Mohon tunggu...
Aleebreeze
Aleebreeze Mohon Tunggu... Sederhana

Meninggalkan Jejak - Jejak Diri

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Para Penjaga Air, Seharusnya Mereka Itu Siapa?

4 September 2019   08:29 Diperbarui: 4 September 2019   15:59 0 7 2 Mohon Tunggu...
Cerpen | Para Penjaga Air, Seharusnya Mereka Itu Siapa?
Dokpri

"Lah bro, begitu besarnya tulisan itu masih aja kau buang sampah disini.""Hahhaha....tutup mata aja lah bro. Semua juga pada buang sampah di sini."

"Justru itu lah bro. Begitu banyaknya sampah yang kita buang tiap hari ke sungai ini. Kampung kita sih gapapa, yang kasihan kampung di hilir sana."

"Sebenarnya yang buat plang ini yang ga mikir. Kita dilarang buang sampah ke sini tapi ga ngasih solusi. Kita harus buang ke TPA sana? Ga kerjaanlah bro."

"Klo merasa jauh kan bisa kumpulkan dulu trus bakar sendiri?"

"Bro, kau sih enak. Pekarangan rumahmu masih luas. Kami yang di perumahan?
Atau kau mau tiap hari lewat rumahku ambil sampah? Aku bayar jadi lah. Berapa bro?"

"Hahaha..ya aku ga sempat lah"

"Hahaha..siapa tau.
Masalahnya diperumahan kita susah juga bro. Bau busuk lah...sumber penyakit lah...kita bakar asapnya mengganggu lah..kan harus kita jaga juga ke tetangga?"

"Mungkin kita perlu buat koperasi ya? Kita bisa beli pick up angkut sampah. Kita bisa...."

"Waduh bro..cape lah kita ngurus itu. Aku ga mau ikutan lah. Biar itu urusan pemerintah aja. Masalah di hilir juga, sebenarnya kan sudah ada tim khusus yang dibentuk untuk menanganinya. Mereka aja yang digerakkan. Masih banyak yang harus kita pikirkan bro. Hahaha..
Oh ya, minggu depan juraganku minta jeruk 5 ton. Jerukmu sudah panen kan?"

"Iya, tapi ini baru panen perdana. Belum tau dapat berapa kilo nanti."

"Besok kasih kabar ya? Biar tau aku punya siapa lagi yang mau kuambil."

"Ok bro."

"Ok. Aku pulang dulu ya. Klo ada solusi tentang sampah kita ini, aku dukung bro. Sekalian tahun depan kan pemilihan kades. Modal bagus tuh buat maju. Hahaha..."

"Hahaha... Pikiranmu mau ambil kesempatan aja"

"Hahaha..."

Model percakapan ini sudah umum di kampung itu. Hanya jadi candaan buat mereka. Dan pemerintah setempat mungkin terlalu sibuk dengan urusan lain sehingga belum sempat memikirkan penanggulangan sampah di kampung itu.Mastur dan Caplin sudah lama berteman. Mereka dulu satu kampus waktu kuliah. Selesai kuliah Mastur memilih buka lahan pertanian di kampungnya itu, sementara Caplin menjadi orang pendatang di sana yang mencoba peruntungan menampung hasil pertanian dari kampung itu. Caplin memang orang yang cekatan dalam mengambil peluang.


***
Sore ini Caplin terlihat sumringah. Di otaknya sudah terbayang keuntungan dari buah - buahan dan sayur - sayuran yang terkumpul di lapaknya. Sekarang memang lagi musim panen di kampungnya.

Suara motor Mastur perlahan menghilang ditelan jalan. Dia baru saja pamit pulang ke rumahnya setelah selesai mengantar jeruk dan hitung - hitungan dengan Caplin. Sebenarnya sudah dari siang tadi Mastur di sana, tetapi dia menjadi belakangan pulang dari petani lainnya karena memilih ngobrol sama sahabatnya itu sambil menunggu hujan reda.

Sementara barang dagangannya disusun ke dalam truk, Caplin pun memilih pulang dulu ke rumah untuk beberes diri sekalian pamitan sama istri tercinta dan anak semata wayangnya yang baru berumur 3 tahun. Kali ini dia memilih untuk ikut turun ke kota mengantar barang dagangannya yang biasanya diantar sendiri oleh Goman supirnya.

Tepat jam 8 malam mereka pun berangkat. Goman yang orangnya pendiam tidak memberi pilihan lain sama Caplin. Hanya selang berapa menit, sudah berhasil membuat Caplin tidur pulas.
Itulah Caplin, dalam kondisi dimana tidur menjadi pilihan yang lebih menguntungkan dengan cepat pula dia bisa pulas. Sepertinya seluruh jiwa raganya begitu bersinergi dengan keinginannya.

Caplin terbangun mendengar suara ramai di sekitarnya. Dia terlihat panik melihat jam sudah menunjukkan hampir jam 11 malam.

"Kenapa bisa macet gini?"

"Ga tau om. Semua kendaraan berebut turun, sampai ga ada lagi jalur buat kendaraan yang dari bawah"

"Ah... Dasar memang orang - orang ga sabaran. Sudah berapa lama kita disini?"

"Sudah hampir 1 jam om."

"Waduh"

Caplin terlihat makin panik. Normalnya perjalanan ke kota paling lama 3 jam. Dan seperti biasanya paling lama jam 11 barang sudah harus sampai ke kota karena masih harus dimuat lagi ke kapal yang sekali seminggu jadwalnya berangkat subuh ke luar pulau. Sisanya dijual ke pengecer di pasar.

Dilihatnya ponselnya tidak ada sinyal. Dia begitu panik, bingung bagaimana caranya dia bisa menghubungi juragan di kota. Mereka pasti akan terlambat. Keuntungan yang sudah di depan mata bisa tiba - tiba raib.

"Kita ga bisa keluar dari sini? Putar baliklah, cari jalan lain gimanalah caranya."

Caplin membuka pintu dan langsung keluar. Dia tidak mendengar lagi jawaban si Goman. Dilihatnya ke belakang sudah penuh dengan lampu - lampu kendaraan yang terjebak macet.

"Tidak ada jalan keluar" batinnya.

Dia berjalan ke bawah berharap di sana bisa dapat sinyal. Sahut - sahutan bunyi klakson dan teriakan orang yang bertanya kenapa macet tidak digubrisnya. Pikirannya fokus mencari jalan keluar berusaha menyelamatkan barang dagangannya. Dia tidak mau merugi. Dia berharap bisa menghubungi seseorang di luar sana yang bisa membantunya.

Sudah 1 jam lebih, dia melihat kendaraan sama sekali tidak ada yang bisa bergerak. Ponselnya juga sama sekali tidak dapat sinyal. Tidak ada solusi. Caplin pun kembali ke dalam truk, duduk lagi di sebelah Goman.

Dia melihat Goman begitu menikmati sebatang rokok di tangannya. Caplin yang dari tadi tidak kepikiran merokok jadinya senyum melihat Goman. Dia pun merogoh kantongnya. Mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Duduk santai sama si Goman.

"Katanya kota banjir"

"Ohh"

"Kota lumpuh, dapat banjir kiriman. Katanya hujan sore tadi membuat sungai di kota meluap."

"Ohh. Ada korban jiwa om?"

"Belum tau."

Sebenarnya pikiran Caplin masih ke barang dagangannya, dan berharap Goman juga menimpali memberi solusi. Tetapi mendengar jawaban dan melihat arah pikiran Goman yang lebih bersimpati ke korban, dia pun sadar tidak ada solusi yang akan didapatnya dari supirnya itu. Kali ini dia tidak ingin mengajak Goman berdiskusi tentang itu.

Dia mulai berpikir tentang hal yang sama dialami teman - temannya juga. Dia sadar, dia bukan satu - satunya orang yang sedang membawa barang dagangannya dari gunung ke kota. Ada banyak teman - temannya. Dan sekarang kota sudah lumpuh, pasar kemungkinannya akan menolak barang, barang dagangan akan bertumpuk, sementara kapal pengiriman ke luar tidak mungkin terkejar lagi.

Pun sampai kapan mereka akan terjebak macet, dia juga tidak tahu. Polisi yang berangsur ramai belum juga bisa berbuat banyak mengurai macet. Baru kali inilah Caplin benar - benar terlihat pasrah.

"Sepertinya benar juga kata orang - orang di bawah sana tadi, kabarnya ada longsor juga di depan sana. Semoga ga ada korban jiwa ya."

"Semoga om.
Pantasan ya om macet gini.
Kira - kira kita masih bisa lewat ga ya?"

"Sudahlah. Ga usah dipikirkan lagi. Terlalu beresiko buat kita, muatan kita ini berat. Klo sudah bisa pulang, kita pulang aja."

"Rugi besarlah kita om."

"Ya biarlah. Nantilah kita cari solusinya.
Petani di kampung kita juga bakalan merugi. Mau dijual kemana lagi hasil panen raya kali ini?"


Catatan si Mastur:
"Alangkah susahnya orang berbuat baik ketika dia tidak melihat peruntungannya di sana"

KONTEN MENARIK LAINNYA
x
4 September 2019