Mohon tunggu...
Edy Priyono
Edy Priyono Mohon Tunggu... profesional -

Pekerja peneliti, juga sebagai konsultan individual untuk berbagai lembaga. Senang menulis, suka membaca. Semua tulisan di blog ini mencerminkan pendapat pribadi, tidak mewakili institusi apa pun.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Pelajaran Hidup dari Kasus Pemecatan Rafael Benitez (Bagian 1)

6 Januari 2016   11:27 Diperbarui: 6 Januari 2016   16:10 33
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sayangnya, Benitez tidak terlalu peduli hal itu. Tidak lama setelah ditunjuk menjadi pelatih Madrid, dalam sebuah konferensi pers ada wartawan bertanya:"Apakah anda menganggap Christiano Ronaldo pemain terbaik di dunia?". Benitez menjawab:"Saya telah melatih begitu banyak pemain kelas dunia, jadi saya tidak yakin apakah dia memang pemain terbaik dunia".

Jelas CR7 merasa diragukan oleh pelatih barunya. Itulah awal mula ketidakcocokan di antara keduanya. Meski kemudian Benitez meralat ucapannya (dengan menyatakan bahwa CR7 adalah yang terbaik), tapi luka sudah telanjur ada. Tak heran kalau Ronaldo kemudian seolah membalas dengan bilang ke presiden klub:"Dengan orang itu --tentu yang dimaksud Benitez-- kita tidak akan memenangi apapun..".

3. Jangan terlalu mengandalkan statistik untuk membela diri, apalagi mengelabuhi orang yang mengerti statistik

Saat pendukung Madrid mengritik timnya yang dianggap bermain terlalu defensif, Benitez membantahnya. Dia gunakan statistik untuk menunjukkan bahwa timnya bermain menyerang.

Sayangnya, pendukung tidak bodoh. Paling tidak: Tidak semua bodoh. Banyak di antara mereka yang memang mengerti sepakbola. Mereka menjadi saksi hidup atas penampilan pemain Madrid di lapangan. Apalagi kalau yang menjadi acuan adalah permainan Madrid saat melawan tim-tim kuat seperti Atletico Madrid dan PSG.

Mestinya Benitez cepat mengambil sikap. Keukeuh dengan gaya cenderung defensif dan mengandalkan serangan balik (yang sebenarnya merupakan karakter asli Benitez), atau mengubah gaya main menjadi lebih menyerang sesuai dengan materi pemain yang dimiliki Madrid.

Waktu jadi pelatih Madrid, Fabio Capello juga pernah mendapat kritik seperti itu. Di tangannya Madrid banyak menang, tetapi mainnya tidak indah. Tapi Capello cuek saja, dan dia membuktikan dengan fakta bahwa akhirnya Madrid juara La Liga musim itu.Tapi bukannya tidak ada efeknya. Capello dipecat! Ya, dia dipecat meski berhasil meraih gelar, karena tidak mampu membuat Madrid bermain indah/menyerang.

Awalnya Benitez mencoba mengikuti jejak Madrid. Contohnya, di leg ke-2 penyisihan Liga Champions di kandang sendiri vs PSG, Madrid jelas bermain sangat defensif. Komentator TV berulang kali bilang, seolah PSG yang menjadi tuan rumah, bukan Madrid. Hasil akhirnya? Ya, 1-0 untuk Madrid.

Sayangnya, Benitez tidak konsisten. Saat El Clasico (vs Barcelona) di kandang sendiri, dia mencoba mengejutkan semua orang (termasuk Barca dan pendukung Madrid) dengan memasang formasi yang sangat menyerang. Sayangnya lagi, Benitez melakukan itu di saat yang salah! Madrid menjadi bulan-bulanan Barcelona dan kalah 0-4 karena terlalu banyak lubang di lapangan tengah karena tak ada yang berfungsi sebagai gelandang bertahan.

Andaikan Benitez lebih jujur dan tidak bersembunyi di balik statistik, ceritanya mungkin akan berbeda. Maksudnya, bisa saja dia dipecat, tapi setidaknya itu terjadi setelah meraih gelar seperti Capello.

4. Sukses di suatu tempat bukan jaminan sukses di tempat lain, apalagi kalau anda sebenarnya tidak benar-benar sukses

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun