Hiburan Pilihan

Kuaci di Bioskop Singapura hingga Film Kentut

14 Maret 2018   10:49 Diperbarui: 15 Maret 2018   11:24 811 19 14
Kuaci di Bioskop Singapura hingga Film Kentut
Untuk memberikan rasa nyaman, bioskop di Inggeris melengkapi kasur untuk penontonnya. Foto | FB Pillow Cinema.

Penulis paling merasa kesal jika ditugasi membuat liputan pertandingan olahraga renang, menembak, apalagi panahan yang sekali pun jumlah penontonnya banyak, "diharamkan" membuat berisik di tepi lapangan, termasuk bertepuk tangan.

Cabang olahraga seperti angkat besi, bola basket, voli masih rada senang lah jika ditugasi untuk meliput. Tetapi jika sudah menyebut catur dan bridge, rasanya paling gondok. Menjengkelkan. Sebab, olahraga ini harus dipahami terminologinya benar-benar, termasuk langkah hingga riwayat pemainnya.

Jadi, apa yang disukai?

Tidak jauh-jauh dari menonton sepak bola dan membuat laporannya dalam bentuk berita. Orang Indonesia, entah mengapa, sejak dulu memang gemar sepak bola meski hingga kini tak pernah lagi melahirkan pemain sekelas Ramang dari Makasar. Apa lagi Maradona asal Argentina itu.  

Penulis juga gemar membuat laporan pernak-perniknya pertandingan sepak bola dalam bentuk pumpunan dan artikel lainnya dalam bentuk wawancara panjang. Setelah itu, ya nonton di bioskop.

Nonton pertandingan bola disebut gibol pada zaman old ketika itu. Lalu, kalau hobi nonton di bioskop itu disebut apa, ya?

Ya, gila nonton film sajalah. Punya hobi nonton memang mengasyikkan.

**

Pada era tahun 80-an, penulis tidak pernah melepaskan hobi nonton di bioskop. Layar lebar, bisa tertawa sepuasnya. Ketika di Monas masih hadir bioskop, di situ penulis sering tidur karena tontonan tidak menarik. Saat bersamaan, juga tidak ingin melepaskan hobi menonton sepak bola. Dan sebagai reporter olahraga, bioskop dengan berbagai judul ditonton. Sekali pun kondisi fisik bioskop itu butut hingga nonton film di luar negeri.

Penulis masih ingat betul kala mengikuti perjalanan tim sepak bola nasional usia 16 tahun. Ini pengalaman berkesan. Seingat penulis, ketika itu pelatihnya adalah Maryoto dan Muhardi. Maaf, jika salah menyebut. Tim ini melakukan tur ke berbagai kota, mulai Aceh, Medan, Padang, Palembang, Bandung dan beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga Bali. Yang dihadapi, kesebelasan lokal yang usianya rata-rata di atas 23 tahun.

Selama perjalanan itu, usai membuat laporan dalam bentuk berita, penulis keluyuran. Di berbagai tempat keramaian, penulis bertanya tentang bioskop. Dan, jika diingat saat itu, bioskop tidak seperti pada tahun 2000-an, yang hadir di sejumlah mal. Bioskop tidak didukung dengan sound system, yang suaranya bagus ditangkap telinga.

Kursi banyak terbuat dari bangku reot. Untuk dapat gambaran bioskop seperti itu, bagi warga Jakarta disebut bioskop misbar. Bioskop disebut demikian karena apabila datang gerimis lalu penontonnya bubar. Pada tahun 80-an, misbar di Jakarta masih ada dan lambat laun tersisih dengan kedatangan bioskop di sejumlah mal.

Jadi, selama tim usia 16 tahun itu singgah di berbagai kota, di situlah penulis masuk bioskop. Istimewanya saat itu, penonton dapat masuk leluasa membawa makanan. Seperti menonton film India pada bioskop Rivoli. Jika tak membawa makanan, bisa lapar karena durasi filmnya sampai di atas dua jam. Kalau kita saksikan ada tiang dan lapangan terbuka di layar lebar, maka kita terhibur dengan lagu-lagi India.

Tapi, jangan lupa, saat menyaksikan film India --apakah Jakarta atau di beberapa daerah-- banyak orang membawa sapu tangan. Kadang di telinga tertangkap suara isak tangis. Rupanya, mereka membawa sapu tangan untuk mengusap air mata. Kadang terdengar suara asing, cup cup cup cekut dari arah kejauahan penonton yang membawa pacar.

