Mohon tunggu...
Edward EfendiSilalahi
Edward EfendiSilalahi Mohon Tunggu... Dosen Manajemen di Universitas 17 Agustus 45 Jakarta

Menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mandiri dan berkelanjutan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kemampuan Berwirausaha

17 Januari 2020   15:33 Diperbarui: 17 Januari 2020   15:28 68 1 0 Mohon Tunggu...

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di pedesaan pada bulan Maret tahun 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,03 % poin menjadi 4,04 % dari Maret tahun sebelumnya yang sebesar 3,72 %.

Direktur riset center of reform on economics (core) Indonesia,Pieter Abdullah mengatakan adanya peningkatan TPT di pedesaan ini menegaskan pekerjaan sebagai petani yang semakin tidak diminati.

" Penduduk desa khususnya para pemuda semakin tidak tertarik untuk bekerja mengolah sumber daya utama di pedesaan yaitu pertanian.Sebab sektor pertanian tidak menjanjikan kehidupan yang lebih baik terutama di era digital saat ini," jelas Pieter Abdullah kepada Kontan.co.id, Selasa (6/6).

Berdasarkan data BPS, dari sisi lapangan pekerjaan, sektor pertanian di Maret 2019, turun sebesar 0,89% poin secara year to year, di Maret 2019, dari 124,01 juta orang pekerja, 28,79 % bekerja pada sektor pertanian.

Sementara, di Maret 2018,dari 121,02 juta penduduk bekerja, terdapat 29,69 % yang bekerja disektor pertanian. Lebih lanjut disebutkan, lahan pertanian yang semakin berkurang karena perkembangan kota semakin memperburuk keadaan. Lahan-lahan pertanian terutama dipinggiran kota beralih fungsi menjadi lahan pemukiman.

Ditengah-tengah pergeseran tersebut, pembangunan di pedesaan sangatlah lambat untuk bisa menyediakan lapangan kerja di luar sektor pertanian. Industri terkonsentrasi di kota atau pinggiran kota. Angkatan kerja di desa terjebak dalam kondisi tidak lagi jadi petani dan tidak ada peluang bekerja diluar sektor pertanian." Jadilah mereka pengangguran," ungkap Pieter.

Sementara adanya penyaluran dana desa belum cukup efektif menampung seluruh angkatan kerja di desa. Terlebih dari dana yang dianggarkan Rp 60 triliun, dana yang didapatkan masing-masing desa kecil, atau tak mencapai Rp 1 miliar. Tak hanya itu ,program inipun baru berjalan 3 (tiga) tahun.

Dalam kondisi demikian Kepala Desa harus benar-benar pandai memanfaatkan dana desa yang betul-betul padat karya sehingga bisa menyerap tenaga kerja atau melibatkan berbagai instansi untuk menciptakan pengusaha kecil menengah di pedesaan.

Mencermati kondisi demikian tersebut pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2019, fakultas ekonomi dan bisnis Universitas 17 Agustus 1945-Jakarta menugaskan Dr.Edward Efendi Sialahi, MM sebagai dosen FEB untuk melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Kiarapandak,  Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dengan Surat Tugas nomor : 054/LPPM-UTA'45/ST/VIII/2019. Adapun pemilihan lokasi tersebut adalah dengan pertimbangan bahwa Desa Kiarapandak berlokasi dipinggiran Kota Kecamatan Sukajaya, yang berjarak dari kota Bogor kurang lebih 25 (dua puluh lima) kilometer.

Materi pengabdian kepada masyarakat tersebut adalah bertemakan "pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan dalam berwirausaha". Kegiatan ini dilaksanakan 2 (dua) hari berturut-turut yakni tanggal 12 dan 13 Agustus 2019 dan dibagi dalam 2 (dua) sesi.

Sesi pertama adalah tanggal 12 Agustus 2019, para wanita dewasa di desa Kiarapandak diberikan semacam pelatihan menjadi wirausaha dengan memanfaatkan produk-produk spesifik yang terdapat disekitar pedesaan. Instruktur pelatihan ini dan materi programnya diberikan oleh Dr. Edward Efendi Silalahi dibantu oleh petugas dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Bogor, atas kerjasama antara Universitas 17 Agustus 1945-Jakarta dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Adapun jumlah peserta pelatihan sebanyak 18 (delapan belas) wanita dewasa Desa Kiarapandak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN