Mohon tunggu...
Edy Siswanto
Edy Siswanto Mohon Tunggu... Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (PP IGVIM)

Penulis, dan pemerhati politik pendidikan. Pembelajar, berkelana mencari ilmu dan dakwah membangun generasi khairu ummah..

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dirjen Vokasi Dukung IGVIM "Mereformasi" Mindset Guru SMK

25 Oktober 2020   06:07 Diperbarui: 13 Januari 2021   06:55 580 0 0 Mohon Tunggu...


Pengurus Pusat Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (PP IGVIM) melaksanakan kunjungan persahabatan dan silaturahmi ke Direktur Jenderal (Dirjen Vokasi). Sabtu 24 Oktober 2020, Hotel Gumaya Semarang.

Kunjungan ini diterima langsung Dirjen Vokasi, Wikan Sakarinto. Dikemas dalam diskusi santai, sederhana sambil ngopi bareng di lobi hotel. Diskusi berlangsung gayeng dan menyenangkan. Ketua Umum IGVIM dan Dirjen vokasi berdiskusi mengenai peningkatan kompetensi mutu dan lulusan SMK. Sebagai pertemuan awal, selanjutnya akan ditindaklanjuti dalam pembahasan program kerja kedua pihak. Kedepan IGVIM akan diundang dalam pembahasan program di Dirjen Vokasi. Kedua belah pihak berjanji dan komitmen saling membutuhkan dukungan terkait.

Sebagai penasihat IGVIM, Dirjen vokasi mengapresiasi baik kelahiran IGVIM. Menyambut dengan tangan terbuka kunjungan IGVIM dengan senantiasa memberi dukungan dan arahan kepada IGVIM. Terutama dalam ikut "mereformasi" maindset dan perilaku guru SMK. Karena ini yang pertama dan utama akan dilakukan bersama.

Hadir dalam acara silaturahmi IGVIM dengan Dirjen Vokasi, Wikan Sakarinto, Mampuono, Didik Widiyono, selaku pengawas IGVIM, Edy Siswanto Ketum IGVIM, Hernowo Subiantoro Sekjen IGVIM, Didik Sudjadi, Ketua harian, Akhamad Rofi  Muhsin, Sekretaris Sekjen, pengurus Aghi Hisnawan,  dan Yosef dari Universitas STEKOM Semarang.

dokpri
dokpri
Dalam sambutannya Edy Siswanto selaku Ketua Umum IGVIM mengatakan, perlu ada sinergi kedua belah pihak bersama memajukan pendidikan vokasi. Karena kalau pemerintah saja tidak akan mampu melakukannya tanpa bantuan semua pihak termasuk organisasi profesi guru dibidang vokasi seperti IGVIM. IGVIM keberadaaanya khusus untuk mengurusi masalah pendidikan dibidang vokasi.

Maksud dari pertemuan ini adalah pertama, mempererat jalinan silaturhami, sharing berbagai pengetahuan dan menyatukan persepsi terkait pendidikan vokasi.

Kedua, sinergi dan kolaborasi kedua belah pihak dalam mengimplementasikan program-program keduanya. Bagaimana bisa kerjasama dalam segala bidang memajukan pendidikan vokasi.

Ketiga, IGVIM ikut hadir dalam menjembatani industri dan SMK terlibat dalam penyusunan kurikulum industri dan pengajarannya. 

Keempat, mengundang  kepada Dirjen vokasi sebagai keynote speakaers dan sekaligus menjadi narasumber utama dalam peringatan Hari Guru Nasional (HGN tahun 2020), sekaligus launching IGVIM. 

dokpri
dokpri
Dirjen Wikan merasa senang dalam menyambut dengan baik kunjungan IGVIM, kedepan tantangan semakin berat jika tidak dilakukan bersama. Guru bukan lagi objek namun subjek dan pelaku perubahan mindset tersebut. Survei McKinsey Indonesia, menyebut 23 juta pekerjaan akan hilang tergantikan oleh otomatisasi atau mesin. Selanjutnya akan muncul 27 juta hingga 36 juta lapangan pekerjaan baru bagi mereka yang memiliki keterampilan baru.

Disini menjadi tantangan SMK jika tidak dirubah mindsetnya dari sekarang. Percuma saja jika ada bantuan namun tidak bisa mengembangakan bantuan tersebut. Hanya tinggal gedung dan peralatan saja. Tanpa ada perkembangan yang berarti. Pihaknya tidak senang jika hanya prosedur administrasi tanpa ada peningkatan output yang menggembirakan.

Dirjen vokasi sudah menyiapkan setidaknya lima jurus untuk menyambut proses otomatisasi itu. Pertama, mendorong kemajuan institusi pendidikan vokasi melalui Strategi Link and Match (Vokasi dengan Industri & Dunia Kerja). Kedua, Kurikulum disusun bersama berbasis Industri, banyak expert industri wajib dihadirkan mengajar di SMK. Ketiga, ada sertifikasi kompetensi bersama. Keempat, program magang siswa minimal satu semester. Kelima, ada komitmen bersama dalam penyerapan lulusan SMK dari industri. Ini membutuhkan benar-benar SMK bisa apa dalam memenuhi kebutuhan dunia industri. Istilahnya industri butuh pecel ya siapkan pecel yang sesuai kebutuhan indusri. 

Namun disebutkan Wikan, lebih penting adalah merubah mindset dan perilaku besar pola pikir guru dan kepala sekolah di SMK. Ini berat dan harus komitmen dikerjakan bersama. Akan ada khusus pelatihan pengembangan pola pikir kepala SMK dan dekan vokasi di perguruan tinggi terlebih dahulu. Mindsetnya yang perlu dirubah. "Tantangan terbesar adalah merubah mindset pada guru secara massive, agar mampu mengembangkan link and match menjadi implementasi kurikulum baru," Pasalnya, pola pikir yang masih terjebak zona nyaman tidak akan menghasilkan terobosan pendidikan yang sejalan dengan industri.

dokpri
dokpri
Lebih lanjut Dirjen Wikan mengatakan, melalui kurikulum baru hasil kerjasama dengan industri, pendidikan vokasi akan lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan lapangan pekerjaan seiring digitalisasi.

"Kurikulum baru ini akan lebih menyeimbangkan hard dan soft skill, tidak lagi terlalu fokus pada hard skills. Soft skills dan pembentukan karakter menjadi fokus dalam kurikulum dan proses pembelajaran," jelasnya.

"Kalau dana pengembangan vokasi jatuh ke tangan SDM vokasi yang berkarakter zona nyaman, rutinas begitu-begitu saja, maka maksimal hanya akan menghasilkan gedung dan alat laboratorium baru. Namun lulusannya tidak matching dengan kebutuhan industri dan dunia kerja," katanya.

Tak terasa saking asyiknya, diskusi sampai pukul 21.30, kami berasa berterima kasih dalam sambutan hangat dari Dirjen vokasi, yang sangat mendukung kegiatan IGVIM. Mudah-mudahan apa yang disampaikan disepakti bersama dapat terimplementasikan demi kemajuan bersama pendidikan vokasi.  Acara dilanjut dengan foto-foto bersama.


dokpri
dokpri
@mitraigvim
@mitrasdudi
@kamivokasi
@direktoratsmk
@diktivokasi
@kursuskita

#MitrasIGVIM
#MitrasDUDI
#MitraVokasi
#VokasiKuat
#Menguatkan Indonesia

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x