Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Hukum Artikel Utama

Kisah Menteri Tendang Koper, Uang Berhamburan

22 Maret 2019   08:45 Diperbarui: 22 Maret 2019   17:05 0 47 19 Mohon Tunggu...
Kisah Menteri Tendang Koper, Uang Berhamburan
M.Maftuh Basyuni. Foto | Dokumentasi Keluarga

"Berhamburan, Ed!"
"Gubrak! Tas yang ditenteng diletakan di meja, saya tendang. Uang bertebaran di lantai."

Pelaku yang membawa tas itu adalah seorang Kakanwil Kemenag. Ia dari ujung timur Indonesia menyengajakan diri datang ke kediaman menteri di kawasan Perumahan Menteri Widya Chandra, Jakarta, untuk menyogok seorang menteri.

"Saya mau disuap," tambahnya.
"Rupanya sogok, suap di Kementerian sudah berakar," ucapnya lagi.

Pernyataan itu adalah penggalan cerita Muhammad Maftuh Basyuni, Menteri Agama periode Kabinet I (21 Oktober 2004 - 20 Oktober 2009). 

Muhammad Maftuh Basyuni (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 4 November 1939 -- meninggal di Jakarta, 20 September 2016 pada umur 76 tahun) adalah Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kala itu, penulis sering mengeritik menteri agama ini. Tapi, justru ketika dikeritik itu ia semakin senang. Bahkan penulis sering diajak berdiskusi mengenai berbagai hal terkait dengan bidang tugasnya, seperti masalah penanganan korupsi yang menurutnya harus diseriusi dan mendapat prioritas tinggi. Radikalisme dan intoleransi juga tak luput dari perhatiannya.

Maftuh juga mengaku banyak menghadapi musuh baik di lingkungan kerjanya maupun di luar. Ketika ia ditunjuk sebagai menteri, banyak orang minta dukungan kepadanya. Termasuk dari kalangan ulama pun berdatangan untuk minta surat katabelece, minta anaknya dapat bekerja di Kementerian hingga pembiayaan.

"Semua saya penuhi permintaannya, tapi sebatas dengan doa," kata Maftuh pada suatu obrolan kepada penulis. Ucapan Maftuh itu lantas disambut tawa penulis karena kemudian hari kementeriannya lebih dikenal sebagai Kementerian doa.

Tetapi ia tak ambil pusing. Kebiasaan memberi hadiah kepada kalangan dewan usai rapat-rapat dihapusnya. Anggota dewan yang menjadi "makeler" di lingkungan perhajian pun dibongkarnya, seperti kasus Aziddin.

Aziddin, anggota Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPR kemudian di-recall karena terlibat percaloan pemondokan haji. Ia secara resmi harus hengkang dari Senayan setelah dilakukan pelantikan penggantinya di Gedung DPR/MPR Jakarta. Aziddin lalu digantikan Nurul Iman Mustopa, S.HI.,M.,Aq.

Maftuh tergolong tegas dan terbuka. Dalam berbagai urusan ia banyak bercerita kepada penulis. Termasuk urusan keluarganya dilarang datang ke kantor. Bahkan dalam pembenahan penyelenggaraan ibadah haji, Kementerian yang dipimpinnya pernah tersandung hak angket haji. Itu dilakukan karena semata demi perbaikan pelayanan kepada jemaah terkait masalah katering. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3