Mohon tunggu...
Eki Saputra
Eki Saputra Mohon Tunggu... Penulis artikel, opini, dan fiksi (puisi/cerpen)

Menulis adalah bagian dari hobi yang saya geluti sejak sekolah. Saya aktif menulis artikel & fiksi di laman hipwee dan blog pribadi. https://zulispedia.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Pejabat Saweran, Rakyat Miskin, dan Topeng Maut Merah

5 Desember 2019   07:00 Diperbarui: 5 Desember 2019   07:08 33 2 0 Mohon Tunggu...
Cerpen | Pejabat Saweran, Rakyat Miskin, dan Topeng Maut Merah
Ilustrasi: Topeng Maut Merah (sumber: Pinterest)

Sebuah mobil mewah terhenti, ratusan orang berbondong-bondong menyerbu ingin mendekat. Dari kaca jendela mobil yang terbuka setengah, seorang laki-laki dengan setelan rapi tersenyum hangat. Ia menyodorkan beberapa lembaran-lembaran kertas merah, biru, dan hijau. Bak ayam dilempar beras, orang-orang dibuat kalap.

Pada kesempatan lain, ia kembali datang. Namun, kali ini sekadar kondangan di hajatan salah seorang keluarga terpandang. Seperti biasa, orang-orang berduyun-duyun naik ke atas panggung sesaat pria itu menyanyikan lagu dangdut diiringi organ tunggal, mereka berebutan, saling sikut demi mendapatkan saweran dari pria rapi itu.

Pria setelan rapi suatu kali datang lagi menyambangi. Bukan untuk saweran, tetapi berdagang sembako murah untuk rakyat-rakyatnya tercinta. Betapa mulia hatinya, rakyat miskin terlunta-lunta diberi jawaban doa lewat sekantong gabah lengkap dengan gula dan mie instan.

Laki-laki itu memang dikenal royal pada rakyatnya. Bukan sekali dua kali ia mentraktir satu gerobak jualan siomay atau batagor. Begitupun dengan rumahnya,  tak pernah sunyi-sepi dengan tamu rakyat yang berkunjung minta ini itu. Itulah potret seorang pejabat merakyat, dia layak dikenang dan dipuja-puji bak dewa kesejahteraan.

Ironisnya, di kota yang sama, para calo bolak-balik masuk kantor menawarkan jasa pembuatan kartu dalam sekejap. Konon bila ditempuh dalam kondisi normal butuh paling tidak menunggu selama 2 minggu.

Di kota yang sama, jalanan hampir bertahun-tahun berlubang. Butuh sekian tahun akhirnya ditambal, setelah banyak minta tumbal. Lalu badut-badut berseragam lucu berbaris di perempatannya, tak ketinggalan bocah kecil dengan riasan sembrono berdiri di samping bapaknya. Ia menjilat permen kaki, di saat kakinya sendiri tak diberi alas sama sekali.

Di kota yang sama, orang-orang sakit jiwa duduk merenung di balai-balai. Sementara gadis berambut acak-acakan sibuk menghirup kaleng lem. Sekumpulan pemuda-pemuda gagah kurus kering dengan atribut serba hitam menyanyi lagu-lagu mengkritik rezim. Suara cemprengnya membuat pria dengan kemeja lepas kancing menggerutu, laki-laki itu tak selera lagi menelan bakso bulatnya sehabis mencium bau masam pahit hawa gembel anak negeri. Laki-laki itu mendesah, "Ah, sialan! Bahkan makan pun aku malas."

Orang itu murka, sebab gajinya sudah telat dibayar selama lima hari kerja. Di kota yang sama, pabrik-pabrik membayar upah sekonyong-konyongnya. Rakyat jelata dijadikan kuli murah, toh biasa saja. Bagi mereka perihal periuk nasi tak punya lagi solusi. Tak bisa ditawar-tawar, memangnya mau ngadu ke siapa? pria seragam kuning-kuning buncit sudah rutin datang ke sini. Sama saja.

"Lihat tadi di televisi, sang penyelamat akan menghukum penguasa nakal." Cerita si wanita mencoba menghibur.

"Kalau dia bisa, pasti sudah dari kemarin. Keburu aku mati menunggu janji," celetuk pria lepas kancing pesimis.

"Mati saja, nanti pak pejabat pasti melayat. Aku lihat di sosmed dia rajin melayat."

"Ah, kau."

"Mending kau ikutan nyalon jadi pejabat juga, siapa tahu rakyat mau membantumu."

"Memangnya kamu sudah siap bantu aku melawan anaknya nanti?"

"Bah, rupanya sudah mau bangun dinasti. Yasudah mati saja kalau  begini. Mengapa sih mereka maruk sekali?"


Pria lepas kancing tergelak mendengar jawaban sekaligus pertanyaan  sahabatnya itu. Ia lantas duduk bersila, mematikan puntung rokoknya, lalu minum dari botol air mineral yang sejak tadi ia siapkan. Dia pun mulai berbicara,

"Ketahuilah kawanku, kita ini sedang di tengah-tengah kehidupan yang maju. Kalau engkau malah mundur, jangan salahkan siapa-siapa, salahkan kenapa kakimu melangkah ke belakang bukan ke depan.

Perhatikan baik-baik, kenapa orang melakukan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Sebab miskin itu momok yang menakutkan.

 Orang-orang lebih sanggup melihat banyak kemiskinan di sekitarnya, ketimbang ia yang berada langsung dalam  lingkaran kemiskinan itu.


Tidak perlu engkau heran, bila seorang pejabat menghibur rakyatnya dengan lembaran uang. Sebab uang mampu membutakan hati yang bersih lagi suci. Kemiskinan memang bisa membunuh mereka, tetapi kemiskinan tidak akan bisa membuat mereka lupa diri.

Melalui uang, idealisme bisa digadaikan sekehendak hati. Orang miskin terdidik sekalipun, kalau hidupnya tertindas dan teraniaya tidak akan mau mati sia-sia. Lalu orang-orang kaya melempar harapan atau janji yang akan peduli hak-hak asasi orang bawah. Siapa yang tidak terlena?

Setelah terpilih, janji-janji tadi jadi ampas. Kehidupan seperti biasa, orang miskin biarlah tetap miskin, siapa yang mau mengubahnya kecuali diri sendiri? Yang mereka (pejabat) bisa ubah paling cuma memperbanyak kebijakan, aturan, dan birokrasi yang super rumit.  

Mereka mengingatkanku pada kisah seorang raja dan rakyat bangsawan yang suka berpesta topeng, sementara di luar istana banyak rakyatnya terlunta-lunta dan mati diserang wabah maut merah(dalam The Masque of the Red Death, Allan Poe,1842)."

"Malang sekali nasib kita-kita ini, aku baru sadar hidup semenyedihkan ini."

"Tak perlu merasa sedih, kau tahu akhir dari kisah itu?"

Orang itu menggeleng. Dia termenung memikirkan peliknya hidup yang baru saja dia pahami.

"Raja dan orang-orang lalim itu pun mati,  tidak akan ada yang luput dari namanya kematian. Mereka bisa melakukan apapun selagi masih hidup, tetapi bila maut sudah datang, mereka tetap akan tumbang."

Keduanya pun tertawa puas usai menghibur diri dengan kisah klasik. Pria lepas kancing melempar botol minum yang sejak tadi dia genggam ke tong sampah yang tak jauh dari mereka.

Seorang pemulung membawa karung kosong berlari cepat-cepat mengambil benda bekas itu sambil mengomel 


" Tau apa mereka soal miskin, kalau masih bisa tertawa sambil makan enak."

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x