Di bioskop misbar kadang pedagang dibolehkan masuk saat jam istirahat tayangan. Mereka menjajakan makanan berupa kacang goreng yang dibungkus kertas koran dan beberapa kue kering. Persis seperti suara gaduh di dalam kereta api dalam perjalanan, karena lampu yang semula redup kembali terang. Jika kita sering bepergian dengan menggunakan kereta api ekonomi, pedagang yang masuk  dan berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Sekarang nggak ada lagi di atas kereta macam gitu, kan?

**

Bioskop di Singapura pada tahun 80-an sudah modern. Maklum, negara jiran paling makmur dari sisi ekonominya. Di negeri jiran itu, tim nasional usia 16 tahun akan bertanding pada sore hari. Penulis punya waktu luang dan berkesempatan menonton di bioskop. Kebetulan di Negeri Singa ini bioskop dibuka usai anak sekolah pulang. Entah film apa yang diputar saat itu. Penulis lupa.

Yang menarik, penonton dibenarkan membawa makanan dari luar. Tidak ada keharusan membeli di bioskop bersangkutan. Usai mengantre bersama para siswa, yang masih mengenakan seragam sekolah, penonton masuk tanpa membawa makanan. Kami, bersama seorang ofisial tim usia 16 tahun, dipandangi para siswa. Mereka heran.

Belakangan penulis baru tahu, orang tua mau menonton bersama anak sekolah. Bagi siswa hal itu memang tidak mengganggu, tetapi kami dianggapnya seperti pengangguran saja. Apa lagi tidak membawa bekal makanan ringan.

Kala film diputar, tak satu pun siswa berceloteh. Diam semuanya. Awalnya tenang, tapi lambat laun terdengar suara kletik... kletik...kletik. Awal film bermain, suara kletik terasa di telinga masih perlahan. Tetapi sekitar 20 menit film diputar, suaranya makin ramai.

Setelah berhasil mencari tahu suara apa gerangan, barulah diketahui mereka tengah makan kuaci.

"Mereka makan kuaci," kata rekanku yang di kursi sebelah dalam suarana remang-remang bioskop.

Meski mereka makan kuaci di keremangan, tetapi cepat sekali mengupasnya. Kulit kuaci tidak dibuang sembarangan, karena setiap kursi sudah tersedia tempat pembuangan sampah kecil. Di dalam bioskop, penulis ditawari air kemasan oleh seorang siswa.

Beda dengan di Tanah Air. Di bioskop tak pernah tampak kursi dilengkapi tempat pembuangan sampah. Meski sudah tahun 2000-an, bioskop modern yang hadir di sejumlah tempat (mal) masih tidak memperhatikan kebersihan dan kenyamanan. Bahkan ada bioskop membuat aturan di larangan membawa makanan, kecuali makanan yang terjual di dalam bioskop.

"Nggak enak makanannya. Rasanya hambar," kata istri penulis ketika menyaksikan film dengan judul "Kentut" di salah satu mal Jakarta.

Lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya. Begitulah ungkapan yang tepat untuk membedakan bioskop di Tanah Air dan negeri jiran Singapura. Satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain. Setiap negeri atau bangsa berlainan adat kebiasaannya. Tapi, tidak salah kan jika menyontoh yang baik-baik?

Ini adalah film terakhir yang penulis tonton. Setelah itu hobi menonton di bioskop cukup di rumah saja, sambil ngopi dan makanan ringan tanpa ada yang melarang harus begini dan begitu.

Biasanya, usai menonton, penulis cepat-cepat membuat resensinya. Seperti menonton film "Kentut" itu. Penulis ingin mengingatkan kepada siapa pun terkait persoalan kentut itu. Sebab, udara busuk yang satu ini bisa menjadi pedang bermata dua jika tak tahu bagaimana cara kentut yang baik di hadapan orang.

Film berdurasi 90 menit dengan sederet bintang layar lebar yang sudah dikenal luas ini sarat kritik dalam penyelenggaraan pilkada. Tokoh agama mudah dimobilisasi untuk memberikan dukungan kepada seorang kandidat. Klenik pun hadir. Bisa jadi, pelaku film ini dan beberapa kandidat dalam Pilkada 2018 tengah melakoninya dengan berbagai cara menarik simpati warga.

Film adalah media hiburan, tapi juga bisa berfungsi sebagai sarana edukasi sambil memberi kenyamanan bagi penontonnya. Keharusan membeli makanan di bioskop bersangkutan jika hendak menikmati makanan ringan sambil menonton tidak sejalan dengan hak seseorang. Sebab, rasa gembira lenyap.

Biarkan penonton membawa makan cemilan berupa tahu, kacang goreng, jagung, roti unyil dan lainnya ke dalam bioskop dalam batas wajar dan tidak mengganggu etika. Kalau begini, nyaman rasanya.