

4 Juni 2020   22:39 Diperbarui: 4 Juni 2020   22:45 164 13 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
3 Skenario yang Bisa Terjadi Pasca Kematian George Floyd Versi SBY
Liputan6.com

MENINGGALNYA salah seorang warga kulit hitam Amerika Serikat (AS) yang bernama George Floyd oleh para oknum aparat kepolisian Kota Minneapolis beberapa waktu lalu, rupanya berbuntut panjang.

Tidak hanya keluarga korban yang terus menuntut keadilan karena para pelaku (oknum kepolisian) masih dibiarkan bebas berkeliaran meski telah dipecat dari kesatuannya, tapi juga memantik kemarahan ratusan bahkan ribuan warga negara Paman Sam dimaksud, sehingga memaksanya untuk turun ke jalan melakukan unjuk rasa.

Pasalnya, peristiwa tragis yang menimpa George Floyd ini bukan lagi menjadi masalah kriminalitas biasa, melainkan sudah melebar pada isu rasisme atau perbedaan warna kulit. Akibatnya, berbagai bentuk kekerasan dan keributan tak bisa terelakan lagi.

Wajar, jika akhirnya kerusuhan yang terjadi di negara super power tersebut akhirnya mendapat perhatian banyak tokoh-tokoh bangsa di dunia. Salah seorang yang tidak luput memperhatikannya adalah mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam pandangan mantan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat tersebut, kerusuhan sebagai dampak dari meninggalnya George Floyd diprediksi akan memunculkan skenario-skenario lainnya. Dalam hal ini, menurutnya tidak kurang dari tiga skenario yang bakal terjadi.

Hal tersebut, SBY tuliskan dalam akun facebook pribadinya, Rabu (3/6/2020) yang diberi judul, 'Amerika, Are You Ok?'.

Ketiga skenario yang dimaksud oleh ayah dari Ketum Partai Demokrat periode 2020-2025, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini adalah, pertama, kerusuhan diredakan dengan penanganan yang tepat. Skenario kedua, unjuk rasa meluas. Skenario ketiga, pemerintah pusat AS mengambil alih pemulihan ketertiban dan keamanan serta Trump mengerahkan militer untuk penanganannya.

"Kembali kepada ketiga skenario yang mungkin terjadi di Amerika itu, saya hanya akan menyoroti skenario ketiga. Mengapa secara khusus saya soroti, karena ini membawa risiko dan konsekuensi yang tidak kecil. Baik secara politik, hukum, sosial maupun keamanan. Juga berdampak pada citra Amerika Serikat di dunia," ujar SBY. Dikutip dari detikcom.

Namun SBY tidak berharap Presiden AS Donald Trump menggunakan kekuatan militer untuk pemulihan ketertiban pascakerusuhan. Kecuali, kata SBY, jika situasi benar-benar genting.

"Sebagai sahabat Amerika, saya sungguh tidak berharap skenario ketiga ini yang terjadi. Atau opsi untuk menggunakan kekuatan militer (US Army) ini yang akan ditempuh. Kecuali kalau situasinya memang sangat gawat dan keamanan nasional negara itu benar-benar terancam," ujar SBY.

"Pertanyaannya sekarang adalah apakah memang ada keinginan dan rencana Presiden Trump untuk mengerahkan kekuatan militer itu? Jawabannya ada," imbuhnya.

Masih dikutip detikcom, SBY menduga saat, Trump secara eksplisit akan mengerahkan militer adalah sebagai bentuk kecewa terhadap gubernur dan wali kota setempat yang dinilai gagal meredakan situasi.

Ya, seperti telah disinggung sekilas pada paragraf di atas, dalam beberapa hari terakhir, Negara Amerika Serikat (AS) tengah memanas. Negeri Paman Sam ini tengah dihadapkan dengan aksi demo warga masyarakatnya hingga menjurus ke penjarahan dan perusakan. 

Sebagaimana diketahui, pemicunya adalah terjadinya peristiwa pembunuhan oleh salah seorang aparat kepolisian Kota Minneapolis terhadap salah seorang warga kulit hitam yang bernama George Floyd.

Floyd menghembuskan nafas terakhirnya setelah mendapatkan penganiayaan denyan cara lehernya ditekan oleh lutut oknum polisi dimaksud.

Terang saja, kematian Floyd di tangan polisi ini pun memicu kemarahan publik, khususnya warga kulit hitam. Mereka turun ke jalan dan bentrok dengan polisi hingga akhirnya meluas ke hampir seluruh AS.

Bahkan tak hanya itu, mereka pun menjarah toko-toko dan membakarnya. Situasi ini membuat AS benar-benar mencekam dan memanas. Karena tidak hanya sebatas meminta keadilan atas meninggalnya Floyd, namun juga mendemo tentang masih adanya isu rasisme. Padahal, AS terkenal sebagai negara dengan tingkat demokrasi tinggi.

Tidak hanya masyarakat sipil biasa yang turun ke jalan untuk melakukan unjuk rasa besar-besaran. Melainkan sejumlah public figure pun ada juga yang terlibat. Khususnya beberapa bintang atlit bola basket liga profesional Amerika Serikat (NBA).

Sampai turunnya para public figure tersebut jadi demonstran, menurut hemat penulis membuktikan bahwa peristiwa pembunuhan George Floyd dan isu rasisme di Negara yang dipimpin oleh Donald Trump ini adalah masalah yang sangat serius dan harus dicarikan pemecahan masalahnya.

Benar seperti apa yang dituliskan oleh SBY bahwa Presiden AS, Donald Trump geram dan memerintakan pihak keamanan, baik dari tentara maupun kepolisian untuk menghalau para demostran.

Hanya saja, sebenarnya keputusan Trump ini tidak disetujui bahkan ditolak oleh para pejabat yang berada di bawahnya. Karena dianggap hanya akan lebih memperkeruh suasana dan berpotensi makin masifnya penyebaran virus corona di AS.

Kenapa?

Karena, seiring dengan terjadinya peristiwa pembunuhan hingga berujung kerusuhan yang meluas hingga hampir ke seluruh negara bagian, negara AS tengah dihadapkan pada kondisi krisis akibat penyebaran pandemi virus corona atau covid-19.

Bahkan, negara adidaya ini diklaim sebagai negara paling parah terdampak oleh virus asal Wuhan, China tersebut. Betapa tidak, sudah lebih satu jiwa terkomfirmasi positif terinfeksi virus dimaksud dengan tak kurang dari 100 ribu jiwa diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Penulis hanya berharap, kerusuhan yang terjadi di AS bisa segera teratasi dengan baik tanpa harus menelan korban jiwa lebih banyak lagi. 

Bagaimanapun, pada dasarnya dalam setiap kerusuhan si negara manapun hanya akan menyisakan kerugian besar baik materi maupun inmateri bahkan nyawa jika masing-masing tidak mampu menahan diri.

Salam

VIDEO PILIHAN