Mohon tunggu...
Egi Sukma Baihaki
Egi Sukma Baihaki Mohon Tunggu... Blogger|Aktivis|Peneliti|Penulis

Penggemar dan Penikmat Sastra dan Sejarah Hobi Keliling Seminar

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Salahkah Mahasiswa Menulis Jurnal?

13 Mei 2018   16:04 Diperbarui: 13 Mei 2018   22:06 2577 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Salahkah Mahasiswa Menulis Jurnal?
Contoh Beberapa Jurnal Ilmiah (Dokumentasi Pribadi)

Perguruan Tinggi dengan lingkungan akademiknya  tidak bisa lepas dari kegiatan riset dan publikasi ilmiah. Garis-garis dari Tri Dharma Perguruan Tinggi seolah menjadi pecutan bagi para akademisi untuk terus berkontribusi kepada masyarakat, lingkungan dan ilmu pengetahuan, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan riset yang dapat bermanfaat untuk banyak orang termasuk mempublikasikan berbagai karya ilmiah. Mempublikasikan karya yang telah kita lakukan dapat menjadi media penyampai ide, gagasan dan solusi atas berbagai masalah. 

Beberapa tahun terakhir, sempat terdengar di berbagai media yang mempermasalahkan bahwa Indonesia tertinggal jauh dalam hal riset dan publikasi ilmiah.  Para akademisi dan peneliti dianggap kurang bergairah dan minim minat untuk menggalakkan riset dan publikasi ilmiah. 

Sejatinya, tuntutan untuk melakukan riset dan publikasi ilmiah sangat melekat bagi para akademisi.  Baik itu secara formal melalui aturan-aturan, maupun secara moral.  Secara formal seseorang yang memiliki gelar yang tinggi apalagi hingga guru besar dituntut untuk terus melakukan riset dan publikasi ilmiah setiap tahunnya. Jika itu tidak dilakukan, pihak terkait bisa saja melakukan evaluasi dan menurunkan pangkat atau gelar para akademisi tersebut. 

Di sisi lain secara moral,  gelar yang didapatkan tidak berarti menjadi tanda selesainya seorang akademisi termasuk mahasiswa dalam dunia akademik, tapi gelar adalah tanggung jawab moral yang diemban serta menjadi penanda bagi para akademisi untuk terus berkontribusi bagi masyarakat, lingkungan dan ilmu pengetahuan.

Sudah lumrah jika di tingkat pascasarjana para mahasiswa baik magister maupun doktoral baru boleh mengambil ijazah jika tesis maupun disertasi mereka telah diterbitkan menjadi buku dan dipublikasikan di jurnal internasional.

Lalu setelah itu bagaimana? Apakah jika setelah mendapatkan ijazah mereka tidak lagi produktif menulis dan tidak menjadi tenaga pengajar akan tetap diwajibkan untuk menulis dan mendapatkan sangsi jika tidak?  Ini adalah tugas dan jawaban yang perlu dipikirkan secara matang. 

Jika kondisi minimnya riset dan publikasi ilmiah selalu mengandalkan para akademisi yang memiliki gelar yang tinggi, maka peningkatan indeks hasil riset dan publikasi ilmiah Indonesia tidak akan bergerak secara drastis.

Sebenarnya ada solusi lain yang bisa ditingkatkan, yaitu menggalakkan riset dan publikasi ilmiah bagi para mahasiswa termasuk mahasiswa sarjana. 

Mahasiswa dibentuk dengan sikap kritis dan dipenuhi dengan tugas yang diberikan oleh para dosen. Makalah yang selama ini dibuat oleh para mahasiswa hanya menjadi tumpukan file yang tersimpan setelah dipresentasikan atau dinilai. Tugas-tugas itu jika dikembangkan dan diolah lebih baik sebenarnya akan layak untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah. 

Jika publikasi ilmiah hasil dari para mahasiswa sarjana dianggap kurang layak atau kurang berkualitas, maka para pimpinan Perguruan Tinggi dan pihak terkait sudah seharunya memfasilitasi atau ikut meningkatkan potensi publikasi ilmiah para mahasiswa sarjana baik secara metodologis melalui pelatihan maupun dengan dukungan aturan dan finansial. 

Jika para dosen negeri melakukan riset dan publikasi ilmiah, mereka akan mendapatkan poin yang akan berpengaruh terhadap pangkat mereka yang dapat menghantarkan mereka ke puncak karir para akademisi yaitu sebagai guru besar. Lantas bagaimana dengan mahasiswa sarjana? Apa yang akan didapatkan oleh mereka jika melakukan riset dan publikasi ilmiah?  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN