Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kala Pria Datang Meminta, Ayah Ikut Persetujuan Puterinya

6 April 2019   19:04 Diperbarui: 6 April 2019   20:38 0 20 8 Mohon Tunggu...
Kala Pria Datang Meminta, Ayah Ikut Persetujuan Puterinya
Restu menerima cincin lamaran yang disematkan calon ibu mertua. Foto | Dokpri

Ketika seorang laki-laki datang melamar wanita, maka wali wajib meminta persetujuan dari si wanita. Orang tua tidak boleh mengambil keputusan sendiri tanpa izin dari anaknya.

Abid pun meneria cincin lamaran dari calon ibu mertua. Foto | Dokpri
Abid pun meneria cincin lamaran dari calon ibu mertua. Foto | Dokpri
Kalimat di atas sungguh harus diindahkan. Kalimat tersebut bukan lagi hiasan bibir tetapi wajib dijalankan. Otoritas anak (perempuan) demikian besar terhadap haknya untuk menentukan pilihan pujaan hati. Sebab, merekalah yang akan mengarungi bahtera perjalanan hidup. Bak lautan luas, tentu secara fisik dan mental, mereka sudah siap mengarunginya.

Kalimat di atas juga berlaku bagi janda atau duda. Tentu saja persetujuan tersebut juga harus keluar dari sang janda setelah meminta persetujuan orang tua atau anggota keluarga (tertua). Hak seorang janda untuk menikah juga sama.

Penulis tak bermaksud menyinggung orang yang pernah nikah (janda/dua), tapi hanya ingin mengangkat prihal prosesi lamaran (khitbah)  jejaka dan gadis.

Persetujuan anak demikian penting, mengingat lagi, dalam perkawinan tak boleh perempuan dipaksa seperti dalam kisah Sitti Nurbaya dan Datuk Maringgih (Kisah Tak Sampai), sebuah novel karya Marah Rusli. Novel ini kala penulis masih duduk di bangku sekolah lanjutan pertama menjadi buku wajib yang dibaca. Karena sering dibaca ulang, penulis merasa iba terhadap Syamsul Bahri, kekasih Sitti. Kala berkunjung ke Bukittinggi, penulis kadang ingat Datuk Maringgih dan rasanya ingin meninjunya. Hehehe... sabar bro.

Sabtu ini, 6 April 2019, penulis mendapat kehormatan untuk menghadiri sebuah lamaran. Usai shalat Subuh, penulis sudah meluncur ke kediaman sang pria yang akan ikut bersama rombongan melamar seorang gadis pujaannya di kawasan pinggiran kota Berkasi. Tepatnya, Kelurahan Jatiluhur, Jatiasih, Bekasi.

Calon besan pria menyerahkan bingkisan. Foto | Dokpri
Calon besan pria menyerahkan bingkisan. Foto | Dokpri

Pak ustaz saling melempar nasihat yang dikemas dalam humor. Sehingga suasana silaturahmi makin menggembirakan. Foto | Dokpri
Pak ustaz saling melempar nasihat yang dikemas dalam humor. Sehingga suasana silaturahmi makin menggembirakan. Foto | Dokpri

Wuih, penulis berusaha tampil keren mengenakan kemeja batik hadiah dari isteri tercinta. Lantas, di kediaman calon pengantin pria ini, penulis bersama isteri dan beberapa anggota keluarga berkumpul. Sang tuan rumah paham betul bahwa seluruh anggota keluarga yang berkumpul tersebut telah berjuang all out dari kediamanya melawan kemacetan menuju lokasi titik kumpul.

Meski hari Sabtu adalah libur rutin kantor, tetapi bukan berarti adat kemacetan di sejumlah ruas jalan pinggir Jakarta rada berkurang. Tapi, justru pada Sabtu, sejumlah kawasan pemukiman di pinggir Jakarta menunjukan watak aslinya.

Kendaraan pribadi membludak memenuhi jalan raya pinggir wilayah Jakarta. Sejumlah penduduk di wilayah pemukiman mengeluarkan kendaraan pribadinya.  Mobil termewah di garasi yang tak pernah unjuk gigi. Mobil yang dijadikan status sosial tinggi seolah ikut dipamerkan. Penulis kira tidak hanya terjadi di pinggir Jakarta seperti Pondok Gede, Bekasi. Juga di Tangerang Selatan, Depok dan wilayah lainnya menuju Bogor.

Nah, karena itu, orang tua calon pengantin pria harus memahami ini. Para anggota keluarga yang kumpul disuguhi makanan nasi kotak. Supaya jangan protes. Jangan sampai terjadi keluar ucapan, sudah jauh perjalanan tapi tak dapat perlakukan manusiawi.

Setidaknya, kopi pahit dan nasi bungkus dengan isinya beragam dengan harga standar. Ada paha ayam, nasi kuning, sambal, perkedel dan lainnya. Yang jelas, cukup untuk sarapan pagi hingga proses lamaran nanti berlangsung.

"Yang jeles, setelah kenyang, perut terasa nyaman. Hati senang. Ngobrol pun lancar. Hehehe," gitu.

Para anggota keluarga ini memang sebelumnya mendapat pemberitahuan secara lisan dari calon pengantin pria. Pemberitahuan itu bisa melalui telepon dan kalau ingin terlihat sopan, ya datang ke anggota keluarga yang lebih tua.

"Durhaka ente kalo ada acara besar cumen ngasih kabar lewat WA atau SMS," gitu kata orang Betawi.

**

Usai makan dan setelah dicek seluruh anggota keluarga berkumpul, lantas orang tua pria mengontak anggota keluarga wanita. Atau tepatnya, calon besan.

Acara molor dari jadwal yang ditetapkan. Semula keluarga wanita meminta Sabtu, Pukul 09.00 WIB dan kemudian diubah menjadi Pukul 11.00 WIB. Alasannya, anggota keluarga di sana belum kumpul semua. Hehehe.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2