Mohon tunggu...
Edy Siswanto
Edy Siswanto Mohon Tunggu... Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (PP IGVIM)

Penulis, dan pemerhati politik pendidikan. Pembelajar, berkelana mencari ilmu dan dakwah membangun generasi khairu ummah..

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pemuda, Agama dan Teknologi "Renungan Sumpah Pemuda"

28 Oktober 2020   08:44 Diperbarui: 28 Oktober 2020   09:41 210 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pemuda, Agama dan Teknologi "Renungan Sumpah Pemuda"
whatsapp-image-2020-10-27-at-14-03-24-1-5f98c532d541df32c33f4672.jpeg

Pemuda Bersatu, Bangkit Indonesia. Bagaimana relevansi dan memaknai Sumpah Pemuda, era new? Hari ini tanggal 28 Oktober 2020, diperingati sebagai Sumpah Pemuda yang ke-92.  Pernyataan para pemuda dalam kongres II tanggal 28 Oktober 1928 saat itu, dipertanyakan relevansinya sekarang, bagaimana memaknainya. Hanya sekedar pernyataan biasa atau benar "Sumpah" dalam arti sesungguhnya. Karena disebutkan dalam banyak dokumen tidak ada kata "Sumpah Pemuda" yang ada hanya "Poetoesan Coengres". namun sampai sekarnag orang menyebutkan sebagai Sumpah Pemuda. Disini ada dua kata, Sumpah dan Pemuda.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "Sumpah" adalah kata yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya). Pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Sebagai janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu). Ini mempunyai konsekwensi logis dan berdampak luar biasa.

Selain pernyataan komitmen, Sumpah Pemuda yang kita ketahui dari guru sejarah sebagai "tonggak sejarah dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia". Disinilah dimulai perjuangan untuk bebas dari penjajah, sekaligus awal pergerakan organsiasi pemuda, setelah sebelumnya ada Boedi Oetomo tahun 1908.  

Pemuda, mengandung arti usia muda, atau semangat dan jiwa muda. Dalam tataran usia, saat ini terjadi pergeseran penggolongan usia. Sebagian melihat usia muda kurang dari 50 tahun. Namun Organisasi Kesehatan Dunia WHO, menetapkan sebuah kriteria baru yang membagi kehidupan manusia ke dalam 5 kelompok usia.

whatsapp-image-2020-10-28-at-08-01-04-5f98ca28d541df72584ebdb3.jpeg
whatsapp-image-2020-10-28-at-08-01-04-5f98ca28d541df72584ebdb3.jpeg
Pertama usia, 0 sampai 17 tahun, kategori anak-anak di bawah umur. Kedua, usia 18  sampai 65 tahun, kategori pemuda. Ketiga, usia 66 sampai 79 tahun, kategori setengah baya. Keempat, usia 80  sampai 99 tahun, kategori orang tua. Kelima, usia 100 tahun ke atas, kategori orang tua berusia Panjang Jadi, jangan lagi menggolongkan seseorang yang berusia 70 tahun ke dalam orang tua, karena standar baru dunia kini usia 65 tahun, masih masuk kategori usia muda atau "pemuda".

Kembali kepada Sumpah Pemuda. Yang berisi : 

Pertama, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Banyak kalangan menilai perlu reorientasi makna Sumpah Pemuda dalam era new. Apakah masih relevan atau tidak. Karena sejak pertama kali dibacakan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 atau tepatnya 92 tahun lalu. Maknanya perlu digeser dalam era kekinian yang sesuai perkembangan zaman.

Dengan semangat "Nasionalisme" Sumpah Pemuda, para pemuda pada saat itu disebut "Radikal" oleh penjajah. Namun saat itu belum dikenal istilah Radikal. Dikarenakan Oleh penjajah bisa mengancam kelangsungan kekuasaan penjajahannya pada saat itu.

Yang perlu direorientasi makna Sumpah Pemuda sebenarnya pada perjuangan para pejuang pemuda saat itu. Sebagian pejuang terdahulu, hanya sekedar berjuang melawan penjajah, karena tidak ingin terjajah, dan wilayah Indonesia jatuh ke tangan penjajah.

Namun sebagian pemuda dan tokoh muslim sebaliknya. Selain mempertahankan wilayahnya, ada tokoh seperti Pangeran Diponegoro, M. Natsir, Agus Salim, Bagus Hadikusumio, Kasman Singodimedjo menganggap bahwa kebenaran lebih mereka cintai dalam membela bangsa dengan menegakkan nilai-nilai Islam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN