Mohon tunggu...
Yulius Efendi
Yulius Efendi Mohon Tunggu... Sedang Menjalankan Studi

Laki-laki

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Kepala Sekolah yang Humanistik

2 Agustus 2020   22:39 Diperbarui: 2 Agustus 2020   22:58 33 4 0 Mohon Tunggu...

Pendahuluan

 Kehadiran seorang pemimpin dalam organisasi sangat penting dalam menangani perubahan, dan perubahan terjadi bukan karena tindakan pemimpin terhadap orang lain, tetapi tindakan pemimpin bersama dengan orang lain (Colbert, Nicholson, & Kurucz, 2018). 

Dalam konteks ini, kehadiran seorang pemimpin mendukung hubungan dan dialog antara pemimpin dan pengikut dalam beberapa dimensi kemanusiaan, seperti; pengikut menemukan makna dan visi di tempat kerja, komunikasi persuasif, partisipasi dan otonomi, perlakuan adil, tanggapan konstruktif, mengembangkan tujuan dan pertumbuhan pribadi, sebagai model peran (Peus & Frey, 2009).

Peran kepala sekolah dalam menghadapi kemajuan di bidang pendidikan di era revolusi industri 4.0, sebagaimana yang terjadi di Indonesia, hanya menjalankan peran administratif dan belum memastikan model kepemimpinan (Wahjosumidjo, 1992). 

Meskipun Indonesia telah melewati era reformasi, setelah berakhirnya rezim otoriter-Soeharto, namun sistem indoktrinasi seorang pemimpin pendidikan masih dirasakan (Mutrofin, 2007; Koesoema, 2010). 

Sikap menunggu petunjuk dan perintah dari atasan (top-down), pengikut bekerja di bawah tekanan terhadap pemimpin, bekerja hanya supaya disenangi pemimpin, bekerja menunggu perintah, bekerja dengan kemunafikan, menjadi kenyataan dari peran pemimpin yang buruk (Danim & Suparno, 2009; Endah, 2012;). 

Peran pemimpin seperti ini mengkerdilkan eksisistensi kemanusiaan pengikut sebagai makhluk yang setara dan sempurna, dan menjadi penghalang pertumbuhan  inklusivitas manusia (Mutrofin, 2007; Koesoema, 2015; Kasali, 2016).     

Kondisi ini mendesak kepala sekolah untuk memposisikan dirinya sebagai sosok yang bijaksana dalam menerapkan model kepemimpinan. Kebijaksanaan kepala sekolah dinilai berdasarkan; a) imajinasi moral, dalam bentuk kemampuan untuk melihat masalah etika dan konsekuensi dalam suatu situasi (Werhane, 2008); b) memahami sistem atau perspektif yang cukup realistis dan holistik tentang situasi (Senge, 1990; Werhane, 2008); c) sensibilitas estetika atau kemampuan untuk melihat dan menilai desain dan masalah estetika dan konsekuensi dalam suatu situasi (Veugelers, 2007).

Imajinasi moral penting dimiliki oleh seorang pemimpin, karena mengelola dan mengorganisasi pendidikan merupakan aktivitas manusia, sehingga secara mendalam dan tak terpisahkan tertanam dengan nilai-nilai dan masalah moral. Aktivitas manusia di lingkungan pendidikan selalu terjadi dalam konteks kepentingan masyarakat dan situasi yang lebih luas, karenanya secara integral terkait dengan pertimbangan etis. 

Karena itu, yang diutamakan dalam pengelolaan pendidikan adalah mencermati aktivitas manusia, penuh dengan emosi, rasionalitas, spiritualitas, dan kepedulian, serta hubungan dengan orang lain, dan bagaimana menciptakan nilai dalam persaingan positip di bidang pendidikan (Waddock, 2016).

Memanusiakan sistem, mengintegrasikan etika dan tanggung jawab merupakan bagian dari keseluruhan yang tidak terpisah, dan membawa humaniora dalam kepemimpinan pendidikan sangat penting bagi para pemimpin masa depan. Dalam konteks ini, baik dimensi manusia maupun dimensi profesional berada pada posisi yang sama penting. Karena itu, baik kehidupan profesional maupun kehidupan pribadi menjadi satu dalam eksistensi diri seorang pemimpin. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN