Mohon tunggu...
Efrem
Efrem Mohon Tunggu... Pecinta bahasa Indonesia, pembelajar filsafat, wacana, dan ekonomi

Sahabat sejatimu ada di tengah malam

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Penjaga Makam

24 Desember 2018   05:45 Diperbarui: 24 Desember 2018   06:16 188 4 1 Mohon Tunggu...

Arsamarya, ia adalah ibuku. Rerumputan menyamarkan guratan nama di batu nisan ketika aku berhenti beberapa langkah dari makam. Sepetak tanah menjadi rumah terakhir untuknya. Aku berjalan dengan langkah pelan
mendekat sampai  rumput setinggi hingga mencapai lutut.

Di sampingku, Derman yang telah berjalan menemani aku sejak dari gerbang masuk. Dia seperti lelaki tua pada umumnya, keriput melekat pada wajah hitamnya. Dia penggali kubur dan penjaga makam, namun dia tidak menyukai berbicara banyak mengenai pekerjaannya. Derman dengan cekatan mencekram ilalang-ilalang di makam ibu.

"Tidak," ucapku sambil menepis tangannya.

Derman membalas ucapanku dengan tatapan tajam. Dia memilih mundur, namun amarah mendorong lengan tangannya untuk menarik kencang sejumput rumput tadi hingga tak bersisa dari tanah makam.

Aku tidak menghiraukan dia dan pandanganku tidak berubah arah dari nisan Ibu.

"Sudah dua tahun," Derman memulai pembicaraan.

"Aku butuh alasan kuat untuk datang kemari," balasku.

"Dia Ibumu."

"Terdengar masuk akal bagimu, kau mengira kehidupan normal terlihat ketika seorang anak menghormati Ibunya sambil menangis di atas makamnya. Aku datang kemari untuk menghormati kehidupannya," ucapku.

Derman menarik napas agak dalam. Dia tidak lagi membalas ucapanku.

"Hanya aku yang dimilikinya saat hidup dan saat kematiannya. Aku akan membayar lunas pekerjaanmu setelah ini," ucapku.

"Tidak." Derman menolaknya.

"Ini bukan sebuah balas budi, ini untuk pekerjaanmu, mulai sekarang bersungguh-sungguhlah untuk membersihkan makam Ibu," ucapku.

"Rumput-rumput ini, aku tidak mengerjakan apapun selama ini," ujar Derman.

Derman adalah satu-satunya pelayat yang datang ke pemakaman Ibu saat itu, bersama aku dan pastor yang memimpin upacara pemakaman. Dua orang penggali kubur sedang menikmati asap tembakau beberapa meter dari liang lahat. Kematian Ibu yang damai dan hening.

"Aku berpikir bahwa tidak seorangpun akan mengubur dan menghadiri pemakamanku. Kematianku tidak ada akan mempengaruhi hidup orang. Penggali makam tidak akan mau mengantar teman mereka pada liang lahat," kata Derman.

Dua tahun adalah waktu yang berlalu dengan singkat setelah aku membuka kotak memori masa lalu. Kehidupanku dilucuti oleh Ibu. Dia mengajakku untuk tidak menangisi kematian. Orang hanya boleh menerima tragedi dalam kehidupan. Kami memiliki banyak kesamaan, termasuk pada nasib.

Akan tetapi, aku tidak selalu menerima tragedi sebagai kondisi natural yang harus diterima. Ibu sempat menolak kehadiran Helena. Kami akan bertunangan. Namun, ini adalah mimpi buruk dalam hidup Ibu. Sebulan sebelum kematian Ibu, tidak ada restu. Aku melawan, akan tetapi Ibu tetap pada keputusan awalnya. Aku patah ara. Aku mencintai Helena.

Kemiskinan telah merawat kedamaian dalam hidup kami. Ayah meninggal sewaktu aku berumur dua bulan. Dia tidak menyisakan uang apapun, bahkan tidak seperak pun meski sekadar membelikan sebutir beras untuk makan kami setelah kematiannya.

Ibu berpikir bahwa kemiskinan adalah hal terbaik untuk memberikan kepadaku sebuah makna hidup yang sempurna. Karena itu, dia tidak mengirimku ke sekolah sebab dia takut segalanya akan berubah di dalam ruang itu.

Dia salah. Aku telah melawan kehidupan dan mengambil kesempatan untuk mempertahankan hidup kami. Ibu tidak memiliki alasan untuk membenci pilihanku saat itu.

Kecuali sikapnya pada Helena.

Ibu beberapa kali menyerang Helena demi menunjukkan konsekuensi pahit ketika seorang gadis merenggut cinta dariku. Hal ini lebih sederhana ketimbang aku mengetahui Ibu merencanakan pembunuhan terhadap Helena. Ibu bersumpah akan mengakhiri hubungan kami apapun caranya. Aku pikir, dia sudah kehilangan akal sehat.

Helena memilih untuk berpikir rasional menyikapi keadaan. Tidak ada pertimbangan atas nama cinta. Segalanya harus diputuskan dengan rasional. Ia memutuskan untuk melepaskan hubungan asmara denganku agar masing-masing di antara kami dapat hidup tenang.

Aku melawan keputusannya, namun dia telah memberikan batas untuk menghindari alasan absurd. Helena menatapku dan mengatakan wajahku sangat buruk karena memperlihatkan kemiripan dengan Ibu.

Helena telah terjebak pada ilusi, sebuah ketakutan dan kebencian. Aku pikir, saat itu aku telah kehilangan akal sehat telah mendengar ucapannya. Aku tidak menemukan manusia selain aku dalam kehidupan. Semua relasi antar manusia diukur lewat sebuah timbal balik yang saling menguntungkan. Bahkan, wanita di rumah bordil yang aku cumbui hanya menawarkan tubuh mereka tanpa ada sebuah keseriusan untuk membicarakan tragedi kehidupan.

Derman masih menatap kosong ke arahku. Aku membalikkan pandanganku kepadanya.

"Kau tahu, aku akan mati seperti Ibu," kataku.

Derman tidak membalas ucapanku. Dia bernapas setenang mungkin. Aku menarik secarik kertas keluar dari kantong mantel hitam, lalu menuliskan sebuah wasiat.

"Kau orang baik, aku akan menyerahkan lima peternakanku kepadamu. Ini hanya pemberian kecil, terimalah. Aku hanya ingin seperti orang lain, mendermakan sebagian kecil hartanya dengan rendah hati kepada orang lain," kataku.

"Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak mengenal siapa dirimu, aneh," ucap Derman.

"Aku tidak ingin mengulang lagi," balasku.

"Begitu juga aku."

"Baiklah, kau membuatku jengkel." Aku menyobek wasiat itu sampai ke lembar terkecil dan melumatnya di bawah sepatu.

Keadaan seketika menjadi hening. Suara rerumputan dengan daun-daun membungkuk yang bergesekkan terdengar akibat menahan tiupan angin.

Aku mencium bau pemakaman yang bercampur dengan tulang belulang yang mengelilingiku. Tangan kananku bersembunyi di balik mantel untuk beberapa saat. 'Krek', bunyi kecil itu memecah keheningan bersamaan dengan napasku yang tidak lagi beraturan.

Aku mengangkat S&W revolver itu pelan-pelan bersanding di sekitar lututku.

"Aku telah kehilangan akal untuk memperbaiki semua hidupku. Dia selalu berkata kepadaku, masuklah dalam dekapan. Aku ditakdirkan memiliki nasib yang sama atas Ibu, kehidupan kami adalah garis yang sama."

Aku melebarkan senyuman setelah mengatakan itu. Moncong revolver tepat di sebelah mata kananku.

Derman yang menyaksikan segala sesuatunya tetap menguatkan kedua kakinya untuk tidak bergerak merespon perbuatanku.

"Aku akan meninggalkan mimpi buruk untukmu, Pak tua yang malang. Sesaat tengkorak kepalaku meledak, polisi akan menahanmu dan memintamu untuk berkata tentang apa yang kaulihat. Kau hanya memiliki dua pilihan, berbicara atau menikmati siksaan yang lebih parah untuk membuatmu bicara. Orang-orang yang hidup akan membuntuti semua hartaku dengan wajah tolol menangis untuk melupakan kepalaku yang tanpa rupa."

"Aku pernah menyaksikan yang lebih buruk dari ini. Aku khawatir saat ini aku hanya peduli pada hidupku," ucap Derman.

Aku mulai tertawa lepas tanpa perlu mendalami kalimat yang baru diucapkannya. Aku bergegas membalikkan pucuk revolver membidik wajah Derman dari jarak yang sangat dekat.

"Bagaimana kau akan mengatakan peduli pada hidupmu sekarang?"

Derman berdiri dengan kepala tegak. Ia memandang lurus segalanya di bawah cakrawala untuk membiaskan wujud revolver di hadapannya.

"Kau orang malang. Aku tidak meminta kematianku sekarang."

Aku membiarkan pandanganku tetap mengikuti raut wajah si tua yang akan mendekati kematiannya. Udara dingin kota ini menyerang ke seluruh tubuhku dan membuatku semakin bersemangat.

"Kau sangat berani untuk melawan dirimu. Kau ingin hidup menyaksikan matahari akan terbit, namun membiarkan kematian sebentar lagi menjemputmu."

"Waktuku tidak lama lagi."

"Kau ingin melawanku juga?"

Aku semakin kencang tertawa menghadap langit dan secepat mungkin mereda setelah menutup mulutku pelan-pelan. Aku menyerahkan revolver itu kepada Derman.

"Kau tahu apa yang harus kaulakukan."

"Tidak."

"Cepat lakukan orang tua bodoh!"

Derman meraih senjata itu memakai tangan kanannya. Ia tidak melakukan banyak gerakan dan membiarkan revolver itu berada di balik punggungnya.

"Kau membunuh Ibumu."

"Iya, aku membunuhnya, aku seorang pembunuh," suaraku lantang sebelum mengakhiri pertemuan sore itu.

Aku, Derman menjadi orang terakhir pada saat kematian Oliver. Dia meninggal dua bulan setelah pertemuan di pemakaman itu.

Suatu sore yang tenang, dia mengajak aku bertemu di Cafe Lesce untuk membicarakan sesuatu terkait bisnis, katanya. Aku mengerti bahwa pertemuan ini akan sia-sia jika dia serius mengatakan semua secara matematis.

Namun, dia berkata seseorang dengan kebencian telah membuntuti hidupnya. Oliver tidak berbicara banyak. Dia mengatakan semuanya nampak sederhana untuk aku bisa mengerti. Dia tidak bernyawa di depan secangkir kopi yang telah diminumnya setengah jam lalu.

Ratusan orang menjadi pelayat di pemakaman. Aku mendengar runtuhan air mata turun bersama hujan saat itu.

Lima hari setelah kematian itu, polisi meminta keteranganku sebagai saksi. Aku menjawab semua pertanyaan penyidik dengan suara terbata-bata mengingat usia yang semakin mengganggu tubuhku. Mereka telah menarik kesimpulan dan tidak mempunyai alasan yang cukup kuat untuk menahanku.

Aku kembali ke pemakaman untuk membereskan pekerjaan. Sebuah sedan merah berjalan agak pelan mengitari jalan di depan pemakaman. Mobil itu mendekat dengan tempatku duduk saat ini sehingga aku mengira akan ada tamu yang akan aku temui. Seorang gadis turun seorang diri dari dalam mobil itu. Helena datang menyapaku. Dia ternyata gadis yang sangat manis. Namun, aku tidak lagi mudah tergoda pada penapilannya.

"Apa Oliver memberitahumu mengenai bagian warisan yang aku terima?" ujar Helena dengan suara mengalir.

"Tidak."

"Mengapa?"

"Kau telah membunuh dia dan Ibunya."






VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x