Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Kuaci di Bioskop Singapura hingga Film Kentut

14 Maret 2018   10:49 Diperbarui: 15 Maret 2018   11:24 1353
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Untuk memberikan rasa nyaman, bioskop di Inggeris melengkapi kasur untuk penontonnya. Foto | FB Pillow Cinema.

Kursi banyak terbuat dari bangku reot. Untuk dapat gambaran bioskop seperti itu, bagi warga Jakarta disebut bioskop misbar. Bioskop disebut demikian karena apabila datang gerimis lalu penontonnya bubar. Pada tahun 80-an, misbar di Jakarta masih ada dan lambat laun tersisih dengan kedatangan bioskop di sejumlah mal.

Jadi, selama tim usia 16 tahun itu singgah di berbagai kota, di situlah penulis masuk bioskop. Istimewanya saat itu, penonton dapat masuk leluasa membawa makanan. Seperti menonton film India pada bioskop Rivoli. Jika tak membawa makanan, bisa lapar karena durasi filmnya sampai di atas dua jam. Kalau kita saksikan ada tiang dan lapangan terbuka di layar lebar, maka kita terhibur dengan lagu-lagi India.

Tapi, jangan lupa, saat menyaksikan film India --apakah Jakarta atau di beberapa daerah-- banyak orang membawa sapu tangan. Kadang di telinga tertangkap suara isak tangis. Rupanya, mereka membawa sapu tangan untuk mengusap air mata. Kadang terdengar suara asing, cup cup cup cekut dari arah kejauahan penonton yang membawa pacar.

Di bioskop misbar kadang pedagang dibolehkan masuk saat jam istirahat tayangan. Mereka menjajakan makanan berupa kacang goreng yang dibungkus kertas koran dan beberapa kue kering. Persis seperti suara gaduh di dalam kereta api dalam perjalanan, karena lampu yang semula redup kembali terang. Jika kita sering bepergian dengan menggunakan kereta api ekonomi, pedagang yang masuk  dan berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Sekarang nggak ada lagi di atas kereta macam gitu, kan?

**

Bioskop di Singapura pada tahun 80-an sudah modern. Maklum, negara jiran paling makmur dari sisi ekonominya. Di negeri jiran itu, tim nasional usia 16 tahun akan bertanding pada sore hari. Penulis punya waktu luang dan berkesempatan menonton di bioskop. Kebetulan di Negeri Singa ini bioskop dibuka usai anak sekolah pulang. Entah film apa yang diputar saat itu. Penulis lupa.

Yang menarik, penonton dibenarkan membawa makanan dari luar. Tidak ada keharusan membeli di bioskop bersangkutan. Usai mengantre bersama para siswa, yang masih mengenakan seragam sekolah, penonton masuk tanpa membawa makanan. Kami, bersama seorang ofisial tim usia 16 tahun, dipandangi para siswa. Mereka heran.

Belakangan penulis baru tahu, orang tua mau menonton bersama anak sekolah. Bagi siswa hal itu memang tidak mengganggu, tetapi kami dianggapnya seperti pengangguran saja. Apa lagi tidak membawa bekal makanan ringan.

Kala film diputar, tak satu pun siswa berceloteh. Diam semuanya. Awalnya tenang, tapi lambat laun terdengar suara kletik... kletik...kletik. Awal film bermain, suara kletik terasa di telinga masih perlahan. Tetapi sekitar 20 menit film diputar, suaranya makin ramai.

Setelah berhasil mencari tahu suara apa gerangan, barulah diketahui mereka tengah makan kuaci.

"Mereka makan kuaci," kata rekanku yang di kursi sebelah dalam suarana remang-remang bioskop.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun