Mohon tunggu...
Egi Wandi
Egi Wandi Mohon Tunggu... Penulis - sedang belajar di Seminari Claret- Kupang

JLN. METANI KUPANG,RT/04, RW/05, PRA-NOVISIAT KUPANG

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Bangku Belakang

19 November 2020   15:30 Diperbarui: 19 November 2020   15:36 69
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Pada  20 Juli 2019, kami hadir di sini dengan berbau maskulin. Kulit Luar badan  tampak dosa, tidak bisa move on dengan pacar. Selalu  Teringat kisah satu malam saat datang ke sini.

Jam 3 sore saat  engaku membangunkan aku. Sebenarnya aku marah, karena aku tak sempat mencium kekasih dalam mimpiku. Dan disinilah siklus hidup kami mulai dibentuk dari metamorfosa. Suara kami seirama  dalam Rahim ini.

Di bangku belakang mencoret banyak kisah. Ketika rintihan air mata membanjiri sekujur tubuh. Dersikan angin yang gemalau menghalau luka dengan seribu kata yang menusuk seperti pedang bermata dua, membara di hati, mencabik-cabik seluruh sendi-sendi perasaan. Namun di bangku belakang ini kamu terpana menenangkan dunia batin. Walaupun sudah kerap dengan dunia gelap, menuntun ke pusat cahaya hanya padanya kamu menyerah.

Menyapa dari tak keterbatasan ketika mempertemukan dalam keheningan waktu, dimana waktu selalu membawa rasa untuk bersatu dalam nada C yang penuh harmoni hadir dalam relung. Seperti filsuf membawa kehidupan keheningan jiwa dan merenungkannya.

Canda tawa disaat secangkir kopi berputar sambil menuangkan petuah dan izinkan ke-30 anakmu mencoret kertas putih ini dilaburi dengan tinta hitam. Detakan waktu mulai terlarut dengan kisah 404 hari. Sorry kami tidak bias membawa senja.

Ruang yang kita pijak engkau telah berkelana di dunia batin kami. Sambil menyajikan sebuah bahasa yang membidik hati " aku memberi dari kekurangan bukan dari kelebihan". Sebuah ungkapan ketika engkau dirundung nestapa saat kami melampaui batas. Merambat datang sendu menyapamu.

Tak pernah merasa lelah dan tak pernah menyerah ketika anakmu berjalan melampaui kelam dan meninggalkan jejak. Tergores dalam lubuk hati namun semuanya tak mau cepat berlalu  sambil menilik akarnya.

Engkau selalu menahan teriknya mentari disaat kami hendak dibuang. Karena  perbuatan kami yang terkadang malas, kadang cuek, kadang menyembunyikan luka, dan berbau dupa. Maafkan kami karena belum terlalu mengerti ruang dan waktu.

Ketika katamu adalah dengusan kasar di atas luka dan puisi adalah ari matanya. Engkau kerap kali menangis karena terkadang ucapanmu tak pernah didengar lagi dan kecewamu tak dipedulikan lagi, bahkan pada suatu ketika dimana pendapatmu tak dihiraukan lagi. Senyum adalah perihal apa yang akan rasa enggan berbicara dan kata-kata tak mampu dirangkaikan.

Hatimu tersentuh ketika membutuhkan seluruh hidup untuk mengungkapkannya dan melaksanakan dalam keterbatasan ruang. Rasa percaya diri adalah kekuatan untuk menyatakan pada yang tersembunyi. Cerita inspiratif penuh filosofis disaat kami berlelah melangkah saat pasir putih mengusik kesunyiaan suasana. Layaknya seorang ibu memberi asupan kekuatan lewat plasentanya.

Hati kecilmu selalu menuruti apa yang kami kehendaki ketika kami merasa jenuh untuk mengais kata kehidupan. Suara kami seirama "hari ini kita movie saja". "Anak emangnya hidup ini dengan movie-movie saja", jawabmu sambil mencari film yang menarik untuk ditonton bersama. Menolak tapi menerima. Karena takut anak-anakmu kecewa dan menangis. Cintamu tidak berkarat seperti besi atau membusuk seperti mayat. "Aku mencintai kamu semua dan kalian tidak boleh mati ".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun