Mohon tunggu...
Efrain Limbong
Efrain Limbong Mohon Tunggu... Nasionalis

Menulis Untuk Peradaban

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Narasi Antagonistik dan Ketidakpantasan Berkomunikasi Elit Politik

10 Maret 2021   11:32 Diperbarui: 10 Maret 2021   13:23 84 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Narasi Antagonistik dan Ketidakpantasan Berkomunikasi Elit Politik
Dokumentasi Pribadi


Pernyataan Bupati Lebak dalam kapasitas elit Parpol, Iti Octavia Jayabaya yang akan mengirim santet kepada Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko, adalah bentuk narasi antagonistik di ruang publik.

Mengapa antagonistik, karena narasi yang dibangun bertujuan untuk mendegradasi dan mensegregasi keberadaan Moeldoko. Narasi santet bagi publik, adalah sesuatu yang berkaitan dengan horor. Melakukan santet adalah sebuah perbuatan yang tidak mendapat empati dan simpati di jaman modernitas sekarang ini.

Walaupun sudah melakukan klarifikasi, bahwa pernyataan akan mengirim santet hanya sebagai bentuk emosional semata, namun tetap saja tidak dapat diterima dengan nalar sehat. Dan terlanjur disesalkan publik. Apalagi dilontarkan oleh elit politik yang juga kepala daerah, dimana seharusnya membangun narasi agonistik di ruang publik.

Narasi agonistik adalah narasi yang berkaitan dengan program, gagasan dan peradaban kemasyalahatan kehidupan banyak orang. Sangat bertolak belakang alias kontradiksi dengan narasi antagonistik yang meresistensi, serta mendegradasi pihak lain di ruang publik.

Beberapa waktu yang lalu salah seorang Bupati di Provinsi saya berdomisili  juga pernah melontarkan ancaman akan melakukan doti (Santet) kepada seorang anggota DPRD. Kasus ini akhirnya berproses hukum dan menyita perhatian publik  yang menyayangkan adanya kasus santet tersebut.

Jika sadar akan kapasitasnya sebagai elit politik, Iti Octavia juga seharusnya sadar, bahwa dirinya berperan sebagai komunikator politik. Sebagai komunikator politik, maka pesan politik yang terbangun di ruang publik adalah terkait citra positif. Citra positif tersebut baik dalam kapasitas sebagai kepala daerah, maupun partai politik tempatnya bernaung.

Dalam berbagai literasi yang ada, tidak ditemukan referensi yang menyebutkan bahwa pesan dari komunikasi politik adalah membangun citra negatif. Selalu yang disebutkan yakni membangun citra positif partai.

Sebut saja dalam buku Komunikasi Politik Soekarno atau Komunikasi Politik Pada Era Multimedia, didalamnya menyebutkan pesan dari komunikasi politik adalah membangun citra positif partai. Baik dalam dimensi pesan nilai, simbolik maupun struktural.

Entahlah apakah sang Bupati yang lalai dengan literasi, atau karena belum sempat memahami peran sebagai komunikator politik yang menghadirkan dimensi pesan nilai. Namun yang jelas narasi antagonistik yang dilontarkannya terlanjur membangun citra negatif di ruang publik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN