Mohon tunggu...
Eko Nurwahyudin
Eko Nurwahyudin Mohon Tunggu... Pembelajar hidup

Lahir di Negeri Cincin Api, hidup sebagai penyaksi, enggan mati sekadar jadi abu. Seorang kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Ashram Bangsa dan tengah belajar di Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Mati Ketawa, Cara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

1 Juli 2020   08:15 Diperbarui: 1 Juli 2020   14:31 68 1 1 Mohon Tunggu...

Lelucon adalah senjatanya orang-orang cerdas! Ketika seseorang mengeluarkan suatu lelucon, ia tidak sedang melakukan hal melucu, sebab lucu merupakan efek daripada tindakan orang tersebut. 

Dalam rentang waktu sekian detik atau sekian menit, orang tersebut menagkap realita atau kahanan maupun menggali ingatannya yang mengendap lalu memikirkan (mengabstraksikan) mempreteli kerapihan logika berfikir yang umum tentang peristiwa.

Para pembuat humor menggunakan humor secara berbeda-beda. Humor, seperti halnya gunting, mempunyai bentuk dan kegunaan pada situasi dan kondisi yang berbeda. 

Ada humor yang dilontarkan semata-mata untuk menghibur, mencairkan suasana, ada yang digunakan untuk melontarkan kritik, ada yang digunakan sebagai penyangkalan. Yang terakhir merupakan humor jenis yang digunakan lekat dengan dimensi medan politik.

Penggunaan humor yang salah setidak-tidaknya akan menyebabkan respon rasa tersinggung bahkan celaan. Seperti seorang yang menggunakan gunting kuku untuk mencukur, terasa menggelikan dan menjengkelkan bukan?

Itu Calonmu, Itu Calonnya, Ini Suaraku!

Saya sering teringat salah satu isi buku karya Emmanuel Subangun yang berjudul Politik Anti Kekerasan Paska Pemilu '99 ketika taraf harapan hidup[1] dan kualitas udara di benua demokrasi melorot. Ironi tersebut nyatanya pun bersamaan dengan semangat unjuk katok[2] yang semakin meningkat.

Realita politik dewasa ini tentang strategi parpol (pun bisa diberlakukan pada konteks strategi kubu politik) yang diulas Emmanuel Subangun dalam bukunya tak lain bergerak dalam model hard selling bukan image building

Ketika yang dilakukan partai politik maupun kubu politik di tingkat perpolitikan nasional sampai politik tingkat kampung pun organisasi adalah model hard selling, maka kualitas politik dan demokrasi tak ubahnya dengan seorang pedagang kaki lima, pedagang asongan, atau pedagang kunci busi motor di Pasar Senthir Yogya. 

Artinya, partai politik atau kubu politik di berbagai level cuma memaknai dan mengurus pemilu sekadar jangka waktu sekali lima tahun, atau sekali dalam masa jabatan. Demokrasi akan berlangsung pada waktu pencoblosan dan berhenti pada kertas suara yang sudah dicoblos.

Berbeda dengan ketika partai politik maupun kubu politik bergerak dalam image building dimana kualitas managemen organisasi di tubuh partai maupun kubu itu layaknya bertindak sebagai kualitas managemen perusahaan kondom ternama semisal. 

Partai politik maupun kubu tersebut berusaha dan berupaya secara serius membentuk branding produk, mutu produk sebelum dipasarkan. Sasarannya jelas yakni konsumen akan percaya memilih produk yang ditawarkan. Tujuannya jelas yakni kejayaan, keberlangsungan dan ketangguhan hidup perusahaan kondom meskipun diterpa masa pandemik covid-19.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x