Analisis Pilihan

Terlalu Prematur Pilpres 2019 Disebut Berakhir, Tapi Pemenangnya Sudah Nampak

11 Maret 2019   11:44 Diperbarui: 12 Maret 2019   11:39 480 14 9
Terlalu Prematur Pilpres 2019 Disebut Berakhir, Tapi Pemenangnya Sudah Nampak
Joko Widodo. Foto | Jurnal Balikpapan

 

Ada seorang pebisnis mengeluh kepada sesamanya tentang Pilpres 2019 yang belakangan ini pertarungannya terasa makin"keras".  Ia menyaksikan diskusi di layar televisi terasa seru dan kasar, emosional dan menghilangkan kewarasan. Jelas saja diskusi semacam itu tak bakal mampu membawa publik makin cerdas, tetapi sebaliknya menjadi tontonan lelucon karena argumentasinya lebih mengedepankan emosional ketimbang pada pencerahan.

Pokoknya, emosional dan memberi dukungan kepada pasangan calon atau Paslon lebih kuat.  Pasangan yang didukung pokoknya paling hebat. Namanya saja tengah emosional,  tentu tutur kata pun cenderung memburukan pihak lawan. 

Kebanyakan mengungkap kekurangan dengan nada nyinyir, ujarnya sambil beranjak meninggalkan layar televisi yang menyuguhkan perdebatan antarpendukung Paslon 01, Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin  dan Paslon 02 Prabowo Subianto -- Sandiaga S Uno.

Namanya saja tahun politik. Didapati, ada pendukung salah satu Paslon tak memiliki data tentang siapa sih calon yang akan dipilihnya. Baik secara historis, karakter dan dari sisi perjalanan yang bersangkutan. Meminjam istilah orang Betawi, memilih itu jangan seperti membeli kucing dalam karung. Artinya, harus tahu apa isinya sehingga ke depan terhindar dari keburukan, kerugian dan penyesalan.

Lantaran saking kesalnya menyaksikan perdebatan para pendukung paslon Pilpres 2019 itu, ia berucap, sebaiknya model kampanye seperti sekarang ini diperpendek. Alasannya, dada terasa sesak bila menyaksikan ucapan para pendukung. Utamanya, kala ucapan calon presidennya terasa dipojokan lalu pendukung membela mati-matian. Argumentasi yang ditangkap kemudian jadi menimbulkan kesan 'belepotan' karena tak sesuai realitas.

Bagi sekelompok orang atau kalangan tertentu  hadirnya"iklim" berita politik yang belakangan ini membombardir media sosial dan mainstream ditanggapi dengan santai. Tidak uring-uringan atau membuat diri pusing. Hal itu dianggap wajar dan memang akan reda dengan sendirinya, sesuai agenda dari Pilpres itu sendiri.

Namun bagi kalangan yang tidak suka 'mengunyah' berita politik, dirinya merasa terperangkap. Sulit melepaskan diri dari kungkungan karena dalam keseharian -- baik di lingkungan kerja dan di kediaman -- selalu saja mereka melakukan pembahasan pada pokok berita politik.

**

Ada kabar gembira, terutama bagi kalangan yang kini mengalami kejenuhan dengan berita politik. Yaitu, datangnya pernyataan dari lembaga Survey dan Polling Indonesia (SPIN). Disebutkan bahwa Pilpres 2019 sudah usai, karena jika dilihat dari hasil survei menunjukan Joko Widodo, petahana, unggul atas lawannya Prabowo -- Sandi.

Memang pernyataan itu terasa mengagetkan karena masih dapat dipandang terlalu prematur. Tapi, jika melihat tempo ke depan tidak lebih dari sebulan lagi hari pencoblosan (17 April 2019) maka mustahil angka yang didapat Jokowi bisa bergeser melorot dengan mudah.

Adalah lembaga survei  Denny JA, Ardian Sopa mengatakan pertarungan Pilpres sebenarnya sudah usai dengan hasil survei yang dirilisnya. "Kalau dilihat dari tren ini, pertarungan sudah selesai. Kalau dari lihat tren, tetapi namanya politik itu bisa berubah," seperti  disebut  Ardian Sopa pada Tribunnews.

Pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno melejit dalam rilis survei lembaga Survey dan Polling Indonesia (SPIN).

SPIN merilis hasil survei pada 27 Desember 2018- 8 Januari 2019 dengan melibatkan 1213 responden dan dirilis pada Kamis (7/3/2019). Diperoleh hasil petahana capres Joko Widodo (Jokowi) Maruf Amin mendapatkan lampu "kuning"yang maksudnya elektabilitas yang diperoleh Jokowi 49 persen, dan hanya selisih 8 persen dari pasangan Prabowo-Sandi.

Paslon Prabowo-Sandi mendapatkan 41 persen. Hasil ini melejit dibandingkan dengan rilis survei lainnya. Sementara sisanya masih belum menentukan pilihan. Direktur SPIN, Igor Dirgantara mengatakan hasil ini patut diwaspadai Jokowi-Maruf sebagai petahana.

"Kalau petahana di bawah 50% itu ancaman," ujar Igor di Jakarta Pusat, Kamis (7/3/2019). Survei ini memiliki margin of error sebesar 3 persen.

Sedangkan LSI Denny JA menunjukkan hasil yang berbeda, Rabu (6/3/2019). Hasil survei LSI Denny JA menunjukkan elektabilitas Jokowi-Maruf Amin sebesar 58,7 persen. Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 30,9 persen, suara tidak sah 0,5 persen, dan belum menentukan pilihan 9,9 persen.  

Survei Denny JA digelar pada 18-25 Februari 2019. Sebanyak 1.200 responden dilibatkan menggunakan metode surat suara. Metode pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara tatap muka. Margin of error survei ini sebesar 2,9 persen.

Sedangkan Survei Cyrus Network mengungkap bahwa hasil survei bahwa dukungan untuk Jokowi-Ma'ruf sebesar 55,2 persen sementara Prabowo-Sandiaga sebesar 36 persen.

Survei Populi menggambarkan bahwa elektabilitas Jokowi-Ma'ruf ada pada angka 54,1 persen sedangkan Prabowo-Sandiaga 31,0 persen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2