Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Pasar Seng, Masih Dikenang oleh Jamaah Haji

23 Agustus 2018   08:50 Diperbarui: 23 Agustus 2018   09:00 744
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ini Pasar Gaza setelah Psar Seng dibongkar. Barang yag djual sama. Foto | Toto Sugianto (Kemenag)

Bagi anggota jemaah haji berusia lanjut, dalam berbagai obrolan di masjid atau kesempatan lain, sering menyebut Pasar Seng, Mekkah, meski pasar yang dimaksud tidak dikenal bagi warga kota setempat, apa lagi bagi generasi now.

Dalam musim haji 2018 ini masih sering terdengar sesama orang tua menyebut Pasar Seng. Mereka mengaku punya kenangan indah. Sebab, di pasar itulah mereka bisa bertemu teman, saudara atau pun dengan ulama-ulama dari berbagai daerah.

Pokoknya, Pasar Seng saat itu dijadikan tempat kumpul sambil minum kopi. Atau sekedar sarapan sambil ngobrol 'ngalor-ngidul' seusai melaksanakan shalat subuh di Masjidil Haram.

"Pokoknya, ana mau kumpul di Kedai Ba'so si Doel. Nanti hal lainnya kita obrolin, kita bahas sepuasnya di situ sambil makan," Ahmad Nurudin bin Badar, jemaah asal Tangerang, mengenang masa mudanya ketika melaksanakan ibadah haji tempo doeloe kepada penulis.

Penulis beruntung masih bisa menikmati kehadiran Pasar Seng pada musim haji 2007. Setahun berikutnya ketika penulis melaksanakan ibadah haji kedua, pasar tersebut sudah dibongkar. Pada 2010, penulis saksikan pasar tersebut sudah rata dengan bebatuan dan berubah wajah menjadi bangunan baru. Saat melaksanakan umrah 2013 dan penulis iseng-iseng mencari lokasi pasar itu, jejaknya sudah tak ada.

Bagaimana sih wajah Pasar Seng itu?

Pasar ini sepintas sama saja dengan kondisi fisik pasar di Tanah Air. Mirip dengan Pasar Baru sekarang ini. Ada rumah makan, ada penjual pakaian dan berbagai keperluan pernak-pernik untuk Ibadah seperti tasbih, sajadah bahkan pedagang emas pun hadir di situ. Tentu saja yang membedakan adalah pembelinya berasal dari mancanegara.

Para pedagang di sini ternyata banyak yang menguasai Bahasa Indonesia. Maklum, Indonesia adalah negara terbesar yang mengirim jemaah haji sepanjang tahun. Para pedagang tahu persis cara menarik perhatian jemaah Indonesia.

Kalimat yang sering keluar dari mulut pedagang di sini antara lain: "Indonesia Bagus,  Murah, Cantik,".

Jemaah Indonesia, utamanya dari daerah, tentu saja tertarik dengan penggunaan kata yang mengandung rayuan itu. Awalnya tidak punya niat belanja, akhirnya membeli barang yang ditawarkan meski sesungguhnya barang serupa yang dibeli lebih murah di Tanah Air. Tidak heran, ketika pulang, tas jemaah "beranak" karena memuat barang belanjaan. Karena melebihi kapasitas yang ditentukan otoritas penerbangan, akhirnya berjung barang tak terbawa alias barang tercecer (barcer).

Mengobrol di Pasar Seng memang mengasyikan. Penulis merasakan di sini kita bisa berinterkasi dengan warga sesama Muslim dari China, Rusia, Iran, Turki dan beberapa Muslim dari Eropah. Wuih, ketika lagi mengumpul terasa perasaan senasib.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun