Bola Pilihan

Suporter Harus Bisa Menahan Diri (Damai)

9 Oktober 2018   16:21 Diperbarui: 9 Oktober 2018   16:38 757 0 0
Suporter Harus Bisa Menahan Diri (Damai)
Dokpri

Laga big match antara Arema FC versus Persebaya, Sabtu, (6/9/2018) yang dimenangkan tuan rumah dengan skor 1-0 ternoda. Suporter Arema tiba-tiba masuk ke lapangan. Ironisnya, suporter ini tersorot kamera siaran langsung sembari merobek bendera dengan logo Suro dan Boyo yang identik dengan Persebaya.

Miris memang. Sebab, kejadian ini terjadi sepekan setelah ikrar damai yang dilakukan 18 peserta Liga 1. Ikrar damai bertajuk Rivalitas Tanpa Membunuh itu juga digelar di Kota Malang sekaligus pertandingan amal bagi Haringga Sirla, suporter Persija yang tewas dianiaya di Bandung, Minggu (23/9/2018) silam.

Aksi ini jelas merugikan klub tuan rumah. Denda pasti akan diterima dan ini menjadi kerugian tersendiri. Mengingat, kemarin Arema sudah memenangkan pertandingan.

Jika demikian siapa yang harus disalahkan? Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan paling-paling akan dihukum denda. Apa itu menyelesaikan masalah perseteruan antar suporter dan rivalitas yang menahun antara Arema dan Persebaya? Jawabannya kembali lagi kepada suporter kedua tim, khususnya dan suporter sepakbola Indonesia pada umumnya.

Jika kasus-kasus seperti ini tetap terulang bukan tidak mungkin kekerasan dalam sepakbola tetap terjadi. Sebab, mereka belum sadar betul tentang arti menjadi suporter sejati. Suporter yang seharusnya bersorak ketika tim kebanggaan mereka memenangkan pertandingan dan tidak mencaci ketika tim kesayangan mereka menuai kekalahan.

Tanpa bermaksud mengurui, suporter di Indonesia harus lebih bisa menahan diri dalam meluapkan kegembiraan atau kesedihan ketika tim idola mereka menang, seri atau pun kalah. Sebab, dalam setiap pertandingan, baik kekalahan mau pun kemenangan adalah hal yang normal. Di kompetisi mana pun di dunia ini, pastilah tidak ada tim yang superior. Bahkan tim sehebat Barcelona pun pernah kalah.

So, sekali lagi dan sekali lagi, kedewasaan suporter harus tetap dikedepankan. Dalam benak suporter harus benar-benar tertanam sifat menghargai kerja keras selama 90 menit plus injury time di lapangan. Semboyan Kalah Kudukung dan Menang Kusanjung mulai sekarang harus ditanamkan. Jika tidak, rivalitas antar suporter yang dimulai saling ejek, rasis ujung-ujungnya pasti akan mengarah kepada kekerasan. Menghargai satu sama lain akan membuat sepakbola lebih indah. Tentunya sepakbola dengan rivalitas tinggi tanpa kekerasan. Apalagi sampai harus kehilangan nyawa. (*)