Mohon tunggu...
Ekriyani
Ekriyani Mohon Tunggu... Guru - Guru

Pembelajar di universitas kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Banjir Terulang Lagi

18 Januari 2021   21:08 Diperbarui: 19 Januari 2021   04:52 118
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Suasana jalanan penuh air | Dokpri

Hari ini, terulang lagi kenangan tahun lalu. Banjir. Ya, apa lagi yang bisa saya tuliskan selain itu saat ini. Air mata seakan sudah mulai kering. Tak ada yang banyak saya lakukan saat ini, selain mencurahkannya pada diary Kompasiana ini.

Sekitar satu minggu yang lalu memang Kalsel dilanda banjir. Hampir seluruh kabupaten dilanda banjir. Untuk kabupaten kami sejak kemaren dapat kiriman air. Begitu cepat rasanya air naik. Mata saya sebentar sebentar memandang ke arah dinding rumah, penasaran seberapa bertambah tinggi permukaan air. Sembari seluruh anggota keluarga berberes-beres barang penting terlebih dahulu, seperti berkas ijazah, surat- surat penting, sertifikat rumah, dan lain sebagainya.

Padahal baru saja kemaren air menggenangi teras rumah. Saya pun masih tenang menyetrika pakaian dinas sekolah untuk satu minggu sampai selesai. Mata saya pun terus saja melirik ke arah teras rumah. Ya, nampak tak ada penambahan debit air sama sekali.

Malam tadi, karena kesibukan saya setiap hari minggu itu padat, mengerjakan pekerjaan rumah yang sambung menyambung sampai nyetrika pakaian untuk satu minggu, ternyata mata saya begitu ngantuk. Mungkin karena capek, saya pun tertidur begitu pulasnya.

Menjelang subuh, saya dibangunkan suami. Beliau bilang air sudah masuk rumah. Saya kaget dan segera berzikir. Kemudian saya menengok ke ruang tengah, dan betul saja air sudah menggenangi sebatas mata kaki orang dewasa.

Saya langsung bertanya, dimana karung-karung berisi pakan ikan? Kebetulan kami memelihara ikan patin, walaupun tak banyak. Suami bilang bahwa karung-karung tersebut sudah diangkut ke ruang dapur. Benar saja, karung-karung pakan ikan sudah tersusun rapi.

Bergegas saya segera membangunkan anak-anak dan mengajak mereka shalat subur berjamaah. Setelah itu saya menyiapkan makan pagi untuk mereka. Setelah makan pagi saya bersiap berangkat ke sekolah.

Hampir sepanjang jalan di kampung saya, dan kampung yang lain semuanya pada tenggelam. Saya masih bersyukur sepeda motor yang saya gunakan tidak mengalami mogok. Andai saja mogok, bagaimana harus melanjutkan perjalanan ke kota. Ada pula saya saksikan beberapa buah sepeda motor  pada mogok mesinnya. Beberapa bengkel pada penuh antrian.

Sesampai ke sekolah, saya kembali terkejut. Betapa tinggi permukaan air hampir selutut orang dewasa. Saya pandangi sejenak. Betapa riangnya anak-anak dan sebagian orang dewasa bermain air dijalanan. Ada yang bertingkah seperti gaya perenang, lari-lari berkejaran bak di tepi pantai, ada yang main-main sepeda. Pokoknya banyak polah tingkah yang saya saksikan. Ya, harus bagaimana lagi, saya tersenyum saja menyaksikannya.

Saya perlahan turun dari sepeda motor, dan ditinggal bersama jejeran sepeda motor guru-guru lain. Kemudian saya berjalan pelan, walaupun baju sebagian tercelup ke air. Lumayan tinggi nih permukaan air, pikir saya. Setibanya di pintu gerbang, air begitu deras memasuki lokasi sekolah. Saya hanya mengisi daftar hadir, tak lama setelah selesai berbincang-bincang dengan guru lain, saya putuskan untuk ke pasar dulu untuk membeli keperluan rumah tangga ala kadarnya. Mumpung lagi di kota. Kebetulan pasar tradisional itu tak jauh dari lokasi sekolah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun