Mohon tunggu...
Eko Yuniarsyah
Eko Yuniarsyah Mohon Tunggu... Civil/Structural Engineer

https://ekoyuniarsyah.home.blog/about/

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

SOP Protokol Kesehatan Bandara

29 September 2020   11:46 Diperbarui: 29 September 2020   11:50 27 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
SOP Protokol Kesehatan Bandara
Antrian cuci tangan saat keluar Bandara Gorontalo/dokpri

Tiga minggu lalu saya mengunjungi 2 Kota dan transit di 2 bandara. Total ada 5 bandara yang saya kunjungi, Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO), Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin (BDJ), Bandara Sultan Hasanuddin Makassar (UPG), Bandara Jalaluddin Gorontalo (GTO), dan Bandara Ngurah Rai Denpasar (DPS). Pengelola bandara tersebut berbeda-beda. 

BDO dikelola oleh PT Angkasa Pura II. BDJ, UPG, dan DPS dikelola oleh PT Angkasa Pura I, sedangkan GTO dikelola oleh Kementerian Perhubungan. Selain itu, protokol kesehatan di setiap bandara tersebut berbeda-beda. Tidak ada SOP yang baku, yang harusnya berlaku untuk seluruh bandara di Indonesia.

Dari kelima bandara tersebut, yang terbaik menurut pengalaman saya adalah BDO. Sebelum masuk ke ruang check in, calon penumpang harus antri sesuai garis yang sudah disediakan di lantai berjarak sekitar satu meter antar garis untuk: 

(1) Pemeriksaan hasil rapid test atau PCR yang nantinya dicap seperti passport, (2) Pengisian e-HAC, berupa aplikasi untuk pengisian data penumpang, bandara asal, no penerbangan, bandara tujuan, dan alamat yang dituju atau formulir HAC (health alert card) jika tidak punya gawai (smartphone), dan (3) pengecekan suhu tubuh. Jika ketiga hal tersebut sudah terpenuhi, maka calon penumpang baru diperbolehkan masuk ruang check in. Sebagai catatan, proses ini di jaga oleh beberapa anggota TNI.

Yang paling kacau adalah GTO. Saat kedatangan, dan akan masuk ruang pengambilan bagasi, semua penumpang menumpuk, mengantri untuk cuci tangan (terlihat pada foto) yang sudah di sediakan petugas. Hanya ada 3 tempat cuci tangan, dengan ratusan penumpang yang tiba. 

Air bekas cuci tangan tersebut ditampung (tidak dialirkan) dengan ember (disgusting). Di tempat cuci tangan tersebut juga dilakukan pengecekan e-HAC atau formulir HAC. Seperti yang saya sampaikan di atas, tidak semua bandara menerapkan SOP yang sama, sehingga tidak semua penumpang yang baru datang telah mengisi e-HAC atau formulir HAC tersebut. 

Antrian juga tidak dibedakan antara yang sudah dan yang belum mengisi formulir tersebut, sehingga terjadi penumpukan penumpang (yang sebenarnya sudah melanggar protokol kesehatan, karena terjadi kerumunan).

Anyway, tidak semua bandara memilik SOP yang sama dalam penerapan protokol kesehatan. Seharusnya Kementerian Kesehatan membuat SOP yang sama untuk diterapkan di setiap bandara. Untuk sementara, semua kembali pada kesadaran masing-masing calon penumpang. 

Beberapa tips agar tetap aman saat melakukan penerbangan adalah menjauhi kerumunan, tetap menggunakan masker, dan selalu mengusap hand sanitizer saat akan menyentuh wajah. Saya sarankan untuk tidak makan di restoran bandara, karena tidak semua menerapkan protokol kesehatan. Kalau penerbangan hanya 1-3 jam, cukup bawa makanan ringan (snack) dan minuman sendiri saja.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x