Mohon tunggu...
Elang Salamina
Elang Salamina Mohon Tunggu... Dengan kata hidup lebih bermakna

Hanya manusia biasa yang mencoba untuk bermanfaat, bagi diri dan orang lain..

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Timnas Italia Berjaya, Terbuang, Menang, dan Menantang

17 November 2019   13:56 Diperbarui: 17 November 2019   13:59 0 18 8 Mohon Tunggu...
Timnas Italia Berjaya, Terbuang, Menang, dan Menantang
Sumber : iNews/ skuad Timnas Italia pada babak kualifikasi piala Eropa 2020

KATA Pepatah siklus kehidupan itu bagai roda berputar, kadang di atas dalam puncak kejayaan, kadang di bawah, terpuruk hingga akhirnya terbuang Setuju? Ya, memang. Tapi, hal ini bukan berarti kita pasrah pada nasib. Tetap saja, kehidupan itu harus diperjuangakan. 

Dengan kata lain, jika kita sedang di atas, tentunya harus berjuang bagaimana caranya mempertahankan posisi bahkan meningkatkannya ke level lebih tinggi.
Pun, ketika kita sedang terpuruk atau berada di bawah. Pastinya tidak bisa mengandalkan nasib untuk bisa kembali ke atas. Butuh semangat, dan kerja keras agar mampu kembali berada di atas.

Sumber : TEMPO.co/ Timnas Italia saat gagal lolos ke piala dunia 2018
Sumber : TEMPO.co/ Timnas Italia saat gagal lolos ke piala dunia 2018

Dalam dunia sepak bola, siklus kehidupan acap kali terjadi. Sebagai contoh adalah apa yang pernah menimpa Timnas Sepak bola Italia. Tim sepak bola asal Negeri Piza ini pernah mengalami puncak-puncak kejayaan. Terbukti, mereka pernah merajai sepak bola dunia sebanyak empat kali, yaitu tahun 1934, 1938, 1982 dan 2006. Jumlah trophy ini identik dengan Jerman yang sukses diraihnya pada tahun 1954, 1974,1990 dan 2014. Serta, hanya kalah oleh Brazil yang sukses meraihnya sebanyak lima kali (1958, 1962, 1970, 1994 dan 2002). Sementara untuk pentas Eropa, Timnas Italia juga pernah merasakan puncak kejayaan pada tahun 1968.

Dengan sederet trophy tersebut menjadikan timnas Italia sebagai salah satu pusat kekuatan sepak bola dunia. Hampir dalam setiap turnamen bergengsi, seperti piala eropa dan piala dunia, mereka selalu dijadikan unggulan dan pavorit juara.

Sayang, setelah terakhir kali menyabet trophy piala dunia 2006, perlahan tapi pasti prestasi timnas Italia melempem. Sebut saja, pada kejuaraan piala dunia 2014 di Brazil, mereka tak mampu lolos dari babak penyisihan grup D, kalah bersaing dengan Kosta Rika dan Uruguay. Dua tahun kemudian, pada kejuaraan piala Eropa. Langkah Italia pun harus terhenti di babak 16 besar setelah kalah melalui babak tos-tosan dari timnas Jerman.

Puncaknya terjadi pada tahun 2018 lalu. Timnas Italia harus mengubur dalam-dalam impiannya bermain di kejuaraan sepak bola paling akbar sejagad raya. Karena tidak berhasil lolos babak kualifikasi piala dunia 2018 di Rusia. Di pertandingan akhir babak play off, anak asuh Gian Piero Ventura ini kalah dari timnas Swedia. P

Sumber : Okezone.com/ Timnas Italia saat juara piala dunia 2006
Sumber : Okezone.com/ Timnas Italia saat juara piala dunia 2006
enulis, masih ingat betul, bagaimana penjaga gawang kawakan sekaligus kapten tim, Gianluigi Bufon menangis seperti anak kecil karena tidak mampu menahan sedih dan kekecewaannya.

Dampak dari kegagalan ini sangat tidak bisa diterima oleh para pendukung panatiknya. Tidak ada lagi puja-puji atau elu-eluan suporter seperti yang pernah dirasakan pada tahun 2006 saat menyabet gelar piala dunia terkahir kalinya. Sebaliknya, hanya caci maki dan akhirnya ditinggalkan pendukung. Timnas Italia pun seolah terbuang dari kancah sepak bola dunia.

Seperti orang bijak bilang, hidup tidak akan berubah hanya dengan meratapi nasib. Kita harus bangkit untuk menatap masa depan lebih baik. Itulah yang dilakukan timnas Italia. Paska tidak lolosnya ke piala dunia 2018, federasi sepak bola Italia (FIGC) langsung berbenah diri. Hal awal yang mereka lakukan tentunya memecat Ventura dari kursi kepelatihan dan mencari palatih yang dianggap mampu mengembalikan kembali kejayaan Italia.

PSSI-nya Italia pun mulai mencari sosok pelatih yang tepat. Setidaknya ada empat nama pelatih jempolan yang masuk. Sebut saja, Antonio Conte, Carlo Anceloti, Massimiliano Allergi dan Roberto Mancini. Seluruhnya merupakan pelatih lokal yang sudah mempunyai reputasi dan prestasi jempolan di kancah sepak bola antar klub-klub Eropa. Namun akhirnya pilihan jatuh pada Roberto Mancini. Sosok pelatih yang pernah sukses membawa klub Inggris, Manchester City menjuarai liga primer.

Dari tangan Roberto Mancinilah akhirnya masa depan sepak bola Italia digantungkan. Pelatih yang semasa mainnya merupakan tandem sehati Viali di timnas, mulai merombak skuad yang dianggapnya tidak mampu lagi bermain dan bersaing dengan tim-tim eropa dan menggantinya dengan para pemain muda potensial. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x