Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Pecinta filsafat, pengetahuan budaya dan industri

Segala yang indah harus berfungsi dan bermanfaat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kerja Bagai Kuda, Terus Apa Guna Kreativitas?

4 November 2019   01:14 Diperbarui: 4 November 2019   01:39 21 0 0 Mohon Tunggu...

Sebuah berita dari media internasional memberitahu apa yang menjadi kiat sukses Elon Musk, bos SpaceX. Dia tidak libur, mungkin lebih tepat jarang berlibur.

Liburan itu sebuah siksaan, bagi seorang jenius Elon Musk.

Namun, hanya orang tolol mengamini sikap demikian. Beberapa orang mengagumi 'kelelahan' itu. Sebuah sensasi kenikmatan.

Ada sebab Elon merasa tidak nyaman dengan liburan.

"...Pertama kali saya libur, roket Orbital Sciences meledak dan roket (Virgin Galactic) Richard Branson meledak di minggu yang sama. Kedua kalinya saya libur, roket saya meledak," katanya di salah satu stasiun televisi Denmark pada 2015 dikutip dari CNBC Indonesia melansir CNBC, Minggu (3/11/2019).

Atau mengikuti nasihat bekas Bos Alibaba, Jack Ma yang pernah berkata kurang lebih, manusia harus bekerja keras agar sewaktu tua, ada yang kaubanggakan kepada anak dan istrimu. 

Ini lebih mengerikan. Akibat kerja terus, pasutri abai untuk membuat anak di atas ranjang.

Satu pertanyaan muncul, mengapa mereka berpikir harus melakukan kerja menyikas semacam itu? 

Kedua, mengapa kita harus mengikuti ucapan mereka?

Manusia itu makhluk unik. Dia mempunyai ide, berimajinasi melampaui batas. Tak ada satu pun manusia di dunia bisa berimajinasi persis seperti imajinasi orang lain.

Elon tidak akan berimajinasi sama seperti si Polan.

Manusia memang harus bekerja. Dari situ, dia akan menemukan nilai. 

Dia menghasilkan karya. Itu adalah nilai.

Sekali lagi, diingatkan manusia dibentuk dengan badan. Natural. Selain imajinasi, kemampuan fisik manusia berbeda.

Anda kagum pada karya Elon. Publik kagum atas pencapaian Jack Ma. 

Mereka memberi senyum kepada orang. Tesla yang mobil listrik itu menjadi jawaban untuk menghapus polusi yang timbul dari gulungan asap kendaraan.

Jack Ma menjadi solusi bagi perdagangan dan kemudahan layanan, misalnya.

Jadi, karya mereka adalah inspirasi. Bahwasanya mereka bekerja sangat keras hingga lupa tidur adalah hal lain. 

Itu bukanlah sebuah sukses, melainkan mimpi buruk.

Sebuah anggapan bahwa manusia yang bekerja (job) adalah kisah sukses.

Setelah itu, Anda mendapatkan pundi-pundi keuangan. Siklus menahun berabad-abad. Alhasil, uang adalah nilai.

Teori klasik: hukum permintaan. Seberapa besar permintaan untuk produk tertentu.

Jika banyak dan langka, semakin tinggi nilainya. Sebaliknya, sedikit yang meminta tetapi banyak yang beredar: jual murah.

Jangan lupa, pasar itu dibentuk oleh selera: mana kebutuhan dan mana keinginan.

Namun, manusia adalah makhluk imajinatif. Ia menghasilkan penemuan baru atau inovasi. 

Kata lainnya, kreatifitas.

Kita menaruh hormat pada Elon Musk. Kita mengangkat topi untuk kelincahan Jack Ma.

Tepatnya, untuk karya mereka, bukan kelakuan mereka.

Karya mereka memudahkan hidup manusia.

Zaman kian canggih. 

Bukankah setiap karya ditujukan untuk mmemudhkan dan membahagiakan hidup manusia?

Mengapa kita harus kagum pada kelakuan aneh bagaikan kuda?

Lalu, sekonyong-konyong orang meniru tingkah Elon. Alhasil, karya yang tercipta boleh dibilang menyusahkan pula. Dia lupa pada imajinasinya.

Lebih konyol lagi masyarakat saat ini kejam bukan main: jika Anda tidak bekerja, maka rendahlah manusia itu.

Ah, sebuah pernyataan dari zaman nenek moyang. Diwariskan turun-temurun sampai ke era millenial.

Maka, artinya pikiran masyarakat saat ini memang kolot. Sejarah penindasan yang tereka ulang.

Berhentilah mendewakan kerja bagai kuda. Sebab pekerjaan yang dilakukan hanya repetitif. Itu-itu saja diulang-ulang. 

Ibarat menghitung jumlah bulir sekilo gula kristal. Ini pun bekerja. Tetapi, Anda menjadi seorang nir-imajinasi. Tidak ada waktu untuk menaklukan dunia.

Elon melakukan itu karena imajinasinya terbatas. Hanyalah dia yang mengetahui karyanya. Dia tersandera.

Ah, ini sudah banyak basa-basi. Pada akhirnya, kesimpulan. Aku ingin berladang imajinasi, aset terakhir di dunia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN