Mohon tunggu...
Efi Fitriyyah
Efi Fitriyyah Mohon Tunggu... Administrasi - Kompasianer Bandung

Blogger Bandung

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Inovasi Balitbang PUPR untuk Pengelolaan Sampah

5 Desember 2017   20:42 Diperbarui: 7 Desember 2017   10:49 950
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pada hari itu di lokasi acara pun disediakan box khusus untuk menampung sampah  plastik keresek dari para pengunjung acara nantinya akan diolah sebagai bahan campuran aspal.  Keren! Semoga bukan hanya pengunjung acara hari itu saja yang sudah aware soal ini tapi juga di kota-kota lainnya.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Pengelolaan Sampah Dapur  Jadi Bernilai Ekonomis

Selain sampah plastik, seperti yang sudah saya bahas sebelumnya di atas, masalah sampah rumah tangga juga jadi  masalah umum bagi kita untuk mengelolanya. Hampir dari setengahnya sampah total di Indonesia (data tahun 2016  tercatat mencapai porsi 44,5%).

Di Bandung sendiri volume sampah rumah tangga mencapai angka sebanyak 1.500 ton yang dihasilkan setiap harinya. Buat saya mengerikan kalau setiap hari terus bertambah tapi tidak bissa dikelola dengan baik.  Sampah dapur seperti bekas sayur yang tidak termakan karena basi atau sisa cahan dari batang sayur, kulit buah dan sejenisnya termasuk yang sering kita buang setiap harinya.

Di hari yang sama, saya berkesempatan untuk ngobrol dengan Ibu  Lya Meilany Setiawati,  dari Puslitbang Perumahan dan Permukiman.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Untuk pengelolaan sampah rumah tangga agar residunya lebih sedikit dari sebelumnya  bisa kita lakukan dengan cara pemilahan, pengolahan melalui teknologi yang sederhana dan praktis yang bisa kita manfaatkan dengan barang-barang yang ada di sekitar kita sendiri. Baru sisanya dibawa oleh petugas sampah.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Komposter Bekas Cacing (Kascing)

Di antara sampah rumah lainnya, sampah dapur adalah sampah yang paling cepat membusuk, menguarkan aroma tidak sedap bila tidak dikelola dengan baik. Namun baru-baru ini penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang PUPR menemukan cara pengelolaan  yang unik dengan sistem Composting dengan kascing (bekas cacing).

Untuk mengelolanya kita membutuhkan tiga bahan utama yaitu kompos, tanah,  dan kotoran hewan sapi  yang sudah kering dengan perbandingan 3:1:1. Jangan khawatir soal bau yang ditimbulkan dari kotoran sapi. Kotoran sapi ini tidak mempunyai bau seperti kotoran hewan lainnya.  Setelah ketiga bahan ini kita simpan dalam wadah, barulah limbah rumah tangga dari dapur tadi kita masukan ke dalam komposter.

Untuk membuat komposter dari limbah dapur ini tidak asal kita masukan begitu saja.  Sebelumnya sampah dapur ini harus kita tiriskan dulu sampai kadar airnya tidak lebih dari 50%. Cara untuk memastikannya adalah tidak ada air yang menetes dari sela-sela jari kita bila sampah ini kita kepal dengan jari-jari tangan.  Selain itu kita juga bisa memanfaatkan tetesan air dari sampah dapur ini dengan meniriskannya dalam kantung plastik dan memanfaatkannya untuk  menyiram tanam.

Caranya begini:

  •  Wadahi sampah organik  dalam plastik  yang sudah dibolongi agar tertiriskan
  •  Masukan ke plastik kedua untuk menampung air. Airnya bisa dipakai untuk menyiram tanaman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun