Mohon tunggu...
Ekriyani
Ekriyani Mohon Tunggu... IRT

Hanya orang biasa, bkn siapa2

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Memantik Compassion Peserta Didik di Dalam Kelas

4 Maret 2020   14:56 Diperbarui: 4 Maret 2020   19:09 83 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memantik Compassion Peserta Didik di Dalam Kelas
Infosoalpelajaran.com

Proses belajar mengajar, bagaimanapun bentuknya tetap saja peran guru sentral di dalamnya. Ibarat sebuah pentas drama, guru adalah sang sutradara. Peserta didik sebagai pemeran utama.Ketika kondisi peran guru menjadi utama dalam kelas, kreatifitas dan inovasi menjadi nomor satu. Hasil pembelajaran seutuhnya tergantung pada seberapa besar guru berperan terutama proses belajar mengajar berlangsung.Seperti dilansir laman cnbcindonesia.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan dua kompetensi baru dalam sistem pembelajaran anak Indonesia. Dua kompetensi tambahan itu adalah Computational Thinking dan Compassion. (18 Februari 2020)

Bagaimana memantik compassion dalam kelas?
Untuk peserta didik di kelas rendah (kelas 1-3) SD ternyata model pembelajaran bercerita masih menjadi idola. Dengan bercerita segala bentuk perilaku mampu tertular lewat cerita yang disuguhkan guru di dalam kelas.

Memantik compassion dengan cerita daerah menjadi rekomendasi bagi guru. Untuk itu diperlukan wawasan yang luas dari guru menggali cerita-cerita daerah yang ada, baik dari sumber pustaka maupun dari legenda-legenda yang memasyarakat.

Menurut KBBI, Compassion artinya keharuan, perasaan kasihan/terharu, membangkitkan rasa kasihan. Dalam makna yang termasuk dalam istilah compassion adalah welas asih, empati, kasih sayang, dan lain-lain.

Sebagai contoh, cerita yang memantik rasa empati, kasih sayang dan welas asih pada sesama seperti Ting gegenting dari daerah Lampung.

Meneritakan sorang anak yang tinggal hanya bersama ibunya. Dalam kondisi kelaparan. Ting gegenting kelaparan meminta makan. Ibunya menjawab, padi belum lagi ditaman. Hutan belantara masih ditebang, dan akan dibersihkan.

Kemudian sang anak yang kelaparan itu tidur kembali. Karena laparnya, anak itu kemudian terjaga. Dan meminta makan. Ibunya menjawab, padi baru akan ditanam. Sang anak pun tertidur lagi.

Tak berapa lama anak itu menangis lagi, meminta makan. Ibunya menjawab bahwa sawahnya masih dirumput. Belum bisa dimakan. Maka anak tersebut tertidur lagi. Kemudian saking laparnya terbangun lagi dan minta makan pada ibunya. Padi masih menguning belum siap dipanen.

Anak tersebut pun menangis lagi dan tertidur lagi. Tak berapa lama anak tu terbangun lagi, meminta makan. Padi yang diketam baru diirik lagi, belum bisa menjadi nasi. Dan lagi-lagi anak itu menangis, kemudian tertidur lagi.

Tak berapa lama, saking laparnya anak itu menangis dam meminta makan lagi pada ibunya. Dalam kelaparan yang sangat, anak tersebut masih diminta menunggu gabah masih digiling. Maka dengan kecewa anak ini tertidir lagi.

Sang ibu membujuk anaknya yang sudah lemas kelaparan, nasi masih ditanak. Si anak merengek-rengek meminta makan, ibunya pun masih meyiapkan nasi di dalam piring.

Begitu sang anak bangun, anak itu untuk makan. Tiba-tiba gegenting putus perutnya karena sudah terlalu genting. Akhirnya tak dapat lagi melanjutkan hidupnya. (Diceritakan kembali dari buku cerita rakyat nusantara)

Dengan cerita di atas dapat memantik compassion pada peserta didik. Rasa terharu membangkitkan rasa kasihan, welas asih, empati, kasih sayang, dan lain-lain.

Masih banyak cerita lain yang memantik compassion pada peserta didik. Seperti bagaimana menumbuhkan kompassoin pada binantang dengan cerita pengemis dan kucing kesayangnya.

Seorang pengemis rela lapar demi kucing-kucing kesayangannya. Dari hasi ngemisnya semuanya dibelikan makanan untuk kucing-kucingnya. Hanya menyisakan untuk makan dirinya secukupnya.

Seperti cerita tentang bagaimana menyayangi tanaman dengan cerita, melati yang menangis setiap hari.

Menceritakan tentang bagaimana rasa hausnya melati yang berada dalam pot bunga. Sering kehausan karena terlambatnya disiram oleh pemiliknya. Melati setiap hari menangis hingga habis airmatanya, karena melihat satu persatu teman-teman dalam pot lainnya yang mati kehausan. Dilupakan pemiliknya. Dan lain-lain.

Dengan cerita-cerita yang menggugah mampu memantik compassion pada peserta didik. Untuk menunjang semua cerita yang disuguhkan di dalam kelas dibutuhkan wawasan yang luas dari guru pengajarnya. Oleh karena itu bagi guru agar tak segan-segannya membaca dan membaca.***

VIDEO PILIHAN