Fesyen Artikel Utama

Fanatik dengan Batik sebagai "Outfit" Kesayangan

6 Agustus 2018   14:40 Diperbarui: 7 Agustus 2018   08:51 1008 18 9
Fanatik dengan Batik sebagai "Outfit" Kesayangan
Isteri penulis juga penggemar batik berat. Foto | Dokpri

Berawal dari keharusan mengenakan batik kala bertugas sebagai reporter di Istana Wakil Presiden, Merdeka Selatan. 

Di era Orde Baru, istana punya aturan ketat. Saat itu Wakil Presidennya adalah Letnan Jenderal TNI H. Soedharmono, S.H. Ia adalah Wakil Presiden kelima yang menjabat selama periode 1988-1993.

Keharusan mengenakan batik juga diberlakukan bagi reporter yang ditugasi di Istana Presiden di Merdeka Utara yang dijabat Bapak Soeharto. 

Kala itu, bagi setiap wartawan jika bertugas di istana diharuskan mengenakan batik. Kalau tidak batik, yang bersangkutan harus mengenakan baju lengan panjang plus berdasi. Lebih keren lagi, ya dilengkapi dengan jas.

Wuih. Itulah gaya wartawan "elite" sebutan di era itu. Soal otak cerdas atau tidak, di sini tak dipersoalkan. Penting sebelum bertugas di istana, harus menjalani screening. 

Jadi, reporter "elite" di istana harus lulus ujian penyaringan untuk mengetahui integritas, loyalitas dan tentu tidak berbuat macam-macam ketika menjalani tugas.

Ramai-ramai para ibu beli batik sambil rekreaksi. Foto | Dokpri
Ramai-ramai para ibu beli batik sambil rekreaksi. Foto | Dokpri
Nah, soal baju berdasi dan mengenakan batik selama bertugas di istana ini demikian ketat diberlakukan. Petugas pos akan selalu mengawasi gerak-gerik wartawan jika tak mengindahkan aturan yang telah berlaku baku. Jika tak mengenakan baju berdasi atau batik, jangan harap bisa masuk istana. Dan, ada satu lagi larangan tak boleh masuk istana.

Apa itu?

Siapa pun orangnya, apakah dia petinggi atau warga biasa, dilarang masuk istana mengenakan celana jeans. Kita tahu, dari dulu hingga kini, celana jeans dipakai oleh semua kalangan, mulai orang dari berbagai usia muda hingga tua. 

Dari jauh, jika ada tamu mengenakan jeans hendak masuk istana, cepat-cepat dicegah melintas pintu masuk. Jadi, sebelum lewat meja petugas larangan masuk sudah sampaikan kepada tamu.

Komunitas FH'20 Usakti tengah memperhatikan motif batik di salah satu rumah batik DI Yogyakarta baru-baru ini. Foto | Dokpri
Komunitas FH'20 Usakti tengah memperhatikan motif batik di salah satu rumah batik DI Yogyakarta baru-baru ini. Foto | Dokpri
Nah, pengalaman penulis, biasanya para reporter (kere, rendahan) datang ke istana untuk meliput membawa motor. Baju lengan panjang dan dasi, atau pun batik, disimpan di tas ransel. 

Tas ransel kala itu kebanyakan berisi tape recorder, notes dan baju lengan panjang, batik dan perlengkapan kerja. Ketika masuk pintu, lapor ke petugas dengan menyerahkan identitas yang dikeluarkan pihak otoritas istana.

Petugas paham betul. Ia tidak melarang wartawan masuk tidak mengenakan dasi dan batik saat itu. Sebab, wartawan tak langsung menuju tempat acara atau ruang wartawan. 

Mereka akan "ngeloyor" ke toilet untuk mengganti baju. Jaket yang biasa digunakan ketika bermotor dilepas. Lantas, diganti dengan pakaian batik atau baju lengan panjang berdasi.

Wuih, di situ wartawan berkaca di kamar kecil berputar-putar seperti puteri raja. Ah, jadi ingat Lilis Suryani, penyanyi terkenal yang juga membawakan lagu berjudul Gang Kelinci. Penyanyi kelahiran Jakarta pada 22 Agustus 1948 itu wafat 7 Oktober 2007 di Jakarta.

Kembali kepada tampilan dengan batik tadi, setelah berkaca dan diri merasa keren, barulah keluar dari kamar kecil itu. Lantas, cepat-cepat bersama rekan lainnya menuju tempat acara. 

Di sini biasanya jadwal kegiatan menerima tamu sudah ditata apik. Tepat waktu sudah pasti. Tamu usai diterima wapres, barulah keluar. Lalu ia mengeluarkan pernyataan, apa saja yang disampaikan kepada wakil presiden tadi.

Perhatikan motif batik sambil berdiskusi. Foto | Dokpri
Perhatikan motif batik sambil berdiskusi. Foto | Dokpri
Belikan batik untuk cucu. Foto | Dokpri
Belikan batik untuk cucu. Foto | Dokpri
Di sini, dengan pakaian "keren" wartawan mewawancarinya. Lagi-lagi, dengan perasan percaya diri, menanyai sang tamu (entah menteri, kepala badan dan seterusnya) mewawancari sang tamu. 

Biasanya para tamu mengeluarkan pernyataan sebatas apa yang dibicarakan dengan wapres. Tapi, dengan berbagai cara, diluar pokok pembicaraan tadi juga ditanyai. Kalau beruntung, dapat pernyataan yang "menjual". Kalau lagi apes, pernyataannya cuma datar-datar saja.

Karenanya, pandailah memainkan isu sehingga kala mengajukan pertanyaan sang tamu bisa membuka mulut dengan pernyataan bernilai aktual dan menjual. Nah, kerenkan. Sekeren dengan pakaian batik yang dikenakan, tentu.

**

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2