Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Perempuan Pontianak Ngidam Kereta Api Hitam

1 Oktober 2018   19:55 Diperbarui: 1 Oktober 2018   20:15 826
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi, Lokomotif di Museum KA TMII Jakarta. Foto | JejakPiknik.com

Sudah dua hari Salmah uring-uringan. Tidur salah, tidak tidur badan terasa lelah. Jika dipaksakan tidur, mata tak juga pejam. Keadaan makin tidak enak, duduk berdiam diri juga terasa pegal di pinggang. Berdiri dan berjalan keliling halaman rumah tak mungkin, bakal menambah beban. Lelah bertambah.

Sementara perut terus buncit. Terasa berat sih tidak. Cuma saja pergerakan kaki tidak terasa ringan lagi. Ketika hendak melangkah, badan terasa gontai. Mau minta tolong suami, yang muncul perasaan ingin memarahi. Soalnya, sudah dua bulan keingingannya tidak dipenuhi suami tercinta. Yaitu, permintaan melihat kereta api hitam.

Al Somad, sang suami meyakini Salmah tengah ngidam. Kata dokter, usia kandungannya sekitar dua bulan setengah. Al Somad merasakan keanehan pada istrinya, ketika usia kandungannya satu bulan, Salmah sering meminta dibelikan lontong. Lontong saja, seperti yang banyak dijual pedagang sate.

Awalnya, permintaan itu dituruti. Itu pun diupayakan dengan kerja keras luar biasa. Maklum pedagang yang menjual lontong tergolong langka. Kalau ada tukang sate, untuk membeli lontongnya saja tidak diperbolehkan. Karenanya, Al Somad harus membeli sate dan lontong secara terpisah. Lontong tidak boleh dipotong-potong. Diberikan ke istrinya, Salmah dalam keadaan utuh terbungkus daun pisang.

Pernah Al Somad membeli lontong yang dimasak menggunakan bahan pengganti daun pisang dengan pelastik. Ketika diberikan ke istrinya, dalam hitungan detik, lontong berhemburan dilempar istrinya. Salmah hanya minta lontong yang dibungkus mengenakan daun pisang.

"Kalau dibungkus dan dimasak menggunakan pelastik, ya bahaya," kata Salmah dengan suara tinggi.

"Abang tidak mengerti, ya?  Memasak makanan dengan dibungkus pelastik seperti ini bisa menimbulkan penyakit kangker?" Salmah mengoceh sambil memegang perutnya.

Kalau istrinya tengah marah, Al Somad yang sehari-hari bekerja di Kantor Urusan Agama (KUA) itu tak bisa memberi perlawanan. Ia sadar betul, perempuan itu harus dimengerti. Bukan ditimpali ketika marah. Apa lagi ketika tengah hamil.

Tapi, ketika ia menyampaikan permintaan ingin melihat kereta api hitam, Al Somad bertambah bingung. Mana ada kereta api hitam di Pontianak. Untuk rel kereta apinya saja tidak ada. Apa lagi kereta api di sini dengan suara jas jus jus.

"Ah, istri tambah aneh!"

Al Somad, yang di kantornya sering memberi nasihat kepada para calon pengantin, sekarang ini tak bisa berbuat banyak. Dalam hati ia berucap, menasihati orang memang mudah. Tapi, ketika menghadapi kasus dirinya sendiri tak bisa berbuat banyak. Untuk menjawab pertanyaan istrinya saja tidak mampu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun