Eka Surya
Eka Surya

An ordinary woman

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Novel Cinta Lelakiku

4 April 2012   11:42 Diperbarui: 25 Juni 2015   07:02 447 0 2

Sore yang sedikit redup walau angin tak lagi kencang seperti sore-sore sebelumnya.

Kita duduk bersisian di bangku panjang taman, sesuatu yang lama tak pernah lagi kita lakukan bersama.

Sesuatu yang langka ,  setelah hampir dua dasa warsa kita hidup bersama dan mulai tercium aroma kebosanan di sana.

Cukup lama kita terdiam, memandang bunga dan dedaunan.

Bahkan untuk sekedar berbasa-basi saja kita cukup enggan.

Kebisuan itu kau pecahkan dengan memulai pembicaraan.

"Aku ingin menulis." katamu singkat dan datar, tanpa menoleh kepadaku.

Aku terdiam, hanya mendengar dan menunggu kelanjutan darimu.

"Aku ingin menulis." ucapmu sekali lagi.

Kali ini dengan suara yang lebih tegas sambil menoleh kepadaku.

Aku mengernyitkan dahi, memandangmu, tanda tak mengerti.

"Bukankah setiap hari itu yang kamu lakukan?"

"Bukan menulis proposal atau laporan seperti biasanya."

"Lantas?" kugeser dudukku untuk lebih dekat ke dirimu.

"Aku ingin menulis novel." katamu dengan mata berbinar.

"Novel tentang apa?"

"Tentang cinta..." dapat kulihat matamu semakin berbinar

Seketika kurasa sepoi angin sore berubah menjadi puting beliung yang menghantam tubuhku.

Ini bukan dia yang kukenal selama ini.

Ini bukan suamiku yang telah menemaniku di hampir dua puluh tahun hidupku.

Seorang lelaki yang tegas dalam prinsipnya, selalu berbicara lugas dalam menyampaikan kehendaknya dan berambisi besar untuk mencapai keinginanya.

Seorang lelaki yang selalu menyuarakan kebenaran secara keras dalam menghadapi permasalahan-permasalahan sosial, dan ketidakadilan yang terjadi di depan matanya.

Dan sekarang dia mau menulis novel cinta?

Apa yang terjadi?

Pasti ada yang salah !!!

Segera kukuasai keadaan.

Segera kukendalikan diri dari segala keterkejutan, walau kuyakin tak siap menerima segala kenyataan.

"Ada apa denganmu?" tanyaku pelan sambil kucari jawaban dari binar matanya.

Binar mata yang selalu memabukkanku sejak pertama kali bertemu.

"Aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya dan kali ini aku tak bisa menahannya untuk tak mengungkapkannya."

Belum sempat aku berkata karena sibuk mencerna.

"Tak cukup puisi untuk mengungkannya atau cerita pendek untuk bercerita. Aku ingin menulis novel, karena banyaknya sisi cinta yang mau kuungkapkan untuk menggambarkannya." katamu lembut.

Kurasakan sedikit gemetar badanku dan kakiku melayang tak berpijak tanah.

"Siapakah wanita yang kau cinta itu?" tanyaku bergetar walau sudah kucoba sekuat tenaga untuk tetap tegar.

Tapi kamu terdiam.

Keheningan kurasakan kembali menyergap.

Desir angin makin terasa, namun tak kubiarkan diriku terisak walau kesedihan bagai badai yang memorak porandakan hatiku saat ini.

Lelaki yang kucintai telah membagi hatinya !!!

Tak cukupkah ketulusan dan segenap hati yang telah kuberikan kepadanya selama ini ?

Tak cukupkah cinta utuh yang telah kupersembahkan kepadanya selama ini ?

Kurasakan mataku semakin panas.

Lalu kamu berkata, masih dengan nada lembut, "Aku selalu jatuh cinta padanya. Dia kukenal lebih dari dua puluh tahun yang lalu dan aku tak bisa melupakannya."

"Apakah aku mengenalnya?" tak dapat kutahan lagi keingintahuanku.

Kamu mantap mengangguk.

Seketika ingatanku mencari memori wajah-wajah wanita yang mempunyai kemungkinan sebagai pujaan hatimu.

"Apakah dia menyintaimu juga?" tanyaku sembari mengaduk-aduk ingatanku sungguh-sungguh.

Tak ketemu juga sang tertuduh.

Tak bisa kubayangkan bagaimana paras mukaku.

"Tentunya..." katamu tersenyum lebar

"Tapi siapa dia?" aku sudah tak bisa bertahan untuk tak bertanya tentang sosok wanita itu.

Dengan perasaan yang tercampur aduk, kusiapkan diriku untuk mendengar pengakuamu.

"Dia adalah dirimu. Wanita yang selalu membuatku jatuh cinta dan tak bisa kulupakan sampai kapanpun juga. Dia yang telah menemaniku dalam suka dan duka dan selalu sabar, tak sedikitpun pernah mengeluh." katamu sambil menarik tubuhku dalam pelukanmu.

Lemaslah tubuhku direngkuhanmu dengan kelegaan yang penuh.

Tak sanggup ku berkata-kata, pun ketika kamu lanjutkan ucapanmu, "Kali ini kasihku, isteriku yang tercinta, kumohon padamu untuk menjadi sumber inspirasiku menulis sebuah novel, yang mengungkapkan semua sisi cinta kita. Sekaligus sebagai penebus semua kesalahan dan kelemahanku yang tak pernah bisa bersikap lembut kepadamu selama ini."

Kau peluk aku lebih erat, "Tapi yakinlah, kuhargai setiap upayamu menemaniku selama ini, setiap derajat kesabaranmu, dan tak ada wanita lain yang bisa menggeser dirimu di lubuk hatiku. Terima kasih atas semua cintamu padaku selama ini."

Kali ini tak bisa kutahan lagi derai air mataku. Bukan air mata sedih, tapi air mata bahagia.

Lelakiku, walaupun aku tak pandai berkata-kata dan tak ada yang bisa kuungkap dengan kata-kata, tapi yakinlah bahwa engkaulah yang aku puja.

Tak pernah sebersitpun ada rasa sesal dan kecewa untuk mendampingimu sampai ujung usia.

Aku jadi tak sabar untuk segera bisa membaca novel cintamu lembar demi lembarnya.