Mohon tunggu...
Egi Agustian Rahmat Sukendar
Egi Agustian Rahmat Sukendar Mohon Tunggu... Alumni INDEF School of Political Economy and Finance Jakarta

Izinkan hati dan akal memantik realitas sosial dalam bentuk sebuah karya sederhana

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Refleksi Konsep Ekonomi Menuju Kesadaran Berdakwah

17 Agustus 2019   14:43 Diperbarui: 17 Agustus 2019   14:56 0 0 0 Mohon Tunggu...
Refleksi Konsep Ekonomi Menuju Kesadaran Berdakwah
Sharianews.com

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita ialah masalah latarbelakang ekonomi. kondisi ini, menjadi isu perekonomian islam global yang mayoritas dirasakan oleh setiap negara. kenyataan ini sesungguhnya bersebrangan dengan kondisi objektif negara- negara Islam yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Akan tetapi, karena kekayaan itu belum dioptimalkan secara maksimal, berdampak pada ketimpangan- ketimpangan yang ada di tengah- tengah masyarakat.

Untuk membangun perekonomian Indonesia, masyarakat muslim dihadapkan pada problematika konseptual. Dalam permasalahan ini, umat Islam seperti disuguhi buah simalakama. Sebab, diakui atau tidak, epistimologi Islam Klasik belum mampu memfasilitasi dokumen -- dokumen teortis tentang konstruksi ekonomi Islam secara definitif sehingga "keawaman" para pelaku ekonomi setidaknya masih mendominasi di tengah- tengah masyarakat, disamping itu konsep -- konsep ekonomi barat, kapitalis dan sosialis, dewasa ini nyata ditemukan fakta sosial oleh para ekonom muslim bahwa teori -- teori tersebut mengakbitkan permasalahan -- permasalahan sosial yang cukup membahayakan masa depan manusia dan kemanusian. Oleh karenanya, konsep ekonomi Barat, pada beberapa sisi bersebrangan dengan konsep -- konsep dasar Islam, setidaknya tentang konsep kesimbangan dan keadilan.

Teori ekonomi Kapitalis yang mengutamakan kepentingan indiviudal telah memunculkan permasalahan sosial, seperti ketidakberpihakan kepada grasroot. Hilangnya nilai -- nilai moral yang berdampak pada ketimpangan sosial, eksploitasi terhadap alam secara berlebih-lebihan. Bahkan, Werner Sombart dalam Rahardjo (1993) menyatakan dalam sikap etis dan politis yang "netral", mengakui adanya satu sistem ekonomi barat yang dikuasai oleh tiga gagasan, usaha untuk memperoleh atau memiliki, persaingan dan rasionalitas.

Dalam tataran teknis konsep 'Kepemilikan' ini mengarah kepada kepentingan individual, atau kelompok tertentu yang bermuara pada ketimpangan ekonomi antara kelas atas dan kelas bawah. Kemudian dalam konsep 'Persaingan' semakin mempertontonkan kondisi yang cukup parah, di mana persaingan tidak sehat dan lepas kontrol etika lebih dominan dalam aktifitas ekonomi. Terakhir, konsep 'Rasionalitas' bermuara pada hilangnya norma- norma religi, yang dengannya para pelaku ekonomi hanya mempioritaskan kepentingan provan dan menyampingkan kesakralan dunia dan materi.

Pada sisi lain, teori ekonomi sosialis yang berlandaskan kepemilikan harta negara, kesamaan ekonomi dan displin politik yang ketat, berdampak pada hilangknya hak- hak privat, kediktatoran, sehingga sama hal hanya kapitalis yang tidak peduli dengan nilai -- nilai moral. Bahkan sosialisme menolak individualistik dan konglomerasi, tetap saja mempertontonkan kesewenang- wenangan dalam mengatur tatanan ekonominya yang dapat menyamai kesewenang -- wenangan konglomerat dalam sistem ekonomi kapitalis.

Ekonomi Islam didasari atas konsensus mengenai konsep ketahuidan, yang oleh karenanya dasar- dasar keimanan dan ketakwaan merupkan kebutuhan prinsipil dalam praktik ekonomi. pada aspek sosiologis, semua kegiatan ekonomi merupakan suatu kebutuhan manusiawi. Oleh karenanya, praktek ekonomi dilakukan untuk kebutuhan dan kepentingan kemanusian.

Definsi kemanusian di sini ialah berbeda dengan konsep humanisme modern, di mana nilai -- nilai dasar kemanusian tidak didasarkan atas hasil olah pikir manusia semata, melainkan atas dasar petunjuk Allah swt yang telah meniciptkan manusia. Pertama, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah meletakan iman sebagai pondasi dari perniagaan sebab ia merupakan kunci dari kecintaan kepada Allah, sehingga ia tidak akan melupaka-Nya ketika ia berdagang.

Yang berdampak pada praktik yang dilakukan memunculkan etika- etika kemanusian yaitu berdagang adalah ibadah transendental, sehingga keputusan -- keputusan yang diambil tidak akan menimbulkan keburukan, kepatuhan terhadap peraturan -- peraturan yang ditetapkan, serta akan selalu menerapkan nilai -nilai keadilan.  Kedua, perdagangan tidak dilaksanakan untuk mengumpulkan harta semata, melainkan harta tersebut menjadi sarana untuk kepentingan jihad di jalan Allah.

Refleksi konsepsi- konsepsi ekonomi di atas, agaknya penting untuk kita renungi bersama di hari kemerdekaan ini. di mana dasar negara kita menempatkan landasan teokrasi menjadi suatu hal yang fundamental, karena aktifitas yang tidak didasari iman tidak akan memberikan keberkahan di dalamnya. Sehingga tentu penulis mengajak para pembaca untuk ikut aktif dalam men-support perkembangan ekonomi Islam di Indonesia baik dalam tataran teortis maupun teknis, sehingga aspek ekonomi yang menjadi jantung negara Indonesia bisa sehat dan lancar menjadi katalisator aktifitas berbangsa dan bertanah air. Mulailah dari hal yang paling sederhana misalnya menabung atau menanamkan modalnya ke lembaga keuangan syariah, atau ikut mengkampanyekan pertumbuhan lembaga keuangan syariah dan halal product di Indonesia