Mohon tunggu...
Eko Romeo Yudiono
Eko Romeo Yudiono Mohon Tunggu... Menulis itu Indah

Menulislah karena dengan menulis kamu akan belajar mensyukuri nikmat Allah SWT. Dengan menulis kita juga akan menyadari bahwa pengetahuan kita sesungguhnya ibarat setetes air di lautan bila dibandingkan dengan keangungan Allah SWT. Wallahu A'lam Bishawab.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cangkruk

5 November 2020   23:48 Diperbarui: 5 November 2020   23:58 46 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cangkruk
dok. pribadi

Cak Bonek tergopoh-gopoh malam itu. Bergegas ia mendatangi Andik Knoxs. Ketika jarak sedepa, -Bonex langsung nyerocos," Pokoknya kita harus membuat cangkruk, titik,". Kaget dengan ide Bonex yang tiba-tiba seperti pendekar yang mendapatkan wangsit usai semedi, Knoxs langsung mangut-mangut tanda setuju.

Tanpa dikomando, Knoxs kemudian mengirim pesan via WhatsApp. Intinya pengumuman, anggota Kombi (Komunitas bisa apa saja ih) untuk kumpul di markas tidak resmi mereka. Ketika jangkrik di sekitar markas bersahutan, anggota Kombi sudah berkumpul.

"Malam ini kita akan membuat cangkruk. Cangkruk ini bukan sekedar cangkruk. Sebab melambangkan juga kekompakan kita sebagai anggota Kombi. Cangruk juga berhubungan dengan filosofi bahwa semua masalah akan selesai dengan cangkruk," tegas Andik berapi-api laksana pidato Bung Tomo membakar semangat juang arek-arek Suroboyo ketika berperang dan mengusir tentara Inggris.

Sejurus kemudian, semuanya sudah siap. Kamto mengawali pondasi cangruk dengan menancapkan tiga batang bongkotan. Tubuhnya yang tambah sangat membantu dalam menancapkan bongkotan-bongkotan yang diambil tidak jauh dari sumur wetan itu. Sumur yang tidak pernah kering meski kemarau melanda.

"Ah, mantap, ayo sekarang paku semua," teriak Kamto yang dijuluki rekan-rekannya Si Jago Makan itu. Hanya membutuhkan waktu tiga jam, cangkruk sudah berdiri. Panjangnya ternyata di luar dugaan. Enam meter kali  satu setengah meter. Wow! "Ini tinggal kasih atap dan dipasang AC sudah jadi kos-kosan," kelakar Wanto, anggota baru Kombi yang sebelumnya dites ketahanan tubuh di kawasan yang dulunya pernah ditinggali Joko Berek yang kemudian menjadi Adipati Surabaya dengan nama Sawunggaling.

Kerja keras anggota Kombi terbayar lunas. Cangkruk  berdiri gagah. Sapuan plitur coklat tua -menambah eksotis dan estetika bahwa cangkruk yang dibangun bukanlah cangkruk sembarangan. Melambangkan identitas klub Kombi. Lebih dari itu Cangkruk juga sebagai obyek atau tempat mengeluarkan pendapat, ide dan gagasan.

Tapi, anggota Kombi yang rata-rata laki-laki itu paham sepaham-pahamnya jika nantinya cangkruk tersebut juga digunakan ibu-ibu rasan-rasan. Suatu kegiatan yang sebenarnya menyita energi yang cukup banyak namun dipertahankan sebagai budaya yang mengakar seperti halnya budaya cangkruk yang diberikan akhiran "an" sehingga menimbulkan harmonisasi santai dan kesan akrab seakrab kepulan asap yang bertabrakan dengan laron yang tiba-tiba berterbangan.

Menari-nari. Berjoget irama waltz. Bahkan dangdut koplo," tarik Sis........semongko,". Laron yang berkumpul di lampu jalanan juga sebagai pertanda bahwa cangkruk yang didirikan diantara pohon mangga dengan background sawah yang belum ditanami padi itu resmi dipergunakan. Digunakan untuk cangkrukan meski Pandemi Covid-19 belum usai meski negeri China yang dituding sebagai akar virus sudah menemukan harapan untuk memproduksi vaksin virus Corona yang secara aklamasi dan otomatis mengurangi jumlah pendudukan dunia itu. 

Ah, cangkruk itu benar-benar nyaman. Senyaman pelukan malam yang beranjak pegi ketika bulan malu-malu menyembul diantara awan. Indahnya. Cangkruk. (*)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x