Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Surat Terbuka untuk Presiden Joko Widodo dari Madinah

22 Mei 2019   16:53 Diperbarui: 22 Mei 2019   17:18 0 25 8 Mohon Tunggu...
Surat Terbuka untuk Presiden Joko Widodo dari Madinah
Masjid Nabawi, Madinah. Foto | Dokpri

Dari kota suci ini, Madinah Al Munawaroh, penulis ingin menyampaikan surat terbuka kepada Presiden pilihan rakyat yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Rabu (22/5/2019).

Surat ini terinspirasi dari kisah Uwais Al Qarni, sosok manusia yang dimuliakan Allah lantaran sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, perempuan tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. Yaitu, ketika ibunya hendak menunaikan ibadah haji.

Meski mengalami keterbatasan, miskin pula, ia berhasil memenuhi permintaan ibunya. Tapi, jauh sebelum menunaikan itu ia berlatih mengangkat anak lembu hingga besar setiap hari ke atas bukit. Hingga lembu itu besar. Dari situ, ia berkeyakinan dapat membawa ibunya dengan cara menggendong dari Yaman ke Mekkah.

Kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW juga sangat luar biasa. Ia mendatangi rumah Rasulullah SAW di Madinah, tapi tak ada hingga tak bisa menjumpainya. Saat itu Rasulullah SAW tengah berada di medan perang.

Ketika itu Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Ia kecewanya. Sebab, ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi tidak dapat dijumpainya.

Seusai perang dan kembali ke kediaman, Rasulullah menanyai isterinya, siapa yang ingin menjumpainya. Kepada isterinya, Nabi menjelaskan bahwa orang yang ingin menjumpainya itu adalah Uwais, anak yang taat kepada orang ibunya. Ia adalah penghuni langit.

Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya."

Sakit hati

Jujur saja, penulis pernah berjumpa dengan Pak Joko Widodo kala masih menjabat sebagai Walikota Solo. Pada sebuah acara Persuadaraan Haji, yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kala itu Pak Jokowi berada di luar hotel. Dekat pintu masuk. Penulis bicara dalam suasana ramah. Namun hati penulis masih menyimpan rasa sakit hati hingga kini.

Sakit hati ini bukan tertuju kepada Pak Jokowi. Bukan. Tetapi kepada seorang pejabat tinggi di daerah itu yang melintas di sisi Jokowi. Jangankan menegur sapa, cara jalannya saja seperti ingin menabrakan diri kepada Jokowi.

Hmmm. Tak patut penulis menyebut namanya. Apa lagi pada saat ini, bulan Ramadan dan berada di emperan Masjid Nabawi, Madinah.

Sakit hati penulis pun makin bertambah. Lagi-lagi karena Jokowi diisukan antek PKI dan seterusnya. Ungkapan penulis ini tidak bermaksud menjilat. Lagi pula apa untungnya bagi saya menulis yang baik-baik. Saya cuma ingin menyampaikan dari emperan masjid Rasulullah SAW ini, nun jauh dari Jakarta, bahwa penulis masih bisa mengajak pembaca untuk menerima sosok Jokowi sebagai presiden dengan ikhlas. Itu saja.

Jangan rendahkan 

Pada kesempatan mulia ini, penulis berharap Jokowi tidak merendahkan rakyatnya sendiri. Lihat kisah Uwais, miskin dalam pandangan mata manusia tetapi - seperti juga disebut Nabi Muhammad SAW, ia adalah manusia yang memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah.

Mengapa? Karena ia selalu menghormati orang tua. Kata dan perbuatannya sejalan. Meski permintaan ibunya sangat berat, ia penuhi dengan membangun kekuatan fisik terlebih dahulu dengan cara berlatih meski saat itu dirinya disebut oleh warga sekitarnya sebagai orang gila.

Kita harus yakin bahwa kadang merencanakan sesuatu yang baik mendapat celaan. Tapi, itu tidak penting. Yang jelas melindungi rakyat dan membangun untuk kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat memang bukan pekerjaan mudah. Uwais telah membuktikan itu.

Sosok diri Uwais luar biasa. Bahkan ketika sahabat Nabi SAW, Umar dan Ali diperintahkan untuk menjumpai Uwais dan meminta doanya, ia konsisten tidak ingin menonjolkan diri.

Bahkan diketahui namanya saja ia merasa keberatan. Setelah dipaksa oleh kedua sahabat Nabi SAW, barulah Uwais mau memanjaatkan doa kepada Allah untuk kedua sahabat Nabi tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2