Mohon tunggu...
Efi anggriani
Efi anggriani Mohon Tunggu... Wiraswasta

Menulislah dan biarkan tulisanmu mengikuti takdirnya-Buya Hamka

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Kepekatan Kopi yang Kurasa

22 Juli 2019   03:00 Diperbarui: 22 Juli 2019   03:25 0 7 2 Mohon Tunggu...

Terlalu pekat dan pahit rasanya saat kuamati di antara beberapa cangkir kopi yang tersedia,lalu kupilih satu kopi dengan cangkir paling lama nampaknya

Lalu  satu sendok rasa kopi itu menenggelamkan kepahitan dan serasa terjatuh di alam para pengerut dahi dan tak pernah menikmati hari dan memandang masa depan tanpa simpati dan empati, kutinggalkan kopi yang kupikir terbaik itu

Kucoba sesendok yang lainnya dengan cangkir lain  saking usangnya dan seharusnya tak dipakai lagi,satu sendok kopi menenggelamkanku dalam alam nyanyian merdu penuh gembira dan tawa serta senyum cerah menghias pandangan mata,kupikir aku akan bertahan disana

Lalu sesendok lainnya dari cangkir transparan dan terlihat kepekatan dan ampas kopinya,antara gula dengan kopi sedang berseteru padahal mereka harusnya bersatu,yang satu bersikukuh hitam dan yang satu bersikukuh putih dan sesendok krimer menambah campur aduk kopi ,bahkan krimer merasa berkuasa dan ingin merubah kopi dan gula menjadi krimer semuanya seolah-olah paling berkuasa,menguasai ruang kopi disana,ku belum mengaduknya hingga menyatu,mungkin ku tak suka krimer

Melihat tiga kopi yang berbeda,melihat semuanya dan merasakannya dan harus memilih salah satunya,cangkir kopi usang tak mengapa, kurasa,akan kuganti sendiri cangkirnya

Kubagikan pada mereka dengan pilihannya ,ada beberapa yang sama ada beberapa yang berbeda dan aku memilih yang kusuka,kopi gembira