Mohon tunggu...
Eftrida Yuliana
Eftrida Yuliana Mohon Tunggu... Petani - Mahasiswi Pertanian

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Perantau sebagai Penyintas Covid-19

25 Juli 2021   02:03 Diperbarui: 25 Juli 2021   02:12 56 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perantau sebagai Penyintas Covid-19
Ilustrasi virus COVID-19 (photo by cdc on unsplash)

Tidak ada kata main-main saat kita membahas COVID 19. Ya, virus yang masih saja menjadi permasalahan diseluruh dunia.

Semua berawal ketika saya merasa tenggorokan saya sakit dan mengira bahwa itu hanyalah sakit tenggorokan biasa. Tiga hari berlalu, saya masih mengalami sakit tenggorokan bahkan disertai pusing dan badan saya terasa ngilu. Saya sempat berpikir apakah saya terkena covid-19 dan dugaan saya semakin kuat saat di hari ke empat indera penciuman saya menghilang. Saya pun memutuskan untuk swab dan hasilnya positif.

Sebagai perantau yang jauh dari orangtua saya sangat merasa kebingungan dan khawatir tetapi berkat inisiatif Ayah saya yang langsung menelefon satgas covid Salatiga dan satgas Covid kampus tempat saya berkuliah maka saya langsung mendapatkan penanganan. Kondisi lingkungan dan kondisi saya yang tergolong gejala ringan memungkinkan saya untuk isolasi mandiri di kost.

Dengan bantuan satgas covid kampus tempat saya berkuliah, saya tidak perlu pusing bagaimana saya harus makan karena setiap hari saya diantarkan makanan. Begitu pula dengan kebutuhan-kebutuhan saya lainnya saya dapat menitipkan kepada teman-teman kost saya bahkan tidak sedikit yang memberikan perhatian dengan memberikan vitamin, buah-buahan, dan makanan lainnya. Saya sangat bersyukur dan berterimakasih terhadap orang-orang baik yang telah membantu dan mensupport saya dalam menjalani masa isoman.

Sungguh tidak enak rasanya ketika kita sakit tetapi jauh dari orangtua, dan saya pikir orangtua saya pun tidak menyukai situasi ini karena hal seperti sangatlah membuat mereka khawatir. Setiap hari orangtua saya menghubungi saya untuk menanyakan kabar saya dan mensupport saya, bahkan karena terlalu khawatir orangtua saya hamper saja datang ke kota tempat saya merantau tetapi saya melarangnya untuk keamanan kita bersama.

Selama isolasi mandiri saya harus melakukan beberapa rutinitas yang tidak boleh dilewatkan seperti makan tepat waktu, minum vitamin dan obat, meminum air kelapa wulung atau susu steril, berjemur, mencuci hidung menggunakan NaCl, kumur-kumur menggunakan mouthwash, serta melakukan olahraga ringan.

beberapa keperluan selama isoman (dokumentasi pribadi)
beberapa keperluan selama isoman (dokumentasi pribadi)

Situasi ini mengingatkan saya bahwa kalimat "sehat itu mahal" sangatlah nyata.

Saya menyelesaikan masa isoman saya setelah 14 hari dari hari saya menerima hasil swab positif saya. Walaupun saya sudah selesai isoman tetapi penciuman saya belum kembali normal 100% dan memang untuk perihal anosmia butuh waktu agak lama untuk kembali normal.

Saya berharap angka penderita COVID-19 bisa terus menurun dan angka penerima vaksin bisa dengan cepat meningkat agar Indonesia bisa segera mencapai herd immunity. Semoga kita semua sehat selalu dan dijauhkan dari segala penyakit maupun virus corona.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x