Efrem
Efrem Penulis lepas

Sahabat sejatimu ada di tengah malam

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Ungkapan Terindah untuk Menengahi Isu Golput Jelang Pemilu 2019

24 Maret 2019   03:16 Diperbarui: 24 Maret 2019   03:50 146 2 1

Golongan putih (golput) muncul sebagai perlawanan atas ketidakpuasan warga negara terhadap calon-calon pemimpin negara yang akan bertarung pada pemilihan umum (pemilu). Mereka memilih untuk tidak mencoblos surat suara saat pelaksaan pemilu dengan pertimbangan tertentu.

Apakah golput merupakan alternatif baru atau benalu yang akan mendesain demokrasi di Indonesia?

Pemilu 2019 akan digelar kurang dari beberapa minggu lagi. Warga Negara Indonesia akan memilih anggota legislatif dan Presiden dan Wakil Presiden untuk berkuasa selama lima tahun mendatang, terhitung dari 2019 hingga 2024.

Pemilu sebagaimana diungkapkan dalam beberapa periode merupakan sebuah pesta demokrasi. Perayaan yang menelan anggaran sebanyak Rp24,8 trilun. Lalu, mengapa sebagian orang menganggap pesta ini tidak perlu dikunjungi?

Alasan utama yang menguatkan keyakinan untuk tidak memilih dalam pemilu adalah kekecewaan. Aktivis Lini Zurlia memutuskan untuk golput setelah calon petahana Joko Widodo menggandeng KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil Presiden.

"Calon wakil Presiden yang ia pilih mempunyai rekam jejak yang memberikan kontribusi terhadap tajamnya konflik pada agama yang melahirkan konflik berdarah," kata Lini Zurlia dalam konferensi pers dikutip dari BBC Indonesia, (23/1/2019).

Alasan lain dikaitkan pada rekam jejak Prabowo, lawan Jokowi, yang dianggapnya memiliki hubungan dengan pelanggaran HAM. 

Di sisi lain, kekecewaan itu terbentuk karena anggota DPR RI dan DPRD tidak mampu sepenuhnya menunjukan kualitas representatif mereka. Hal yang kemudian mempertebal keyakinan sebagian orang untuk golput dalam pemilu.

Golput menjadi ancaman dan ketakutan bagi masing-masing paslon beserta pendukungnya manakala jumlah mereka diperediksi akan meningkat dibanding Pemilu sebelumnya yang bervariasi sekitar 23-30 persen.

Angka sebesar ini akan menjadi ladang baru untuk meningkatkan potensi suara kepada lawan masing-masing yang bukan tidak mungkin akan membalikan hasil survey Pemilu yang beredar sementara ini.

"Pemilih jenuh akan polarisasi yang terjadi, sehingga kecenderungan golput semakin tinggi," ujar Ikrama, peneliti Lingkaran Survey Indonesia (LSI) dikutip dari Tempo.co, Selasa (19/3/2019).

Data KPU menunjukan, pada pemilu 2004 angka golput mencapai 23, 3 persen. Pada pemilu 2009, angka golput mencapai 27,45 persen. Dan pada pemilu 2014, angka golput mencapai 30,42 persen.Selain alasan ideologis, persoalan seperti minimnya informasi, lokasi TPS yang jauh dari lokasi pemilih menjadi faktor lain yang memaksa orang harus golput.

Namun, dengan kondisi saat ini, mari kita berpikir rasional atas fenomena golput. Jika mendasarkan pada faktor ideologis dan rekam jejak, golput adalah sebuah kemunduran nalar berwarganegara.

Suka atau tidak, pada kenyataanya, Indonesia akan dipimpin oleh Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024. Eksistensi negara terpenuhi lewat kehadiran seorang pemimpin.

Anda tidak mungkin menggenalisir seluruh keraguan terhadap dua paslon tersebut. Mereka memiliki keunikan, sekalipun Anda yakin tidak akan ada kepastian terhadap penuntasan HAM dan sebagainya.

Lihatlah ke depan saat Anda berjuang untuk menuntut sang Presiden menggenapi janji-janjinya. Ada sandungan moral. Anda tidak dapat menuntut lebih jauh karena Anda tidak menghadiri pesta. 

Anda mungkin mengelak argumen ini karena sejatinya Anda memiliki hak sebagai warga negara untuk menuntut Presiden menuntaskan pelanggaran HAM yang terjadi bahkan menyeretnya ke pengadilan internasional. 

Namun, perahu telah berlayar mendekati pelabuhan dan orang-orang telah menyiapkan pesta penyambutan sang nakhoda baru. Ketika kemudian beberapa orang dari gerbang datang berlari dan berteriak menyampaikan kabar kematian di desa seberang dan Anda meminta sang pemimpin melayati mereka, tugas Anda selesai sebatas pembawa kabar kematian. 

Apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang yang berpesata di sana? Mereka mengucapkan, "kami turut berduka cita." Anda tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan kepada Presiden penyebab kematian orang-orang di desa seberang. 

Dia tentu dengan alasan yang paling masuk akal berpikir bahwa orang-orang di hadapannya lebih membutuhkan kebahagiaan ketimbang keadilan.Seseorang di antara kerumunan itu berseru dengan membisikan kepada Anda, 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2