Mohon tunggu...
Eko Nurwahyudin
Eko Nurwahyudin Mohon Tunggu... Pembelajar hidup

Lahir di Negeri Cincin Api. Seorang kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Ashram Bangsa dan Alumni Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Motto : Terus Mlaku Tansah Lelaku.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Paradoks Kegilaan dan Titik Nadir Kemanusiaan

2 Mei 2021   16:57 Diperbarui: 2 Mei 2021   18:03 112 2 0 Mohon Tunggu...

Paradoks Kegilaan dan Titik Nadir Kemanusiaan

"We're all mad, Dr. Newgate. Some are simply not mad enough to admit it". Kita semu gila, Dr. Newgate. Beberapa dari kita hanya tidak cukup gila untuk mengakuinya. (perkataan Dr. Silas Lamb pada durasi 01:35:00)

gambar hasil screenshoot pada 03:03 (Dokpri)
gambar hasil screenshoot pada 03:03 (Dokpri)

Entah berapa kali saya menonton film misteri yang dirilis pada 2014 ini. Film yang ditulis oleh Joseph Gangemi berdasarkan tafsir bebas cerita pendek karya Edgar Allan Poe berjudul "The System of Doctor Tarr and Professor Fether" ini menceritakan tentang kritik yang terhadap cara pandang dunia medis terhadap kelompok difabel terkhusus difabel grahita. 

Sepanjang 113 menit penonton akan diajak menilai secara hati-hati tentang perbedaan yang sangat tipis difabel grahita dengan penyakit kejiwaan yang apabila dibaca dengan dangkal akan membaurkan batas antar keduanya. Tentunya, apabila batas tak lagi jelas maka cara berpikir dan sikap kita terhadap mereka bisa saja jatuh hingga titik nadir kemanusiaan.

Film ini diawali dengan materi perkuliahan yang disampaikan oleh Dr. Edward Newgate, seorang spesialis gangguan jiwa di Oxford University, 1899. Dr. Edward Newgate mendemonstrasikan pasien Rumah Sakit Bethlehem yang menderita hysteria. 

Pasien itu bernama Eliza Graves, 35 tahun yang merupakan istri seorang kaya. Dr. Edward Newgate menunjukkan pada mahasiswanya beberapa titik fital pemicu hysteria di beberapa bagian intim dari anatomi tubuh perempuan dan gejala hysteria seperti tangan terkepal, punggungnya melengkung, kejang-kejang hingga pengerasan otot mendalam.  

Belakangan, dipertengahan film akan ditampilkan bahwa Eliza Graves diserahkan di Rumah Sakit Jiwa karena telah mencongkel mata dan memutuskan satu telinga suaminya sebagai upaya membela diri. 

Hysteria yang diidap Eliza Graves ternyata dipengaruhi oleh pengalaman kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah kandungnya ketika Eliza masih kecil hingga berbagai kekerasan yang dilakukan oleh suaminya.

Setelah melihat demonstrasi tersebut, salah seorang mahasiswa (pada durasi 03:10) bertanya, "What of the woman's insistence that she is not mad?" Kenapa wanita tersebut bersikeras bahwa dia tidak gila?

"Just as every criminal maintains he's innocent, so does every mad woman insist she is sane." Sama seperti setiap penjahat yang bersikukuh dia tidak bersalah, begitu juga setiap wanita gila yang bersikeras dia waras. Jawab Dr. Newgate tegas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x